Berbagai hidangan tradisional yang telah diwariskan turun-temurun menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan.
Salah satu hidangan ikonik dari Sarugo adalah Gulai Baluik dalam Tampuruang. Masakan berbahan dasar ikan baluik ini disajikan di dalam tempurung kelapa yang masih utuh, memberikan aroma khas dan cita rasa yang unik.
Gulai Baluik dalam Tampuruang ini sudah turun temurun dari nenek moyang dan telah hadir lebih kurang ratusan tahun yang lalu, memberikan kombinasi rempah-rempah yang pas membuat gulai baluik menjadi hidangan menggugah selera.
Selain gulai baluik, ada pula Tumbuak Maba, sebuah hidangan sejenis rujak yang terbuat dari putik buah nangka muda. Perpaduan rasa asam, pedas, dan manis pada tumbuak maba menjadikannya hidangan yang segar dan cocok dinikmati saat cuaca panas.
Uniknya, tumbuak maba telah menjadi bagian dari tradisi masyarakat Sarugo selama ratusan tahun dan sering disajikan sebagai hidangan pemersatu dalam berbagai acara.
Bagi pencinta kuliner yang lebih berani, Randang Jangkang bisa menjadi pilihan menarik. Jangkang, sejenis tanaman yang tumbuh liar di hutan, diolah menjadi campuran rendang. Perpaduan daging atau ayam dengan jangkang menghasilkan cita rasa yang khas dan unik.
Tidak hanya hidangan berat, Sarugo juga memiliki cemilan tradisional yang tak kalah lezat, yaitu Ampiang Layu-Layu. Cemilan yang telah hadir kurang lebih ratusan tahun ini terbuat dari padi muda dan kelapa, menghasilkan tekstur yang renyah dan rasa yang gurih.
Ampiang layu-layu telah menjadi makanan favorit masyarakat Sarugo, terutama bagi ibu hamil.
Keberadaan kuliner tradisional di Kampung Wisata Sarugo merupakan kekayaan budaya yang perlu dilestarikan. Setiap hidangan memiliki cerita dan sejarah tersendiri yang mencerminkan kehidupan masyarakat setempat.
Dengan terus melestarikan dan mengembangkan kuliner tradisional, Kampung Wisata Sarugo tidak hanya menjadi destinasi wisata yang menarik, tetapi juga berkontribusi dalam pelestarian warisan budaya. (*)
Editor : Adetio Purtama