Becak tersebut menjadi bengkel berjalan milik Pak Mawi (66), tukang sol sepatu keliling yang telah menekuni profesinya selama enam tahun terakhir.
Dengan peralatan sederhana berupa jarum, palu kecil, paku, benang nilon, serta potongan karet sol sepatu, Pak Mawi melayani perbaikan alas kaki dari pagi hingga senja.
Ia bekerja dengan tenang, sesekali menyapa warga yang datang memperbaiki sepatu dan sandal mereka.
Sebelum beralih profesi, Pak Mawi merupakan penjual baju anak-anak yang berjualan secara pekan-pekanan.
Usaha tersebut sempat menjadi sumber penghidupan utama keluarganya, sebelum akhirnya terdampak perubahan pola belanja masyarakat.
“Dulu jualan baju anak-anak, tapi sejak barang online masuk, usaha saya makin sepi,” ujar Pak Mawi, Selasa (16/12/2025).
Kondisi itu mendorongnya mencari pekerjaan lain untuk bertahan hidup. Ia kemudian belajar menjadi tukang sol sepatu dengan melihat langsung proses kerja seorang teman.
Berbekal kemampuan menjahit yang telah dimilikinya sejak muda, Pak Mawi memberanikan diri membuka jasa sol sepatu keliling dengan modal alat seadanya dan sebuah becak.
Pada awalnya, jumlah pelanggan masih terbatas. Namun, ia memilih bertahan dengan mengutamakan kerapian dan kejujuran dalam bekerja agar hasil perbaikan memuaskan pelanggan.
“Kalau hasilnya bagus, biasanya pelanggan datang kembali,” katanya.
Selama enam tahun berkeliling, berbagai jenis sepatu dan sandal telah ia perbaiki.
Baca Juga: Gianluigi Donnarumma Dinobatkan sebagai Kiper Terbaik Dunia FIFA The Best 2025
Di tengah terik matahari maupun hujan, Pak Mawi tetap menjalani pekerjaannya demi memenuhi kebutuhan keluarga.
“Ini pekerjaan terakhir bagi saya di usia yang sudah tua ini, hanya untuk bertahan hidup,” ucapnya.
Di atas becak sederhananya, Pak Mawi menjadi potret ketekunan pekerja informal yang terus berjuang menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.(CR6)
Editor : Hendra Efison