Laporan RIAN AFDOL, Tanahdatar—
Salah satu kawasan wisata berbasis alam yang menonjol terletak di Jorong Kotogadih, yang menyuguhkan pemandangan alam yang luar biasa.
Hamparan sawah yang membentang luas berpadu dengan panorama dua gunung sekaligus: Gunung Marapi di satu sisi dan Gunung Bungsu di sisi lainnya. Nuansa asri dan udara yang sejuk menjadikan tempat ini favorit bagi pengunjung yang ingin bersantai ataupun beraktivitas fisik.
Hanya berjarak sekitar lima kilometer dari pusat Kota Batusangkar, kawasan ini mudah dijangkau dalam waktu sekitar 15 menit menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat.
Jalan menuju lokasi ini dalam kondisi baik, menambah kenyamanan pengunjung yang ingin menikmati akhir pekan atau waktu luang mereka.
Bukan hanya bersantai, banyak pengunjung memanfaatkan kawasan ini untuk bermaraton atau berjalan santai, terutama saat pagi dan sore hari. Udara segar serta pemandangan alam yang menyegarkan menjadi alasan utama kawasan ini ramai dikunjungi.
“Pemandangannya bagus dan udaranya asri. Tempat ini sangat cocok untuk marathon. Paling ramai tentu pagi dan sore hari,” ujar Fernando, salah satu pengunjung yang ditemui di lokasi, Kamis (12/6).
Menambah kenyamanan, kawasan ini juga telah dilengkapi dengan sejumlah kafe yang menawarkan tempat bersantai sambil menikmati suasana alam terbuka.
Kehadiran fasilitas ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang menginginkan pengalaman lebih santai dan nyaman.
Tak jauh dari Jorong Kotogadih, sekitar satu kilometer dari kawasan tersebut, terdapat destinasi wisata sejarah Batu Batikam, yang menjadi ikon budaya dan sejarah masyarakat Minangkabau. Batu Batikam adalah situs penting yang berkaitan dengan sejarah kelahiran sistem pemerintahan adat Minangkabau.
Baca Juga: PLN Gerakkan 12.795 Pegawai dalam Aksi Bersih Sampah Serentak di 56 Lokasi
Di lokasi ini, pengunjung dapat menyaksikan Medan nan Bapaneh, sebuah arena musyawarah yang digunakan para tetua adat Minangkabau masa lalu.
Medan ini ditandai dengan susunan batu yang digunakan sebagai tempat duduk, tertata rapi dalam lingkaran yang menunjukkan struktur diskusi kolektif ala masyarakat adat.
Di pusat lingkaran batu tersebut, berdiri Batu Batikam, sebuah batu dengan tinggi sekitar 55 cm, lebar 45 cm, dan ketebalan 20 cm.
Keunikan batu ini terletak pada lubang di bagian tengahnya, yang diyakini sebagai simbol penolakan kekerasan oleh para pendiri sistem adat, yakni Datuak Parpatiah nan Sabatang dan Datuak Katumangguangan, ketika mereka menetapkan dasar kelarasan Bodi Chaniago dan Koto Piliang.
Batu tersebut dinaungi oleh sebatang pohon beringin besar, yang memberikan nuansa teduh dan sakral di lokasi tersebut. Tidak jauh dari situs ini juga terdapat kuburan kuno dengan batu nisan melengkung yang mengelilingi makam, menambah kekayaan historis kawasan ini.
“Kaya dengan nilai sejarah. Selain melihat Batu Batikam itu sendiri, di sini kita bisa melihat Medan Bapaneh yang menjadi tempat berdiskusinya orang-orang terdahulu,” kata Afrianto, pengunjung lainnya yang ditemui di lokasi yang sama, Kamis (12/6).
Afrianto menegaskan pentingnya pelestarian situs-situs sejarah seperti Batu Batikam, tidak hanya sebagai tujuan wisata tetapi juga sebagai media edukasi dan penelitian sejarah.
“Nagari Limo Kaum punya banyak destinasi wisata dengan nilai sejarah yang kuat. Karena itu menurut saya harus tetap dijaga dengan baik agar bisa diakses oleh kita dan generasi yang akan datang baik fisiknya maupun narasinya,” tutupnya. (*)
Editor : Adetio Purtama