PADEK.JAWAPOS.COM — Kecerdasan buatan atau AI semakin sering digunakan untuk mencari penjelasan, merangkum informasi, menemukan ide hingga membantu menyelesaikan berbagai pekerjaan. Namun, jawaban AI yang terdengar meyakinkan tidak selalu berarti informasi tersebut benar.
Google menjelaskan bahwa AI generatif dapat menghasilkan respons yang dibuat-buat atau keliru, termasuk karena salah memahami pertanyaan. Google menyarankan pengguna mengevaluasi respons secara kritis dan memeriksa informasi faktual melalui Google atau referensi lain.
OpenAI pun menyatakan bahwa model bahasa seperti ChatGPT dapat menghasilkan informasi yang salah atau menyesatkan, termasuk definisi, tanggal, fakta, kutipan, penelitian, maupun referensi yang tidak benar-benar ada. Karena itu, informasi penting tetap perlu diverifikasi melalui sumber yang terpercaya.
Artinya, AI dapat menjadi alat bantu untuk menemukan dan memahami informasi, tetapi jawabannya tidak sebaiknya langsung dianggap sebagai sumber kebenaran.
Mengapa Jawaban AI Tidak Selalu Benar?
AI generatif bekerja dengan mengenali pola dalam data dan menghasilkan respons berdasarkan masukan pengguna.
Sistem tersebut bukan manusia dan tidak memahami informasi dengan cara yang sama seperti manusia.
Google menjelaskan bahwa model AI generatif dapat menghasilkan jawaban yang dibuat-buat atau mengalami kesalahan dalam memahami maksud pertanyaan.
Salah satu istilah yang sering digunakan untuk menjelaskan fenomena tersebut adalah hallucination, yaitu ketika model menghasilkan informasi yang tidak sesuai dengan fakta.
Kesalahan dapat berupa fakta yang keliru, tanggal yang salah, kutipan yang tidak pernah diucapkan, penelitian yang tidak ditemukan atau jawaban yang terlalu yakin terhadap pertanyaan yang sebenarnya ambigu.
Penelitian yang diterbitkan di Nature pada 2026 menemukan bahwa model bahasa besar (large language models atau LLM) masih dapat menghasilkan informasi yang salah tetapi terdengar masuk akal dan disampaikan dengan tingkat keyakinan tinggi.
Penelitian tersebut membahas salah satu alasan mengapa model dapat cenderung menebak ketika tidak memiliki dasar yang cukup untuk memberikan jawaban.
Karena itu, tingkat keyakinan bahasa AI bukan ukuran kebenaran informasi.
6 Tanda Jawaban AI Perlu Dicek Ulang
Tidak setiap jawaban AI harus diperiksa dengan tingkat kedalaman yang sama. Namun, beberapa kondisi berikut menjadi alasan kuat untuk melakukan verifikasi.
1. AI memberikan angka atau fakta spesifik tanpa sumber
Waspadai jawaban yang mencantumkan angka statistik, tanggal, jumlah, nama penelitian atau fakta spesifik tetapi tidak memberikan sumber yang dapat diperiksa.
Semakin penting klaim tersebut, semakin penting pula memastikan dari mana informasi itu berasal.
2. AI menyebut penelitian yang sulit ditemukan
Jika AI menyebut nama penelitian, jurnal, peneliti atau DOI, jangan langsung menganggap referensi tersebut benar.
Cari judul penelitian atau DOI pada situs jurnal, PubMed, Google Scholar atau basis data ilmiah yang relevan.
OpenAI sendiri menyebut bahwa model dapat menghasilkan kutipan, studi atau referensi yang dibuat-buat.
3. Jawaban terdengar sangat yakin, tetapi pertanyaannya kompleks
Bahasa yang tegas tidak menjamin jawaban benar.
Pertanyaan mengenai sejarah, hukum, kesehatan, ekonomi, teknologi atau isu ilmiah sering membutuhkan konteks yang lebih kompleks daripada yang terlihat dalam satu jawaban singkat.
Penelitian di Nature pada 2026 menunjukkan bahwa LLM dapat menghasilkan plausible falsehoods, yakni informasi salah yang terdengar masuk akal dan disampaikan dengan percaya diri.
4. Informasi bertentangan dengan sumber resmi
Jika jawaban AI berbeda dengan informasi dari pemerintah, lembaga resmi, jurnal ilmiah atau dokumentasi resmi suatu organisasi, jangan langsung memilih jawaban AI.
Periksa sumber primer dan lihat apakah terdapat perbedaan konteks, tanggal atau definisi.
5. AI memberikan link, tetapi isi sumber belum diperiksa
Adanya tautan dalam jawaban AI belum berarti semua klaim di dalam jawabannya didukung oleh sumber tersebut.
Penelitian Nature Communications pada 2025 yang mengembangkan metode SourceCheckup menemukan bahwa keberadaan referensi tidak otomatis berarti klaim dalam jawaban LLM sepenuhnya didukung oleh sumber yang dicantumkan.
