Rahasia Buah Tanpa Biji Terungkap, Pakar IPB Jelaskan Cara Terbentuknya

Heri Sugiarto • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 18:48 WIB
Prof. Sobir menjelaskan bahwa ketiadaan biji pada buah yang dikonsumsi tidak berarti tanaman kehilangan kemampuan untuk berkembang biak atau diperbanyak. (Foto ilustrasi: unsfarms.com)
Prof. Sobir menjelaskan bahwa ketiadaan biji pada buah yang dikonsumsi tidak berarti tanaman kehilangan kemampuan untuk berkembang biak atau diperbanyak. (Foto ilustrasi: unsfarms.com)

PADEK.JAWAPOS.COM – Buah tanpa biji sering dianggap sebagai tanda bahwa reproduksi tanaman telah terhenti. Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. 

Menurut Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Prof. Sobir, buah tanpa biji dapat terbentuk melalui mekanisme biologis alami maupun perlakuan tertentu, sementara tanamannya tetap dapat berkembang biak dengan cara lain.

Sobir menjelaskan bahwa ketiadaan biji pada buah yang dikonsumsi tidak berarti tanaman kehilangan kemampuan untuk diperbanyak. Pada sejumlah tanaman, proses tersebut tetap berlangsung melalui teknik pemuliaan maupun perbanyakan vegetatif.

Semangka Tanpa Biji Dihasilkan dari Persilangan Khusus

Salah satu contoh buah tanpa biji yang paling dikenal masyarakat adalah semangka. Menurut Prof. Sobir, semangka tanpa biji dihasilkan melalui persilangan tanaman tetraploid (4n) dengan tanaman diploid (2n) sehingga menghasilkan tanaman triploid (3n).

Baca Juga: UNP Latih KWT Ikhwatunnisa Olah Buah Lokal Jadi Cuka, Tingkatkan Nilai Tambah dan Edukasi Kesehatan

Tanaman triploid memiliki jumlah kromosom yang tidak seimbang saat pembentukan gamet, yakni serbuk sari atau sel telur. Kondisi tersebut membuat tanaman tidak mampu menghasilkan biji secara normal saat proses fertilisasi.

"Tanaman triploid memiliki jumlah kromosom yang tidak seimbang pada saat pembentukan gamet (serbuk sari atau sel telur), sehingga tidak mampu menghasilkan biji secara normal pada saat fertilisasi," jelasnya.

Meski tidak menghasilkan biji, tanaman triploid tetap mampu membentuk buah. Hal itu karena pembentukan buah tetap dipicu oleh proses penyerbukan menggunakan polen fertil dari tanaman semangka diploid.

"Penyerbukan menginduksi pembentukan buah, tetapi karena ketidakseimbangan kromosom, biji tidak berkembang sempurna sehingga buah yang dihasilkan praktis tanpa biji," terangnya, dikutip dari laman resmi IPB University.

Baca Juga: PLN Hadirkan Listrik untuk Kebun Buah Naga di Solok, Panen Bisa Berlangsung Sepanjang Tahun

Buah Tanpa Biji Juga Bisa Terbentuk dengan Bantuan Hormon

Selain melalui mekanisme genetik, buah tanpa biji juga dapat terbentuk ketika penyerbukan terjadi, tetapi proses fertilisasi gagal sehingga biji tidak berkembang atau hanya menjadi biji kosong.

Sobir mengatakan buah tanpa biji juga dapat dihasilkan melalui perlakuan hormon tanaman, seperti auksin dan giberelin.

Hormon tersebut mampu merangsang perkembangan bakal buah tanpa melalui proses pembuahan.

"Di Jepang, misalnya, bunga yang belum mekar dicelupkan ke dalam larutan giberelin sehingga buah dapat berkembang tanpa menghasilkan biji. Teknik serupa juga telah diterapkan pada tanaman tomat," ujarnya.

Bagaimana Tanaman Buah Tanpa Biji Tetap Dibudidayakan?

Sobir menegaskan bahwa tanaman penghasil buah tanpa biji tetap dapat dibudidayakan.

Pada semangka tanpa biji, tanaman tetua diploid dan tetraploid tetap diperbanyak secara alami karena keduanya menghasilkan biji yang digunakan untuk memproduksi tanaman triploid.

Sementara itu, berbagai tanaman buah tanpa biji lainnya diperbanyak secara vegetatif melalui teknik seperti sambung pucuk (grafting), cangkok, maupun kultur jaringan.

Baca Juga: Sayur dan Buah Polisi Tubuh

"Dengan demikian, ketiadaan biji pada buah yang dikonsumsi tidak berarti tanaman kehilangan kemampuan untuk diperbanyak," tegasnya.

Lebih Praktis Dikonsumsi, tetapi Belum Tentu Lebih Manis

Menurut Sobir, buah tanpa biji menawarkan kepraktisan karena lebih mudah dikonsumsi dan lebih banyak bagian buah yang dapat dimakan.

Namun, ia mengingatkan bahwa buah tanpa biji belum tentu memiliki cita rasa yang lebih baik dibandingkan buah berbiji.

Ia menjelaskan bahwa proses penyerbukan dan fertilisasi memengaruhi pembentukan berbagai senyawa yang berfungsi melindungi embrio pada biji. Senyawa tersebut juga dapat berkontribusi terhadap cita rasa buah.

Karena itu, pada beberapa jenis buah, rasa buah tanpa biji belum tentu lebih baik daripada buah berbiji.

Sebagai contoh, Sobir menyebut semangka tanpa biji kurang diminati di Jepang karena dinilai kalah dari segi rasa dibandingkan semangka berbiji.

Keragaman Genetik Harus Tetap Dijaga

Sobir juga mengingatkan pentingnya menjaga keragaman genetik tanaman dalam pengembangan buah tanpa biji.

Menurutnya, apabila tanaman tanpa biji terlalu dominan, keragaman genetik dapat berkurang sehingga tanaman menjadi lebih rentan terhadap perubahan lingkungan maupun serangan hama dan penyakit.

Karena itu, sumber daya genetik, termasuk tanaman tetua, perlu terus dipertahankan melalui kebun koleksi dan program pemuliaan tanaman.

Ke depan, Sobir menilai inovasi tidak harus selalu berfokus pada menghilangkan biji. Pengembangan buah dengan ukuran biji yang lebih kecil atau biji yang terkonsentrasi pada bagian tertentu dapat menjadi alternatif agar buah tetap mudah dikonsumsi tanpa mengorbankan cita rasa maupun keberlanjutan reproduksi tanaman.

Baca Juga: Maggot hingga BioVORA, Pemprov Sumbar Dorong Riset Unand Diterapkan

"Inovasi buah sebaiknya menjaga keseimbangan antara kebutuhan konsumen, kualitas produk, dan kelestarian sumber daya genetik tanaman," pungkasnya.(*)

Editor : Heri Sugiarto
buah tanpa biji semangka tanpa biji Prof Sobir cara membuat buah tanpa biji ipb university