Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Wali Kota Zulmaeta Dorong Sekolah Ramah Anak Lewat Literasi Digital dan Anti-Cyberbullying

Hendra Efison • Rabu, 15 Juli 2026 | 20:25 WIB
Kepala Diskominfo Kota Payakumbuh Kurniawan Syah Putra memberikan pembekalan literasi digital kepada peserta didik baru SMA Negeri 1 dan SMA Negeri 5 Payakumbuh saat kegiatan MPLS.
Kepala Diskominfo Kota Payakumbuh Kurniawan Syah Putra memberikan pembekalan literasi digital kepada peserta didik baru SMA Negeri 1 dan SMA Negeri 5 Payakumbuh saat kegiatan MPLS.

PADEK.JAWAPOS.COM – Wali Kota Payakumbuh Zulmaeta menegaskan komitmennya membangun sekolah ramah anak tidak hanya melalui pembinaan di lingkungan pendidikan, tetapi juga dengan membentuk budaya digital yang sehat, aman, dan bertanggung jawab di kalangan pelajar.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui pembekalan literasi digital yang diberikan Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Payakumbuh kepada ratusan peserta didik baru SMA Negeri 1 Payakumbuh dan SMA Negeri 5 Payakumbuh dalam rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), Rabu (15/7/2026).

Melalui Kepala Diskominfo Kota Payakumbuh Kurniawan Syah Putra, Zulmaeta menyampaikan bahwa penguatan literasi digital menjadi bagian penting dalam membentuk generasi yang cerdas, berkarakter, beretika, serta mampu memanfaatkan teknologi secara aman dan bertanggung jawab.

Kurniawan mengatakan pembekalan tersebut dirancang untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap peluang sekaligus risiko di ruang digital. Dengan pemahaman itu, pelajar diharapkan mampu memanfaatkan teknologi untuk belajar, berkarya, berkolaborasi, dan mengembangkan potensi diri.

"Media sosial harus menjadi ruang untuk belajar, berkarya, dan berprestasi, bukan tempat melakukan perundungan. Saring sebelum sharing," kata Kurniawan.

Waspada Hoaks dan Kejahatan Siber

Menurut Kurniawan, perkembangan teknologi digital membuka akses yang semakin luas terhadap ilmu pengetahuan, informasi, beasiswa, peluang usaha, pengembangan kreativitas, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam proses pembelajaran.

Namun, ia mengingatkan bahwa ruang digital juga menghadirkan berbagai ancaman, mulai dari hoaks, cyberbullying, penipuan daring, pencurian data pribadi, judi online, hingga beragam bentuk kejahatan siber lainnya.

"Teknologi adalah alat untuk berkembang. Yang menentukan manfaat atau mudaratnya adalah cara kita menggunakannya," ujarnya.

Kurniawan juga menekankan pentingnya menjaga jejak digital. Setiap unggahan, komentar, foto, maupun aktivitas di internet akan meninggalkan rekam jejak yang dapat memengaruhi reputasi, tingkat kepercayaan, bahkan peluang melanjutkan pendidikan dan karier di masa depan.

"Jejak digital tidak mudah hilang. Apa yang kita unggah hari ini bisa saja muncul kembali bertahun-tahun mendatang. Karena itu, pikirkan dampaknya sebelum memposting sesuatu," katanya.

Bangun Pola Hidup Digital yang Sehat

Selain membangun etika bermedia digital, Diskominfo juga mengajak peserta didik menerapkan pola hidup digital yang sehat. Beberapa langkah yang dianjurkan antara lain membatasi waktu penggunaan gawai (screen time), mematikan notifikasi saat belajar, tidak menggunakan telepon genggam selama proses pembelajaran, serta menjaga keseimbangan dengan berolahraga, beristirahat cukup, dan memperbanyak interaksi langsung bersama keluarga maupun teman.

Kurniawan menilai kebiasaan tersebut penting untuk menjaga kesehatan fisik dan mental sekaligus meningkatkan konsentrasi belajar di tengah tingginya intensitas penggunaan perangkat digital oleh remaja.

"Kita boleh menggunakan teknologi, tetapi jangan sampai teknologi mengendalikan kita. Pola hidup digital yang sehat akan melahirkan pikiran yang cerdas, tubuh yang sehat, dan pribadi yang lebih produktif," ujarnya.

Ia juga mengingatkan para pelajar agar meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai bentuk kejahatan siber yang terus berkembang, seperti hoaks, deepfake, penipuan daring, pencurian data pribadi, cyberbullying, judi online, hingga sextortion. Para siswa diimbau selalu memverifikasi setiap informasi yang diterima, menjaga kerahasiaan data pribadi, serta tidak mudah tergiur berbagai tawaran mencurigakan di internet.

"Jempolmu adalah tanggung jawabmu. Gunakan media sosial untuk membangun prestasi, menyebarkan kebaikan, dan menjadi generasi digital yang cerdas, beretika, serta bertanggung jawab," pungkasnya.(*)

Editor : Hendra Efison
mpls Literasi Digital payakumbuh cyberbullying Zulmaeta