Warga memadati pusat thrifting serba Rp35 ribu di kawasan Simpang Kasda, Senin (9/2/2026), untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga secara hemat.
Pantauan sejak pagi hingga sore hari menunjukkan lonjakan pengunjung dari berbagai kalangan.
Ibu rumah tangga, keluarga muda, hingga anak-anak muda terlihat silih berganti memasuki toko thrifting tersebut.
Antrean Panjang Warnai Pusat Thrifting Simpang Kasda
Antrean panjang tampak mengular di depan pintu masuk toko. Di dalam area belanja, pengunjung sibuk memilah pakaian anak, kaos dewasa, tas, serta perlengkapan rumah tangga.
Rak-rak yang disusun rapi beberapa kali terlihat kosong akibat cepatnya perputaran barang.
Karyawan toko terlihat sigap mengisi ulang stok untuk memenuhi tingginya minat belanja masyarakat.
Harga seragam Rp35 ribu menjadi daya tarik utama bagi pengunjung. Konsep satu harga dinilai memudahkan konsumen mengatur anggaran, terutama saat kebutuhan rumah tangga meningkat menjelang Ramadan dan Idulfitri.
Salah seorang pengunjung, Dio (34), mengaku memilih thrifting sebagai solusi menekan pengeluaran keluarga.
Ia datang lebih awal agar leluasa memilih barang sebelum toko semakin ramai.
“Menjelang Ramadan kebutuhan biasanya bertambah. Dengan konsep thrifting seperti ini, saya bisa belanja lebih banyak tapi tetap hemat,” ujar Dio.
Thrifting Jadi Strategi Belanja Warga
Menurut Dio, belanja di pusat thrifting kini bukan lagi pilihan terakhir. Ia menilai kualitas barang yang tersedia masih layak pakai dan sesuai dengan kebutuhan keluarga.
Hal serupa disampaikan Afni (45), warga Payakumbuh Barat, yang tampak memilih peralatan dapur.
Ia menyebut thrifting menjadi alternatif cerdas untuk mengganti perlengkapan rumah tanpa biaya besar.
“Biasanya menjelang puasa banyak peralatan dapur yang perlu diganti. Di sini harganya pas dan barangnya masih bagus,” katanya.
Bagi kalangan anak muda, thrifting tidak hanya soal harga terjangkau. Rina (29) menyebut aktivitas ini telah menjadi bagian dari gaya hidup.
“Selain murah, banyak barang unik. Thrifting juga lebih ramah lingkungan karena barang dipakai ulang,” ujarnya.
Dampak Positif bagi Ekonomi Lokal
Ramainya pusat thrifting di Simpang Kasda turut berdampak pada perputaran ekonomi lokal.
Aktivitas jual beli yang meningkat menunjukkan daya beli masyarakat masih bergerak meski dengan pendekatan lebih hati-hati.
Pengelola toko terlihat mengantisipasi lonjakan pengunjung dengan menambah stok dan menata ulang barang secara berkala.
Karyawan terus melayani pembeli serta menjaga ketersediaan barang di rak.
Fenomena thrifting menjelang Ramadan mencerminkan perubahan perilaku konsumsi masyarakat Payakumbuh.
Warga kini tidak hanya mengejar kebutuhan, tetapi juga mempertimbangkan efisiensi dan nilai guna barang.(cr7)
Editor : Hendra Efison