Dalam evaluasi terhadap pertanyaan medis, sebagian respons memiliki klaim yang tidak didukung atau bahkan bertentangan dengan sumber yang diberikan.
Karena itu, jangan hanya memeriksa apakah link tersedia. Periksa pula apakah isi sumber benar-benar mendukung klaim AI.
6. Informasinya menyangkut keputusan penting
Verifikasi menjadi semakin penting jika jawaban AI digunakan untuk mengambil keputusan mengenai kesehatan, obat, hukum, keuangan, keselamatan, pendidikan atau informasi penting lainnya.
Untuk informasi seperti ini, AI sebaiknya diposisikan sebagai alat bantu memahami persoalan, bukan satu-satunya dasar keputusan.
Cara Mengecek Jawaban AI dalam 6 Langkah
1. Pisahkan jawaban menjadi beberapa klaim
Jangan memeriksa satu jawaban panjang sebagai satu kesatuan.
Misalnya AI mengatakan: “Sebuah penelitian tahun 2025 menemukan bahwa kebiasaan tertentu meningkatkan risiko tertentu.”
Pisahkan menjadi beberapa pertanyaan:
-
Apakah penelitian tersebut benar-benar ada?
-
Siapa penulisnya?
-
Kapan diterbitkan?
-
Apa objek penelitiannya?
-
Berapa jumlah peserta?
-
Apa hasil penelitian sebenarnya?
-
Apakah kesimpulan AI sesuai dengan hasil penelitian?
Cara ini membantu menghindari kesalahan ketika AI menyederhanakan atau memperluas kesimpulan sebuah penelitian.
2. Cari sumber primer
Setelah mengetahui klaim yang ingin diperiksa, cari sumber yang paling dekat dengan informasi asli.
Untuk regulasi, prioritaskan situs pemerintah atau lembaga resmi.
Untuk penelitian, buka publikasi ilmiah aslinya.
Untuk informasi kesehatan, periksa lembaga kesehatan resmi dan jurnal ilmiah.
Untuk produk atau layanan teknologi, periksa dokumentasi resmi perusahaan atau pengembang.
3. Buka sumber aslinya
Jangan berhenti pada judul hasil pencarian.
Buka dokumen atau halaman sumber dan periksa konteksnya.
Judul penelitian, misalnya, belum tentu menggambarkan seluruh hasil penelitian. Demikian pula sebuah artikel dapat menyebut suatu studi tanpa menggambarkan kesimpulannya secara lengkap.
4. Cocokkan klaim dengan isi sumber
Tanyakan: “Apakah sumber ini benar-benar mengatakan apa yang diklaim AI?”
Perhatikan apakah AI:
-
mengubah angka;
-
menghilangkan batasan penelitian;
-
mengubah hubungan menjadi sebab-akibat;
-
mengambil kesimpulan terlalu luas;
-
menggunakan penelitian pada kelompok tertentu untuk menjelaskan semua orang.
Tahap ini penting karena sebuah sumber yang benar belum tentu mendukung seluruh klaim yang ditempelkan AI kepadanya.
5. Periksa tanggal informasi
Informasi tertentu dapat berubah dengan cepat.
Regulasi, harga, spesifikasi produk, kebijakan perusahaan, statistik, jadwal, perkembangan teknologi dan berita terkini perlu diperiksa berdasarkan tanggal terbaru yang tersedia.
Jawaban yang benar beberapa tahun lalu belum tentu masih benar sekarang.
6. Bandingkan dengan sumber independen
Untuk informasi penting, periksa apakah sumber lain yang kredibel memberikan informasi yang konsisten.
Jika terdapat perbedaan, jangan langsung memilih jawaban yang paling meyakinkan. Cari tahu mengapa kedua sumber tersebut berbeda.
Jangan Berhenti pada “AI Memberikan Link Sumber”
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap jawaban AI sudah terverifikasi hanya karena terdapat beberapa tautan.
Penelitian Nature Communications tentang SourceCheckup menunjukkan bahwa model dapat memberikan referensi yang valid tetapi sebagian klaim dalam jawabannya tidak sepenuhnya didukung oleh sumber tersebut.
Dalam penelitian tersebut, bahkan sistem yang memiliki akses pencarian web tidak selalu menghasilkan respons yang seluruh klaimnya didukung sumber.
Karena itu, proses verifikasi sebaiknya mengikuti tiga pertanyaan:
Apakah sumbernya benar-benar ada?
Apakah sumbernya kredibel?
Apakah sumber tersebut benar-benar mendukung klaim AI?
Jika salah satu jawabannya tidak jelas, informasi tersebut sebaiknya belum dianggap terverifikasi.
Sumber Apa yang Sebaiknya Diprioritaskan?
