Meski jasad korban sudah diketahui keberadaannya, namun curah hujan tinggi, debit air yang besar dan ekstrimnya lokasi medan pencaharian, membuat proses evakuasi menjadi terkendala.
Afif diketahui terpeleset dan jatuh ke dasar air terjun objek wisata Bayang Aia pada Minggu (13/11), saat piknik bersama 19 orang teman satu sekolahnya.
Keberadaan jasad korban sebenarnya sudah diketahui sejak Senin hari ke dua pasca Afif terjatuh, oleh masyarakat dan pihak keluarga yang mencari keberadaan korban.
Seperti diutarakan Agus (45) pemilik warung di Bayang Aia, bahwa Afif terjatuh dari ketinggian dan sempat terbentur ke tebing batu dua kali, hingga akhirnya terjerembab ke sungai, di lokasi turunnya aliran air terjun Bayang Aia di perbukitan Murai Tinggi.
Hari minggu itu juga, teman-teman korban bersama warga yang berada di lokasi sempat melakukan pencaharian. Namun hingga menjelang maghrib, korban tak ditemukan.
Sebenarnya pada H+2 Senin, warga sudah menemukan jasad Afif, di kedalaman sekitar 3 atau 4 meter, tak jauh dari lokasi jatuhnya. Namun tubuhnya tidak bisa dievakuasi, lantaran kakinya tersangkut di dahan kayu di dalam sungai.
"Benar, sejak hari Senin tubuh Afif sudah terlihat di kedalaman 3 meteran, tidak jauh dari lokasi jatuhnya. Namun kaki korban tersangkut di dahan kayu di dalam sungai, sementara kepalanya mengarah ke bawah, ke dasar sungai," terang Agus.
"Dan sejak proses pencarian serta evakuasi dilakukan, curah hujan di kawasan itu tak kunjung berhenti, sehingga debit air sungai menjadi tinggi. Inilah faktor utama yang menghambat proses evakuasi, di samping sarana prasarana juga kurang memadai," timpal Wali Nagari Pauah, Dedi Rahmadhani, di lokasi pencaharian kawasan Murai Tinggi.
Namun di hari keempat, Rabu, Tim gabungan yang dikomandoi Sekdakab Mara Ondak, yang juga Kepala BPBD Kabupaten Pasaman, bersama Tim SAR, BPBD, TNI Polri, Club Pencinta Alam Sumbar, relawan, masyarakat dan pihak keluarga korban, langsung terjun ke lokasi melakukan proses evakuasi jasad korban Afif.
Di tengah gerimis rada lebat Rabu pagi, tampak puluhan personil tim gabungan, dilengkapi katrol dan tali kawat (sling) milik PLN Lubuk Sikaping, bergerak dari Sungai Bayang Aia menuju perbukitan Murai Tinggi yang berjarak tempuh sekitar 2 Km.
Kendati hanya 2 Km, namun rute yang dilalui cukup ekstrim, menanjak, berbatu, licin dan berlumut, apalagi di tengah cuaca hujan rintik.
"Kita berupaya semaksimal mungkin, jasad Afif bisa dievakuasi hari ini," ujar Mara Ondak, usai memberikan arahan singkat pada Tim Gabungan yang hendak bertolak dari titik kumpul Bayang Aia.
Diungkapkan Sekda, bahwa posisi korban sudah ditemukan di tengah-tengah air terjun dan kondisinya kemarin telah diikat serta distabilkan, agar tidak hanyut lebih dalam.
Dijelaskan juga, tim hari ini membawa sejumlah peralatan berupa katrol dan sling, guna mengangkat kayu kayu besar yang menghalangi evakuasi.
"Mohon doanya, semoga tubuh Afif bisa kita evakuasi dan diserahkan kembali kepada pihak keluarga," ujar Sekda.
Namun hingga Rabu sore, proses evakuasi masih terus berlangsung, dan hujan lebat juga terus mengguyur kawasan perbukitan, di kaki gugusan Bukit Barisan itu.(*) Editor : Hendra Efison