PADEK.JAWAPOS.COM – Tim Pengabdian kepada Masyarakat dari Universitas Negeri Padang (UNP) mendampingi kelompok pengelola sampah "Sarok Pintar" di Nagari Duo Koto, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, dalam mengolah sampah plastik menjadi bahan baku bahan bakar minyak (BBM) alternatif. Program ini diharapkan mampu mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Kegiatan yang dilaksanakan pada Kamis (23/7/2026) tersebut dipimpin Prof. Dr. Indang Dewata bersama tim yang terdiri atas Dr. Mulya Gusman, Ir. Heldi, Ph.D., Dr. Ratna Willis, dan Prof. Dr. Eri Barlian.
Kegiatan pengabdian ini melibatkan mahasiswa Himpunan Mahasiswa Ilmu Lingkungan (HIMES) UNP, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UNP 2026 di Nagari Duo Koto, serta anggota kelompok pengelola sampah "Sarok Pintar".
"Pendampingan ini bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam memilah jenis polimer plastik yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku energi alternatif," ungkap Ketua Tim Pengabdian, Prof. Dr. Indang Dewata.
Menurutnya, Nagari Duo Koto telah memiliki sistem pengelolaan sampah yang cukup baik. Sebagian limbah telah diolah menjadi berbagai produk kerajinan, namun masih terdapat sampah plastik bernilai rendah yang belum termanfaatkan secara optimal.
"Melalui pendampingan ini, kami ingin memberikan pemahaman mengenai jenis-jenis polimer plastik yang dapat diolah menjadi bahan baku BBM alternatif sehingga sampah yang sebelumnya tidak bernilai dapat memiliki nilai tambah," ujar Prof. Indang.
Ia menjelaskan peningkatan volume sampah plastik membutuhkan solusi berkelanjutan agar tidak menimbulkan pencemaran lingkungan. Salah satu alternatif yang dapat dikembangkan ialah mengubah plastik bernilai rendah menjadi bahan baku energi melalui proses pengolahan yang tepat.
Edukasi Pemilahan Plastik
Materi utama disampaikan oleh Syaifuddin Islami, M.Si., Koordinator Wilayah Asosiasi Bank Sampah Indonesia (ASOBSI) Sumatera Barat.
Dalam sesi tersebut, peserta memperoleh edukasi mengenai klasifikasi polimer plastik, teknik pemilahan, serta karakteristik jenis plastik yang layak dimanfaatkan sebagai bahan baku pengolahan energi alternatif.
Selain penyampaian materi, peserta juga mengikuti praktik identifikasi berbagai jenis plastik sehingga mampu membedakan bahan yang sesuai maupun yang tidak dapat digunakan dalam proses konversi menjadi bahan baku BBM alternatif.
Dorong Ekonomi Sirkular
Prof. Indang berharap program pendampingan ini menjadi langkah awal dalam memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat sekaligus mendorong penerapan ekonomi sirkular di Kabupaten Agam.
Menurutnya, pemanfaatan sampah plastik tidak hanya berkontribusi terhadap kebersihan lingkungan, tetapi juga berpotensi menciptakan peluang usaha baru yang dapat meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat.
"Apabila masyarakat mampu mengelola sampah plastik menjadi bahan baku energi alternatif, maka manfaat yang diperoleh tidak hanya berupa lingkungan yang lebih bersih, tetapi juga terciptanya peluang usaha baru yang dapat meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat," katanya.
Program pengabdian ini mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangkau), SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).(*)
Editor : Heri Sugiarto