Jenis sumber yang digunakan sebaiknya disesuaikan dengan informasi yang ingin diperiksa.
| Kebutuhan informasi | Sumber yang diprioritaskan |
|---|---|
| Regulasi dan kebijakan | Pemerintah dan lembaga resmi |
| Kesehatan | Kementerian kesehatan, WHO, rumah sakit/lembaga medis terpercaya, jurnal ilmiah |
| Penelitian | Jurnal ilmiah dan publikasi penelitian asli |
| Statistik | Badan statistik dan lembaga resmi |
| Teknologi | Dokumentasi resmi pengembang atau produsen |
| Produk | Situs resmi produsen |
| Informasi akademik | Jurnal, universitas dan penerbit ilmiah |
| Berita terkini | Media kredibel dan sumber primer |
Tidak semua informasi membutuhkan sumber akademik. Untuk spesifikasi sebuah produk, misalnya, situs resmi produsen dapat menjadi sumber yang lebih tepat daripada artikel pihak ketiga.
Sebaliknya, untuk mengetahui hasil sebuah penelitian, publikasi ilmiah asli lebih tepat daripada ringkasan yang dibuat oleh situs lain.
Jangan Menganggap AI Lain sebagai Bukti Kebenaran
Ketika mendapatkan jawaban yang meragukan dari satu AI, pengguna mungkin tergoda menanyakan pertanyaan yang sama kepada AI lain.
Cara tersebut dapat membantu menemukan sudut pandang berbeda, tetapi jawaban AI lain bukan otomatis menjadi bukti bahwa informasi tersebut benar.
Jika dua AI memberikan jawaban yang sama, keduanya tetap dapat menghasilkan kesalahan yang sama.
Verifikasi terbaik tetap dilakukan dengan membuka sumber yang menjadi dasar informasi tersebut.
Kapan Jawaban AI Tidak Sebaiknya Langsung Dijadikan Dasar Keputusan?
Ada beberapa jenis informasi yang membutuhkan kehati-hatian lebih tinggi.
Kesehatan
Jangan menggunakan jawaban AI sebagai satu-satunya dasar untuk diagnosis, pengobatan atau perubahan penggunaan obat.
Periksa informasi melalui tenaga kesehatan dan sumber medis yang kredibel.
Hukum
Peraturan dapat berbeda menurut negara, wilayah dan waktu. Periksa peraturan dan dokumen resmi yang berlaku.
Keuangan
Informasi mengenai investasi, pajak, pinjaman atau produk keuangan dapat memiliki konsekuensi nyata. Periksa sumber resmi dan pertimbangkan nasihat profesional bila diperlukan.
Keselamatan
Untuk informasi yang berkaitan dengan keselamatan, ikuti petunjuk resmi dari lembaga atau pihak yang berwenang.
Informasi akademik
Jika AI memberikan kutipan atau daftar pustaka, buka sumber aslinya sebelum memasukkannya ke tugas, artikel atau penelitian.
OpenAI secara khusus menyarankan pengguna memeriksa kutipan, data, informasi teknis dan referensi dokumen eksternal ketika akurasi menjadi hal penting.
Checklist Sebelum Mempercayai Jawaban AI
Sebelum menggunakan informasi dari AI, lakukan pemeriksaan sederhana:
-
Apakah klaimnya dapat diverifikasi?
-
Apakah sumber yang disebut benar-benar ada?
-
Apakah sumber tersebut kredibel?
-
Apakah sumbernya merupakan sumber primer atau sumber yang paling dekat dengan informasi asli?
-
Apakah isi sumber benar-benar mendukung klaim AI?
-
Apakah informasinya masih terbaru?
-
Apakah terdapat sumber independen yang mengonfirmasi?
Jika informasi tersebut penting, jangan berhenti pada satu jawaban AI.
AI Bisa Membantu Mencari Informasi, tetapi Tetap Perlu Diverifikasi
AI dapat membantu pengguna memahami topik, menyusun pertanyaan, merangkum informasi dan menemukan hal-hal yang perlu ditelusuri lebih lanjut.
Namun, kemampuan menghasilkan jawaban yang terdengar meyakinkan tidak berarti setiap jawaban bebas dari kesalahan. Google dan OpenAI sama-sama mengingatkan pengguna untuk mengevaluasi respons AI secara kritis dan memverifikasi informasi penting.
Penelitian terbaru pun menunjukkan bahwa masalah hallucination dan ketidaktepatan dukungan sumber masih menjadi tantangan dalam penggunaan LLM.
Karena itu, cara menggunakan AI secara lebih bertanggung jawab bukan dengan menghindarinya, melainkan mengetahui kapan jawaban perlu diperiksa dan bagaimana melakukan verifikasi.
Prinsip sederhananya adalah:
Gunakan AI untuk membantu mencari dan memahami informasi. Gunakan sumber terpercaya untuk memeriksa apakah informasi tersebut benar. (*)
Editor : Heri Sugiarto