Sehari menjelang Ramadhan 2026, ia kembali menjalankan tradisi marandang dengan memasak rendang menggunakan tungku kayu sebagai persiapan menyambut bulan suci.
Sejak pagi, Zal mulai mengolah potongan daging yang telah dibumbui ke dalam santan kental bercampur rempah khas Minangkabau.
Proses memasak dilakukan perlahan selama berjam-jam hingga kuah menyusut dan berubah menjadi cokelat pekat, menandakan rendang matang sempurna.
Pantauan di lokasi menunjukkan Zal terus mengaduk isi kuali besar untuk menjaga santan tidak pecah dan memastikan bumbu meresap merata.
Ia mengatur besar kecil api secara konsisten agar daging tidak hangus dan tekstur tetap terjaga.
“Setiap mau Ramadhan, saya selalu marandang. Ini kebiasaan turun-temurun dari orang tua dulu. Rasanya ada yang kurang kalau tidak dilakukan,” ujar Zal di sela aktivitasnya.
Menurutnya, memasak rendang membutuhkan ketelatenan karena api tidak boleh terlalu besar dan santan harus terus diaduk agar tidak terpisah dari minyak alaminya.
Ia menegaskan proses yang terburu-buru akan memengaruhi kualitas hasil akhir.
“Kalau terlalu cepat, hasilnya tidak maksimal. Rendang itu memang harus dimasak dengan hati dan sabar,” katanya.
Istri Zal, Is (58), turut mendampingi selama proses memasak dengan menyiapkan santan tambahan serta memastikan racikan bumbu tetap seimbang.
Ia bertugas memeras santan, meracik bumbu, dan mencicipi rasa agar sesuai dengan selera keluarga.
“Masak rendang itu tidak bisa sembarangan. Takaran bumbu harus pas. Kalau kurang satu saja, rasanya berubah,” ujar Is.
Zal menyebut jumlah rendang yang dimasaknya cukup banyak untuk persediaan keluarga pada awal Ramadhan.
Sebagian rendang juga akan dibagikan kepada jamaah masjid sebagai bagian dari tradisi berbagi menjelang bulan puasa.
“Nanti ada yang dibawa ke masjid untuk makan bersama. Ini bentuk syukur karena masih diberi kesempatan bertemu Ramadhan,” jelasnya.
Rendang yang dimasak dibedakan tingkat kekeringannya sesuai kebutuhan konsumsi.
Sebagian dibuat sangat kering agar tahan lama untuk stok sahur dan berbuka, sementara sebagian lainnya dibiarkan sedikit berkuah atau kalio untuk disantap lebih awal.
Proses memasak berlangsung dari pagi hingga menjelang sore dengan aroma rempah menyebar hingga ke halaman rumah.
Zal menyatakan memilih memasak sendiri sebagai bagian dari kebiasaan keluarga yang telah dijalankan secara turun-temurun.
“Kalau beli memang praktis. Tapi marandang sendiri itu ada kenangan dan nilainya. Saya dulu belajar dari orang tua, sekarang saya yang jalankan,” tuturnya.
Menjelang sore, warna kuah semakin gelap dan mengental di dalam kuali. Zal berharap tradisi marandang tetap dikenal generasi berikutnya dan terus dijalankan sebagai bagian dari persiapan menyambut Ramadan.
“Semoga puasa tahun ini lebih baik dari sebelumnya. Kami mulai dengan niat baik dan usaha yang baik,” tutup Zal.(*)
Editor : Hendra Efison