Rektor UIN Imam Bonjol Padang Ikuti Forum PTKIN dan Bahas 5 Agenda Strategis

Heri Sugiarto • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 14:10 WIB
Rektor UIN Imam Bonjol Padang Martin Kustati mengikuti Forum Rektor PTKIN di UIN Syekh Wasil Kediri. (Foto: Humas UIN IB)
Rektor UIN Imam Bonjol Padang Martin Kustati mengikuti Forum Rektor PTKIN di UIN Syekh Wasil Kediri. (Foto: Humas UIN IB)

PADEK.JAWAPOS.COM — Penguatan mutu dan daya saing perguruan tinggi Islam menjadi salah satu agenda utama dalam Forum Rektor Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) yang digelar di Universitas Islam Negeri (UIN) Syekh Wasil Kediri, Jawa Timur, Rabu (26/8/2026).

Rektor UIN Imam Bonjol Padang, Prof. Dr. Hj. Martin Kustati, M.Pd., turut hadir dalam forum yang mempertemukan pimpinan PTKIN dari berbagai daerah di Indonesia tersebut.

Forum menjadi ruang bagi para pimpinan PTKIN untuk menyamakan arah kebijakan, bertukar gagasan, serta membahas strategi penguatan perguruan tinggi Islam agar semakin unggul, adaptif, dan mampu bersaing di tingkat global.

Sejumlah isu strategis dibahas, mulai dari pengembangan program akademik, penguatan tata kelola, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan distingsi keilmuan, hingga strategi meningkatkan reputasi perguruan tinggi Islam di tingkat nasional dan internasional.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Prof. Suyitno, dalam arahannya menyampaikan lima arah kebijakan strategis yang perlu menjadi perhatian PTKI.

Kelima agenda tersebut meliputi ma’hadisasi, program double degree, fast track, Program Studi di Luar Kampus Utama (PSDKU), serta reformulasi pengembangan program studi.

Menurut Suyitno, berbagai kebijakan tersebut berpotensi memperkuat posisi PTKI apabila dikembangkan secara serius dan disesuaikan dengan karakter serta kebutuhan masing-masing perguruan tinggi.

Salah satu agenda yang mendapat perhatian adalah penguatan program ma’hadisasi. Menurut Suyitno, model pendidikan berbasis ma’had yang berkembang di lingkungan pendidikan Islam bahkan mulai diadaptasi oleh sekolah-sekolah umum.

“Banyak sekolah umum yang sudah mulai meniru program ma’had yang telah diterapkan di lingkungan madrasah. Ini adalah praktik baik yang perlu kita jadikan program unggulan di kampus,” ujar Suyitno.

Selain penguatan program akademik, Suyitno menekankan pentingnya setiap PTKI memiliki distingsi keilmuan yang jelas. Perguruan tinggi dinilai tidak cukup hanya berkembang secara kelembagaan, tetapi juga perlu memiliki karakter, keunggulan, dan identitas akademik yang menjadi pembeda.

Distingsi tersebut perlu diperkuat melalui strategi branding institusi sehingga setiap PTKI memiliki posisi yang semakin kuat dalam peta pendidikan tinggi nasional.

Sementara itu, Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Prof. Dr. Phil. Sahiron, M.A., menekankan bahwa peningkatan mutu PTKI harus diarahkan hingga mampu memasuki arena persaingan global.

Menurut Sahiron, perubahan status kelembagaan saja tidak cukup untuk menjadikan perguruan tinggi memiliki daya saing. Transformasi perlu berjalan bersama penguatan tata kelola, kualitas akademik, riset, publikasi ilmiah, inovasi, dan sumber daya manusia.

Penguatan reputasi perguruan tinggi juga menjadi perhatian. PTKI didorong meningkatkan posisi dan reputasinya melalui berbagai indikator pemeringkatan, termasuk Webometrics dan QS World University Rankings, serta memperluas publikasi ilmiah yang terindeks Scopus.

“Di samping pengembangan kompetensi dosen dan tendik, Bapak/Ibu Rektor juga harus mendorong mahasiswa untuk mengembangkan potensi diri, salah satunya melalui keikutsertaan magang PRIMA di perusahaan-perusahaan yang telah bekerja sama dengan Kemenag,” kata Sahiron.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa strategi peningkatan mutu PTKI tidak hanya diarahkan pada penguatan institusi dan tenaga pendidik, tetapi juga pada kesiapan mahasiswa menghadapi dunia profesional. Pengalaman di luar kampus dinilai menjadi bagian penting dalam membangun kompetensi dan daya saing lulusan.

Dalam forum tersebut, para pimpinan PTKIN juga menyoroti pentingnya kolaborasi dan sinergi antarlembaga.

Rektor UIN Syekh Wasil Kediri, Prof. Dr. Wahidul Anam, M.Ag., selaku tuan rumah, berharap pertemuan tersebut dapat memperkuat hubungan dan kerja sama antarsesama PTKIN.

Ketua Umum Forum PTKIN, Prof. Dr. Masnun Tohir, M.Ag., juga menekankan pentingnya forum sebagai ruang untuk melakukan evaluasi, saling mendukung, dan memperkuat langkah bersama. PTKIN diharapkan tidak berjalan sendiri-sendiri dalam menghadapi tantangan pendidikan tinggi yang semakin kompleks.

Bagi UIN Imam Bonjol Padang, forum tersebut menjadi momentum untuk membaca arah kebijakan pendidikan tinggi keagamaan Islam sekaligus memperkuat jejaring dan kolaborasi dengan PTKIN lainnya.

Agenda penguatan mutu, pengembangan sumber daya manusia, inovasi akademik, penguatan reputasi, dan internasionalisasi yang dibahas dalam forum menjadi bagian penting dalam menghadapi lanskap pendidikan tinggi yang semakin kompetitif.

Keterlibatan Rektor UIN Imam Bonjol Padang dalam forum tersebut menjadi bagian dari upaya institusi untuk mengikuti perkembangan kebijakan nasional serta membuka ruang kolaborasi dalam pengembangan pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan penguatan kapasitas kelembagaan.

Forum Rektor dan Ketua PTKIN di Kediri menjadi ruang untuk menyatukan langkah dalam memperkuat mutu dan daya saing pendidikan tinggi Islam Indonesia.

Melalui forum tersebut, penguatan mutu dan daya saing ditempatkan bukan hanya sebagai agenda masing-masing kampus, tetapi sebagai upaya bersama untuk membawa pendidikan tinggi Islam Indonesia semakin diperhitungkan di tingkat global.(*)

Editor : Heri Sugiarto
perguruan tinggi Islam Forum Rektor PTKIN kebijakan PTKI Martin Kustati UIN Imam Bonjol Padang