Kawasan Kota Tua Padang—yang dulu dikenal sebagai Padang Lama—kini menjadi ruang pertemuan antara masa lalu dan masa kini.
Tempat di mana cerita kejayaan pelabuhan, akulturasi budaya, dan denyut kehidupan modern berpadu dalam satu lanskap yang menawan.
Secara geografis, kawasan ini berada hanya sekitar 4,2 kilometer dari pusat Kota Padang.
Dahulu, wilayah ini hanyalah dataran rendah berhutan lebat. Namun, seiring kedatangan perantau Minangkabau dari daerah darek, kehidupan mulai tumbuh di tepi sungai.
Kampung pertama berdiri di pinggir selatan Batang Arau, wilayah yang kini dikenal sebagai Seberang Pebayan.
Jejak Sejarah di Muara Batang Arau
Sejarah mencatat, pada abad ke-14, Kerajaan Pagaruyung menjalin kerja sama dagang dengan pesisir barat. Sejak itu, Padang tumbuh menjadi perkampungan nelayan di bawah pengaruh Kerajaan Aceh.
Namun, tahun 1663 menjadi titik balik besar: pedagang Belanda (VOC) datang, membangun pelabuhan, dan mengubah wajah Batang Arau menjadi simpul perdagangan internasional.
“Padang saat itu adalah pelabuhan terbesar di Sumatra Barat, bahkan menjadi pusat ekspor penting di pantai barat Sumatra hingga tahun 1966,” tulis sejarawan lokal dalam arsip kolonial.
Jejak masa kejayaan itu masih jelas terlihat dari bangunan-bangunan berarsitektur kolonial yang berdiri kokoh hingga kini.
Salah satu yang paling ikonik adalah Gedung Geo Wehry & Co, dibangun pada 1911. Bangunan bekas gudang penyimpanan itu kini direstorasi tanpa menghilangkan bentuk aslinya, menjadi ruang publik yang hidup kembali. Banyak bangunan tua serupa kini menjelma menjadi kafe, galeri, dan pusat kegiatan seni.
Baca Juga: Sunyi di Lorong Pasar Raya: Pedagang Bertahan di Tengah Sepinya Pembeli
Warisan Budaya Multi-Etnis
Kota Tua Padang tidak hanya bercerita tentang perdagangan dan kolonialisme, tetapi juga tentang keragaman budaya. Kawasan ini dahulu menjadi tempat berlabuh berbagai etnis: Minangkabau, Tionghoa, Nias, dan India—empat komunitas yang hidup berdampingan dengan harmonis.
Di tengah kawasan, berdiri megah Klenteng See Hin Kiong, dibangun pada tahun 1841. Klenteng ini bukan sekadar rumah ibadah, tetapi simbol persilangan tiga peradaban: Indonesia, Tionghoa, dan India.
Warna merah yang mendominasi dindingnya kontras dengan langit biru Padang, menciptakan panorama yang ikonik di antara bangunan kolonial putih yang berjajar.
Romantika Senja di Batang Arau
Menjelang sore, kawasan ini berubah suasana. Langit berwarna oranye, air sungai memantulkan cahaya senja, dan kapal-kapal kecil bersandar di tepi pelabuhan.
Pelabuhan Muaro, yang dahulu sibuk dengan aktivitas ekspor-impor, kini menjadi titik berangkat kapal menuju Kepulauan Mentawai.
“Suasananya berbeda dan bersejarah. Saya suka melihat kapal-kapal yang berlabuh di tepi sungai,” ujar Ricky Purba (29), wisatawan asal Medan yang datang untuk berwisata setelah urusan kerja.
Tak jauh dari pelabuhan, aroma jagung bakar, sate, dan kopi mengisi udara malam. Para wisatawan duduk di tepi sungai, menikmati angin laut dan gemerlap lampu Jembatan Siti Nurbaya yang menjulang di kejauhan.
Menyatu dengan Masa Lalu
Kini, Kota Tua Padang menjadi saksi perjalanan panjang kota pesisir ini. Setiap lorong, setiap dinding tua, menyimpan cerita tentang perdagangan, pelayaran, dan perjumpaan budaya.
Di tengah modernisasi yang kian cepat, kawasan ini tetap bertahan sebagai ruang refleksi—tempat di mana sejarah tidak hanya diingat, tetapi juga dihidupkan kembali. (cr3)
Editor : Hendra Efison