Sungai Batang Air Dingin meluap hebat akibat curah hujan ekstrem di wilayah hulu, membawa lumpur dan kayu gelondongan yang menghancurkan segala sesuatu di sepanjang aliran sungai.
Irwan Yunus (54), warga terdampak, menyebut Lubuk Lukum bukan hanya tempat wisata, tetapi juga sumber mata pencaharian masyarakat setempat.
"Ini duka yang sangat mendalam bagi kami. Lubuk Lukum ini bukan hanya tempat wisata, tapi ini tempat kami mencari makan," ujarnya, Sabtu (29/11/2025).
Sebelum bencana, Lubuk Lukum menjadi tujuan favorit ratusan pengunjung setiap akhir pekan.
Pengunjung bisa berenang, berinteraksi dengan ribuan Ikan Larangan (Tor tambroides), dan menikmati suasana “Ngafe di Tengah Sungai” di warung-warung sederhana di tepi sungai.
Namun banjir kini menelan seluruh pondok santai, warung, dan fasilitas parkir.
Irwan menambahkan, kerugian materi bagi warga yang bergantung pada wisata ini sangat besar.
"Warung-warung di pinggir sungai sudah hilang semua. Tukang parkir, ibu-ibu yang jual makanan, semua kehilangan mata pencarian. Kehilangan lahan pencaharian ini sama dalamnya dengan rasa duka jika ada korban jiwa," tegasnya.
Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat menyadari proses pemulihan akan sulit dan membutuhkan biaya besar.
Irwan dan warga berharap Pemerintah Kota Padang dan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat segera turun tangan memberikan bantuan rehabilitasi.
"Kami berharap Pemerintah dapat membantu membangun kembali objek wisata ini agar kembali hidup dan menjadi daya tarik Kota Padang," ujarnya.
Meski penuh harapan, warga juga realistis menghadapi tantangan besar, termasuk perubahan drastis kondisi sungai dan tepian Jambak, yang akan mempersulit proses pemulihan objek wisata.
"Kondisi sungai dan tepian Jambak saat ini sudah sangat berubah. Ini akan jadi tantangan tersendiri dalam proses pemulihannya," tutup Irwan.(Cr3)
Editor : Hendra Efison