Hutan Adat dan Mitigasi Bencana jadi Fokus Pengabdian UNP di Desa Saureinu Mentawai

Adetio Purtama • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 11:02 WIB
UNP melalui PPUB memberdayakan masyarakat Desa Saureinu, Mentawai, untuk mengelola hutan adat secara berkelanjutan sekaligus memperkuat mitigasi risiko bencana. (DOKUMENTASI UNP)
UNP melalui PPUB memberdayakan masyarakat Desa Saureinu, Mentawai, untuk mengelola hutan adat secara berkelanjutan sekaligus memperkuat mitigasi risiko bencana. (DOKUMENTASI UNP)

PADEK.JAWAPOS.COM—Universitas Negeri Padang (UNP) melalui Program Pengabdian UNP Berdampak (PPUB) mendorong pemberdayaan masyarakat adat di Desa Saureinu, Kabupaten Kepulauan Mentawai, dalam menjaga kelestarian hutan dan tanah adat sekaligus memperkuat upaya mitigasi risiko bencana.

Kegiatan tersebut mengangkat tema “Pemberdayaan Komunitas Adat Mentawai dalam Pengelolaan Hutan Adat yang Berkelanjutan untuk Mitigasi Risiko Bencana di Desa Saureinu Mentawai.”

Tim pengabdian dipimpin Cici Nur Azizah, S.Pd., M.Pd. selaku ketua pelaksana, bersama anggota Prof. Dr. Al Rafni, M.Si. dan Yulia Hanoselina, S.I.P., M.A.P. Kegiatan tersebut juga melibatkan mahasiswa Qhalby Chelsy Nabila dan Anggun Hidayatullah.

Baca Juga: Nagari Mabit Camp 2026 Digelar, Bank Nagari Bekali Pelajar Literasi Wakaf dan Perencanaan Haji

Kehadiran tim pengabdian UNP disambut langsung Kepala Desa Saureinu Tirjelius. Ia menyampaikan bahwa persoalan lingkungan dan bencana merupakan tantangan yang perlu ditangani secara bersama, terutama karena karakter geografis Saureinu yang terdiri atas wilayah pesisir, sungai, perbukitan, serta kawasan hutan.

Bagi masyarakat Saureinu, hutan memiliki posisi penting dalam kehidupan sehari-hari. Hutan tidak hanya menjadi sumber penghidupan, tetapi juga memiliki nilai sosial, budaya, dan adat.

Karena itu, pengelolaan hutan dan tanah adat secara berkelanjutan dinilai penting untuk menjaga keberlangsungan kehidupan masyarakat sekaligus mengurangi risiko bencana.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Sumbar Sabtu 5 September 2026, Cek Kondisi 7 Kota

Kearifan Lokal Jadi Dasar Pendidikan Lingkungan

Dalam kegiatan tersebut, Cici Nur Azizah menyampaikan materi bertajuk “Pendidikan Lingkungan Berbasis Kearifan Lokal Desa Saureinu.”

Materi tersebut menekankan pentingnya menjadikan pengetahuan dan kearifan lokal masyarakat sebagai dasar dalam membangun kesadaran lingkungan.

Pendidikan lingkungan tidak hanya diarahkan pada pemahaman mengenai pentingnya menjaga alam, tetapi juga bagaimana masyarakat melihat keterkaitan antara hutan, tanah, sumber air, kehidupan sosial, dan potensi bencana.

Baca Juga: Kadis Kebudayaan Sumbar Syaiful Bahri Berpulang, Mahyeldi Kenang Dedikasinya

Sementara itu, materi “Menjaga Hutan dan Tanah Adat Saureinu” disampaikan Dr. Rika Febriani, S.Hum., M.Fils.

Dalam pemaparannya, masyarakat diajak memahami hutan adat tidak semata-mata sebagai sumber ekonomi. Hutan juga merupakan warisan yang memiliki nilai ekologis, sosial, dan budaya yang perlu dijaga untuk generasi mendatang.

Tujuh Dusun Hadapi Persoalan Banjir

Kepala Desa Saureinu Tirjelius mengungkapkan bahwa persoalan banjir menjadi salah satu tantangan yang dihadapi masyarakat.

Baca Juga: KAI Buka Rekrutmen 2026, Ini Modus Penipuan yang Wajib Diwaspadai

Menurutnya, terdapat tujuh dusun di wilayah Saureinu yang menghadapi persoalan banjir. Beberapa kawasan seperti Sumber Air, Mangili, dan Kaliou disebut menjadi wilayah yang cukup terdampak.

Banjir dengan intensitas besar bahkan dapat mencapai bagian rumah warga.

“Di Saureinu kerap terjadi banjir besar hingga bubung rumah,” ungkap Tirjelius.

Selain ancaman banjir, Tirjelius juga menyoroti persoalan pengelolaan tanah adat. Ia menyebut terdapat masyarakat adat yang menjual tanah adat untuk memperoleh keuntungan dalam waktu singkat.

Baca Juga: Stanis Idumbo Bawa AS Monaco Comeback, PSG Kalah 1-2 di Parc des Princes

Menurutnya, persoalan tersebut perlu mendapat perhatian karena tanah adat bukan hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga berkaitan erat dengan keberlangsungan masyarakat serta identitas komunitas adat.

Keresahan mengenai pengelolaan sumber daya alam juga disampaikan salah seorang peserta kegiatan, Martalina.

“Kami hanya melihat aktivitas eksploitasi tanpa menghadirkan keuntungan untuk masyarakat pribumi,” ujarnya.

