Berjarak sekitar 17-20 kilometer dari pusat kota, lokasi ini dapat dikunjungi tanpa retribusi masuk.
Pantai ini memiliki hamparan pasir putih bercampur cokelat kehitaman dengan ombak yang relatif tenang, sehingga nyaman untuk aktivitas berenang dan bersantai.
Keberadaan Jambak Sea Turtle Camp, konservasi penyu yang dikelola masyarakat sejak 2014, menjadi daya tarik tambahan bagi wisatawan.
Jambak Sea Turtle Camp, yang dipimpin Ketua Pokdarwis Pasir Jambak, Pati Hariyose (47), menjadi pusat edukasi lingkungan melalui perlindungan penyu, program adopsi dan pelepasan tukik, serta penanaman mangrove.
Darmansyah (57), pedagang yang berjualan di kawasan pantai sejak 2004, menyebut Pasir Jambak sudah ramai dikunjungi sejak 1980-an.
Ia mengatakan mayoritas pengunjung berasal dari Kota Padang, sementara wisatawan dari Riau, Solok, Payakumbuh, Jambi, dan daerah lain memadati kawasan ini pada akhir pekan dan hari libur.
Omzet hariannya berkisar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu, namun dapat meningkat hingga Rp2 juta hingga Rp3 juta saat libur.
Ia menilai peningkatan edukasi sadar wisata bagi masyarakat masih diperlukan. Darmansyah juga berharap adanya ikon wisata tambahan dan wahana pendukung dari Pemerintah Kota Padang.
Dari sisi pengunjung, sejumlah catatan turut disampaikan. Rahmat Andani (23), mahasiswa dari UNP, menilai kawasan pantai nyaman dan tenang, namun masih terdapat sampah dan praktik pungutan liar.
Selain menyajikan keindahan pantai, Pasir Jambak menawarkan berbagai aktivitas seperti bersantai di gazebo swadaya masyarakat, berkendara ATV, berkuda, hingga menikmati senja.
Penguatan kebersihan dan kesadaran wisata dinilai penting untuk mengoptimalkan potensi kawasan ini seiring berkembangnya kegiatan konservasi penyu sebagai daya tarik utama.(CR3)
Editor : Hendra Efison