Sejak pukul 07.00 WIB, masyarakat tumpah ruah di area pemakaman untuk membersihkan lingkungan dan mendoakan para leluhur.
Kegiatan ini tidak hanya diikuti warga yang berdomisili di Kubu Gadang, tetapi juga para perantau yang pulang kampung untuk bersilaturahmi dan mengikuti tradisi tahunan tersebut.
Sejumlah pemuka adat, ninik mamak, dan tokoh masyarakat turut hadir dan membaur bersama warga dalam suasana kebersamaan.
Goro difokuskan pada pembersihan rumput liar, perbaikan jalan setapak yang rusak, serta penataan lingkungan pandam agar lebih rapi dan asri menjelang bulan puasa.
Aksi tersebut dipandang sebagai simbol kesiapan diri dan lingkungan sebelum memasuki Ramadhan.
Tokoh masyarakat Kubu Gadang, Farizal M, yang hadir didampingi Sekretaris Dinas Perhubungan Kota Payakumbuh, Andy Malaway, menyampaikan apresiasi atas tingginya partisipasi warga tahun ini.
Ia menjelaskan bahwa meskipun kegiatan pembersihan makam rutin dilakukan setiap enam bulan, goro menjelang Ramadhan memiliki makna emosional yang lebih mendalam bagi masyarakat.
“Alhamdulillah, goro di Pandam Kapalo Bonda tahun ini cukup ramai. Ini bukan sekadar membersihkan rumput, tapi momentum bagi kami untuk saling mendoakan, bersilaturahmi, dan saling memaafkan sebelum memasuki bulan suci,” ujar Farizal di sela kegiatan.
Menurut Farizal, tradisi ini juga menjadi bagian dari upaya menjaga nilai adat dan memperkuat hubungan kekeluargaan di tengah perkembangan zaman yang terus berubah.
Ia menegaskan bahwa keterlibatan generasi muda dalam kegiatan tersebut dinilai penting untuk memastikan kesinambungan nilai-nilai kebersamaan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
“Kami ingin memastikan hubungan kekeluargaan ini tetap kuat dari generasi ke generasi. Inilah esensi dari adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah yang kita terapkan dalam kehidupan bermasyarakat,” katanya.
Hingga menjelang tengah hari, kegiatan goro dan ziarah ditutup dengan doa bersama di area pemakaman yang diikuti warga secara khidmat.
Suasana haru dan kebersamaan terasa sebelum masyarakat kembali ke rumah masing-masing untuk mempersiapkan diri menyambut datangnya Ramadhan 1447 H.
Tradisi ini kembali menegaskan peran ziarah dan gotong royong sebagai bagian dari identitas sosial masyarakat Kubu Gadang dalam menyambut bulan suci.(rid)
Editor : Hendra Efison