Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Dijual di Samping Masjid Raya Sumbar, Lamang Jadi Incaran Pemburu Kuliner Tradisional

M. Fikri Al Fateh • Selasa, 28 Oktober 2025 | 22:01 WIB

Salah seorang pedagang lamang tapai di sekitaran Masjid Raya Sumbar, Kota Padang, Dwi Kurnia Lestari.
Salah seorang pedagang lamang tapai di sekitaran Masjid Raya Sumbar, Kota Padang, Dwi Kurnia Lestari.
PADEK.JAWAPOS.COM—Di tengah maraknya makanan cepat saji, kuliner tradisional Minangkabau lamang masih bertahan dan diminati masyarakat.

Makanan berbahan dasar beras ketan dan santan ini banyak dijumpai di Kota Padang, salah satunya di kawasan Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi.

Salah seorang pedagang, Dwi Kurnia Lestari (29), mengatakan proses pembuatan lamang membutuhkan waktu hingga tiga jam.

Ketan dicampur santan kental, lalu dimasukkan ke dalam bambu yang telah dilapisi daun pisang dan dibakar perlahan di atas bara api.

“Jenis lamang yang saya jual terdiri atas lamang tapai, lamang pisang, lamang puluik, lamang itam, dan lamang ubi. Prosesnya lumayan lama, dari membersihkan ketan sampai membakar di tungku,” kata Dwi saat ditemui di lokasi, Selasa (28/10/2025).

Menurut Dwi, penjualan lamang meningkat saat akhir pekan, bulan Ramadan, dan menjelang Lebaran. Banyak wisatawan yang datang ke Masjid Raya Sumatera Barat membeli lamang untuk dibawa pulang.

“Kadang ada pembeli dari luar kota, ada juga yang beli buat oleh-oleh,” ujarnya.

Harga lamang yang dijual di kawasan tersebut berkisar Rp15.000 per porsi. Biasanya disajikan bersama tapai hitam, hasil fermentasi ketan yang memiliki rasa manis dan sedikit asam.

Kombinasi rasa gurih lamang dan manis segar tapai menciptakan cita rasa khas yang sulit ditemukan pada makanan modern.

Salah seorang pembeli, Intan (30), mengatakan dirinya membeli lamang untuk orang tuanya yang gemar menikmati kuliner tradisional.

“Saya suka lamang karena rasanya unik dan mengingatkan pada makanan zaman dulu,” katanya.

Meski menghadapi tantangan modernisasi, lamang tetap menjadi bagian penting dalam budaya Minangkabau.

Dalam tradisi setempat, lamang sering dihidangkan pada acara adat dan perayaan hari besar Islam.

Selain menjadi kuliner khas, lamang juga memiliki makna simbolis. Proses memasaknya yang panjang dan hati-hati menggambarkan nilai kesabaran dan ketekunan masyarakat Minangkabau dalam mempertahankan tradisi leluhur di tengah perkembangan zaman.(M Fikri Alfateh/CR5)

Editor : Hendra Efison
#masjid raya sumbar #tapai hitam #lamang Padang #makanan tradisional #kuliner Minangkabau