Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Pasca Bencana 2025, Inflasi Pasaman Barat Tembus 7,09 Persen, Pertanian Jadi Sektor Paling Terdampak

Fadli Zikri • Kamis, 22 Januari 2026 | 19:00 WIB

Inflasi Pasaman Barat mencapai 7,09 persen pascabencana 2025, dipicu kerusakan sektor pertanian dan lonjakan harga pangan menjelang Ramadhan.
Inflasi Pasaman Barat mencapai 7,09 persen pascabencana 2025, dipicu kerusakan sektor pertanian dan lonjakan harga pangan menjelang Ramadhan.
PADEK.JAWAPOS.COM—Bencana alam yang melanda Kabupaten Pasaman Barat sepanjang 2025 berdampak signifikan terhadap perekonomian daerah, salah satunya ditandai dengan lonjakan inflasi hingga 7,09 persen pada Desember 2025.

Kondisi tersebut disampaikan Wakil Bupati Pasaman Barat, M. Ihpan, dalam High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Sumatera Barat Triwulan I Tahun 2026 di Aula Anggun Nan Tongga, Kantor Perwakilan Bank Indonesia, Kamis (22/1/2026).

Forum ini digelar untuk mengantisipasi tekanan inflasi menjelang Ramadhan dan Idul Fitri 2026, sekaligus membahas pemulihan ketahanan pangan pascabencana di sejumlah daerah Sumatera Barat.

Ihpan memaparkan, bencana alam terjadi hampir di seluruh kecamatan di Pasaman Barat.

Kabupaten dengan luas wilayah 3.864,02 kilometer persegi dan jumlah penduduk 457.803 jiwa pada Semester I 2025 itu tercatat seluruh kecamatannya terdampak.

“Berdasarkan data per 29 Desember 2025, sekitar 1.005 hektare lahan pertanian dan 12.071,5 hektare lahan perkebunan terdampak bencana,” ujar M. Ihpan.

Total kerusakan dan kerugian pascabencana di Pasaman Barat mencapai Rp51,36 miliar.

Kerugian terbesar berasal dari subsektor pertanian sebesar Rp47,27 miliar, mencakup kerusakan sawah seluas 522 hektare di 10 kecamatan serta lahan jagung 81 hektare di enam kecamatan, termasuk prasarana pertanian.

Subsektor perikanan mencatat kerugian sekitar Rp2 miliar akibat hanyutnya sekitar 20 ton ikan siap panen milik satu kelompok pembudidaya di lahan seluas 3 hektare.

Sementara subsektor peternakan mengalami kerugian Rp281,5 juta akibat ternak kambing tertimbun longsor serta ternak sapi dan kerbau hanyut.

Pada sektor perdagangan, satu los pasar di Kecamatan Ranah Batahan mengalami kerusakan dengan nilai kerugian sekitar Rp140 juta.

Sub sektor koperasi dan UMKM terdampak pada 636 unit kios di lima kecamatan dan tujuh nagari, dengan total kerugian Rp1,66 miliar.

Ihpan menjelaskan, dampak lanjutan bencana terlihat pada lonjakan harga pangan selama Desember 2025.

Cabai merah naik 46,67 persen, cabai rawit 45 persen, bawang merah 38 persen, daging ayam 14 persen, dan telur ayam 24 persen, sementara harga beras relatif stabil.

“Inflasi year on year Pasaman Barat pada Desember 2025 mencapai 7,09 persen dengan Indeks Harga Konsumen 115,17. Ini merupakan angka tertinggi sejak Pasaman Barat ditetapkan sebagai daerah IHK di Sumatera Barat,” katanya.

Ia menambahkan, inflasi dipicu curah hujan tinggi sejak September hingga puncaknya pada November 2025 yang menyebabkan banjir, gangguan transportasi, serta kerusakan lahan pangan.

Kondisi tersebut berdampak besar karena Pasaman Barat merupakan daerah konsumen yang bergantung pada pasokan pangan dari luar wilayah. (Cr6)

 

Editor : Hendra Efison
#Inflasi Pasaman Barat #Harga pangan pascabencana #Bencana Alam 2025 #TPID Sumatera Barat