SIJUNJUNG, PADEK.JAWAPOS.COM – Inovasi Kandang Hebat di Nagari Palaluar, Kecamatan Koto VII, Kabupaten Sijunjung, menjadi sarana pembelajaran bagi 25 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Negeri Padang (UNP) selama pelaksanaan KKN pada 6 Juli hingga 6 Agustus 2026.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa mempelajari sistem peternakan kambing Peranakan Etawa yang dirancang efisien, ramah lingkungan, dan berorientasi pada pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Kandang Hebat merupakan inovasi yang dikembangkan Ir. Maiyontoni, M.P., dosen Universitas Negeri Padang, sejak 2025.
Inovasi tersebut mulai beroperasi pada Februari 2026 dan diisi kambing Peranakan Etawa sejak Maret 2026.
Saat ini, kandang berukuran 22 × 7 meter tersebut dikelola Mulyadi bersama tim pengelola dengan jumlah ternak sebanyak 30 ekor kambing Peranakan Etawa, terdiri atas dua ekor jantan dan 28 ekor betina.
Konsep Hemat Biaya dan Tempat
Kandang Hebat mengusung konsep HEBAT atau Hemat Biaya dan Tempat melalui sistem manajemen kandang yang dirancang agar efisien dan mudah diterapkan peternak.
Kandang dibuat bertingkat sehingga penggunaan ruang menjadi lebih optimal.
Setiap ekor kambing memperoleh ruang sekitar satu meter, sehingga ukuran kandang dapat disesuaikan dengan jumlah ternak yang dipelihara.
Sistem tersebut juga menerapkan pemisahan limbah padat dan limbah cair.
Cara itu membuat kandang tetap bersih, bebas dari bau tidak sedap, serta memberikan kenyamanan bagi ternak.
Menurut Ir. Maiyontoni, M.P., Kandang Hebat diharapkan dapat menjadi model peternakan yang semakin banyak diterapkan masyarakat.
“Kandang Hebat kami harapkan dapat diadopsi oleh para peternak karena sistem ini efisien, praktis, murah, dan ramah lingkungan. Selama ini kambing dipandang sebagai ternak yang jorok, bau, dan kurang diminati, terutama oleh generasi muda. Mudah-mudahan ke depan kambing menjadi pilihan komoditas usaha, mulai dari usaha mikro, kecil, menengah hingga berkembang menjadi sebuah bisnis,” ujarnya.
Limbah Peternakan Dimanfaatkan
Selain menghasilkan kambing Peranakan Etawa, Kandang Hebat mengoptimalkan pemanfaatan limbah peternakan.
Kotoran kambing atau kohe dikumpulkan dalam karung dan dijual kepada petani sekitar dengan harga Rp10.000 per karung.
Sementara itu, urin kambing dimanfaatkan sebagai bahan baku pupuk organik cair maupun pupuk organik fermentasi.
Pemanfaatan tersebut membuat limbah peternakan dapat digunakan kembali untuk mendukung kegiatan pertanian masyarakat.
Pengelola kandang, Mulyadi, mengatakan sistem Kandang Hebat memberikan manfaat dalam pengelolaan limbah peternakan.
“Dengan adanya Kandang Hebat ini, limbah kohe dan urin dapat dipisahkan sehingga manfaatnya lebih terasa. Manfaat utamanya sebagai pupuk untuk pertanian, dan kandang yang biasanya identik dengan bau tidak sedap menjadi tidak berbau,” katanya.
Mahasiswa Belajar Peternakan Berkelanjutan
Dalam pemeliharaan ternak, pakan kambing memanfaatkan berbagai jenis hijauan, seperti rumput liar, rumput odot, rumput gajah, dan ubi Papua. Pakan tersebut ditambah ampas tahu sebagai sumber protein.
Selama pelaksanaan KKN, mahasiswa UNP turut mendukung implementasi inovasi tersebut melalui berbagai kegiatan.
Mahasiswa terlibat dalam pembuatan pakan fermentasi, penyusunan mineral block, penanaman hijauan pakan, hingga perawatan kandang.
Kegiatan tersebut memberikan pengalaman kepada mahasiswa dalam mempelajari penerapan hasil inovasi perguruan tinggi yang dapat diimplementasikan secara langsung di tengah masyarakat.
Kolaborasi antara Universitas Negeri Padang, Pemerintah Nagari Palaluar, pengelola kandang, dan masyarakat diharapkan dapat membuat Kandang Hebat terus berkembang sebagai model peternakan kambing Peranakan Etawa yang efisien dan ramah lingkungan.
Inovasi tersebut juga diharapkan dapat mendukung ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan ternak dan limbah peternakan secara optimal.(*)
Editor : Hendra Efison