Kapalo Banda Taram menawarkan aliran sungai yang jernih, hutan pinus yang terjaga, serta lanskap perbukitan alami.
Kondisi ini dipertahankan melalui pengelolaan berbasis kesadaran masyarakat nagari.
Pengelolaan kawasan dilakukan secara bertahap dan terkontrol oleh masyarakat bersama kelompok sadar wisata.
Baca Juga: Polda Sumbar Tertibkan PETI, 21 Terduga Pelaku Diamankan di Pasaman Barat
Pembangunan fisik dibatasi agar tidak mengubah karakter alami kawasan.
Fasilitas wisata disediakan secukupnya sesuai kebutuhan pengunjung dan kondisi alam.
Pengelola menghindari pembangunan permanen yang berpotensi merusak lingkungan.
Salah satu wahana utama adalah rakit bambu yang memanfaatkan aliran sungai tanpa mesin.
Wahana ini tidak menimbulkan pencemaran air maupun kebisingan.
Baca Juga: Porprov Sumbar XVI 2026 Diundur ke Oktober, Seluruh Daerah Sepakat Ikut
Selain itu, kawasan Hutan Pinus Wakanda dikelola sebagai ruang terbuka hijau.
Jalur pejalan kaki dan area istirahat disesuaikan dengan kontur alam setempat.
Aktivitas wisata ATV dan Jeep Tour diarahkan ke jalur khusus yang telah ditentukan.
Pengaturan ini bertujuan meminimalkan dampak terhadap vegetasi dan kawasan resapan air.
Baca Juga: Pembebasan Lahan Flyover Sitinjau Lauik, Suku Jambak Pertanyakan Klaim Tanah di Penlok 10–11
Pengelola bersama masyarakat juga menyediakan fasilitas pengelolaan sampah dan mengimbau pengunjung menjaga kebersihan kawasan wisata.
“Tempatnya masih alami dan bersih. Tidak banyak bangunan,” kata Fajri (39), wisatawan asal Bukittinggi, saat berkunjung ke Kapalo Banda Taram.
Fotografer alam, Adam (25), menilai kualitas lanskap kawasan tersebut masih terjaga. “Hutannya utuh dan tidak terganggu bangunan,” ujarnya.
Dampak ekonomi juga dirasakan pelaku usaha lokal. Ijeh (44), pelaku UMKM setempat, menyebut pengelolaan kawasan yang tertib membuat wisatawan nyaman berkunjung.
Pemerintah nagari bersama masyarakat terus membahas setiap rencana pengembangan wisata agar tetap sejalan dengan prinsip ramah lingkungan.(CR7)
Editor : Hendra Efison