Baca Juga: Real Betis 1-0 Real Madrid: Parrott Hentikan Start Sempurna Los Blancos, Mbappe Gagal Penalti

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan sumber daya alam di Saureinu memiliki dimensi yang lebih luas. Selain menyangkut kelestarian lingkungan, pengelolaannya juga berkaitan dengan keadilan serta manfaat ekonomi yang diterima masyarakat adat.

Masyarakat berharap pengelolaan sumber daya alam dapat dilakukan secara bijaksana sehingga manfaatnya dapat dirasakan masyarakat lokal tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan.

Sarana Evakuasi dan Peta Bencana Masih Menjadi Perhatian

Kepala Dusun Sawahan, Baidil, turut mengungkapkan sejumlah kondisi yang dihadapi masyarakat di lapangan.

Baca Juga: Lemhannas Goes to Campus Unand, Ace Hasan: Teknologi Harus Dikendalikan untuk Kepentingan Bangsa

Menurutnya, ketersediaan alat evakuasi masih terbatas. Kondisi sumber air di kawasan Sumber Air juga mulai mengalami penurunan kualitas yang diduga berkaitan dengan aktivitas penebangan.

Selain itu, masyarakat masih menghadapi persoalan belum tersedianya peta evakuasi yang dapat menjadi panduan ketika bencana terjadi.

Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya membangun mitigasi bencana yang melibatkan masyarakat secara langsung.

Baca Juga: Jalan Pasir Jambak Padang Rampung Pekan Depan, Drainase Tunggul Hitam Desember

Masyarakat perlu memiliki pemahaman mengenai kawasan yang rawan bencana, jalur evakuasi, titik kumpul, serta langkah penyelamatan yang dapat dilakukan secara mandiri sebelum bantuan dari luar tiba.

Menghidupkan Semangat Menjaga Alam

Dalam konteks masyarakat Mentawai, hubungan manusia dengan alam merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan dan kebudayaan.

Semangat “Sikerei” yang lekat dengan kebudayaan Mentawai menjadi salah satu pintu masuk untuk memperkuat kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga lingkungan.

Baca Juga: Penerima Bantuan Pangan Payakumbuh Bertambah 392 KK, Kini 14.020 Keluarga

Dalam kegiatan tersebut, nilai-nilai lokal digunakan untuk memperkuat pemahaman bahwa menjaga leleu atau hutan pada dasarnya merupakan bagian dari menjaga kehidupan masyarakat itu sendiri.

Pendekatan berbasis kearifan lokal tersebut kemudian diperkuat melalui Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan masyarakat dan tetua adat.

Diskusi berlangsung secara partisipatif dengan membahas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, mulai dari kondisi lingkungan, pengelolaan hutan dan tanah adat, ancaman banjir, keterbatasan sarana evakuasi, hingga kebutuhan membangun sistem mitigasi bencana yang sesuai dengan kondisi dan kearifan lokal Saureinu.

Baca Juga: 15 SD di Padang Direvitalisasi Pascabencana, Pemko Masih Butuh Normalisasi Sungai

Suasana kegiatan juga dibuat interaktif melalui kuis berhadiah. Peserta diajak menguji pemahaman mengenai lingkungan, hutan adat, dan mitigasi bencana.

Selain menjadi sarana edukasi, kegiatan tersebut mendorong masyarakat lebih aktif menyampaikan pengalaman, pandangan, dan persoalan yang mereka hadapi di lingkungan tempat tinggal.

Tanam Pohon Jadi Aksi Nyata

Tidak berhenti pada penyampaian materi dan diskusi, tim pengabdian UNP bersama masyarakat juga melakukan penanaman pohon serta pembagian bibit pohon.

Baca Juga: 101 Karya Anak Pariaman Dipamerkan, Jadi Media Trauma Healing Pascabencana

Aksi tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong penghijauan kembali sekaligus membangun kepedulian masyarakat terhadap keberlanjutan lingkungan.

Penanaman pohon diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk membantu menjaga sumber air, mengurangi risiko kerusakan lahan, serta memperkuat kesadaran bersama mengenai pentingnya keberadaan hutan bagi kehidupan masyarakat.

Melalui PPUB, UNP berupaya menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam menjaga lingkungan dan mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan.

Baca Juga: Bantuan Tenda Camping Masuk Desa Taluak, Jadi Modal Kembangkan Wisata Berbasis Warga

Pengabdian di Saureinu tidak hanya menjadi ruang transfer pengetahuan dari perguruan tinggi kepada masyarakat, tetapi juga menjadi ruang dialog untuk memahami persoalan lingkungan dan kebencanaan berdasarkan pengalaman masyarakat setempat.

Bagi masyarakat Saureinu, hutan dan tanah adat bukan sekadar aset ekonomi. Keduanya merupakan bagian dari kehidupan, identitas, serta warisan yang akan menentukan keberlangsungan generasi mendatang.

Semangat “simaeru’ taikaleleu”, yang dimaknai sebagai menjaga dan merawat lingkungan, menjadi pesan penting dalam kegiatan tersebut.

Baca Juga: Belanja Modal Sumbar Naik Hampir Dua Kali Lipat, Tembus Rp941,94 Miliar di APBD Perubahan 2026

Melalui semangat itu, masyarakat Saureinu diharapkan semakin kuat dalam menjaga kelestarian alam sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi berbagai risiko bencana.

Program Pengabdian UNP Berdampak pun diharapkan terus menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan, pemberdayaan masyarakat, dan aksi nyata, terutama bagi masyarakat di wilayah kepulauan yang menghadapi tantangan lingkungan dan kebencanaan. (*)

Editor : Adetio Purtama
PPUB Desa Saureinu Mentawai unp mitigasi bencana hutan adat