Hanya satu hingga dua kendaraan yang singgah. Sebagian besar area terminal telah digunakan sebagai tempat berjualan oleh pedagang.
Sekitar 10 hingga 15 tahun lalu, Terminal Sago Petak menjadi pusat pergerakan angkutan kota dan sago.
Terminal ini melayani rute Limbukan, Koto Nan Ampek, Koto Nan Godang, Air Tabit, Mudiak, hingga Payobasuang.
Seiring berkurangnya angkutan kota, aktivitas transportasi di terminal terus menurun. Area keluar-masuk kendaraan yang sebelumnya padat kini jarang digunakan.
Eka (45), pedagang di kawasan terminal, mengatakan perubahan terjadi bersamaan dengan berkurangnya jumlah angkutan yang masuk.
“Sekarang angkot sudah jarang. Kalau tidak dipakai berjualan, tempat ini kosong,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Jaya (42), pedagang lainnya. Ia mulai berjualan setelah melihat banyak ruang terminal tidak lagi digunakan untuk aktivitas transportasi. “Dulu semua untuk angkot. Sekarang sudah tidak ada,” katanya.
Menurut Jaya, perubahan fungsi berlangsung tanpa penataan resmi. Ruang terminal dimanfaatkan secara bertahap oleh warga untuk aktivitas ekonomi.
Riski (25), warga sekitar, menilai kondisi tersebut dipengaruhi perubahan pola transportasi.
Ia menyebut meningkatnya kendaraan pribadi dan layanan transportasi berbasis aplikasi mengurangi ketergantungan masyarakat pada terminal.
“Sekarang orang lebih mudah menggunakan transportasi online. Tidak perlu datang ke terminal,” ujarnya.
Pantauan di lapangan menunjukkan Terminal Sago Petak kini lebih banyak dimanfaatkan untuk kegiatan non-transportasi.
Fungsi terminal sebagai fasilitas publik transportasi tidak lagi berjalan sebagaimana sebelumnya. (CR7)
Editor : Hendra Efison