
PADEK.JAWAPOS.COM -- Isu komunikasi lingkungan, mitigasi bencana, literasi digital, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) menjadi fokus pembahasan dalam Annual International Conference on Communication (AICCON) ke-6 yang digelar di Hotel ZHM Premier Padang, Rabu (22/7).
Konferensi internasional yang diselenggarakan Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi (ASPIKOM) tersebut diikuti akademisi ilmu komunikasi dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia serta sejumlah negara. Forum ini menjadi wadah bertukar gagasan mengenai tantangan komunikasi di tengah perubahan lingkungan dan pesatnya perkembangan teknologi digital.
Ketua Umum Pengurus Pusat ASPIKOM, Prof. Dr. Anang Sujoko, S.Sos., M.Si., D.Comm., mengatakan tema AICCON tahun ini disesuaikan dengan kondisi Sumatera Barat yang dalam beberapa waktu terakhir mengalami berbagai bencana alam, seperti banjir bandang, banjir, dan tanah longsor.
“Iven AICCON ini kami rancang menyesuaikan dengan kondisi Sumatera Barat yang beberapa waktu lalu mengalami bencana alam. Kami ingin seluruh dosen komunikasi Indonesia berpikir bersama mengapa ini terjadi dan bagaimana cara mitigasi bahkan recovery-nya,” ujar Anang.
Menurutnya, persoalan lingkungan tidak hanya dapat dipahami dari aspek fisik, tetapi juga perlu dikaji melalui pendekatan komunikasi yang mampu membangun kesadaran masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mengurangi risiko bencana.
Untuk memperkaya pembahasan, AICCON ke-6 menghadirkan sejumlah pembicara internasional, di antaranya akademisi dari Malaysia yang membahas komunikasi lingkungan, perwakilan Queensland University yang mengulas komunikasi untuk perubahan sosial, serta pakar media Merlyna Lim yang memaparkan perkembangan media di era digital.
Anang menilai edukasi kepada masyarakat mengenai media menjadi semakin penting seiring tingginya penetrasi teknologi digital.
“Bagaimanapun kita perlu mengedukasi masyarakat tentang media. Di era penetrasi teknologi digital yang sangat tinggi saat ini, masyarakat harus memahami bagaimana media bekerja dan bagaimana posisi audiens dalam bermedia,” katanya.
Ia menegaskan bahwa perkembangan teknologi digital tidak dapat dipisahkan dari nilai budaya, agama, dan kearifan lokal. Menurutnya, kemajuan teknologi tanpa diimbangi nilai-nilai tersebut berpotensi memunculkan berbagai persoalan sosial.
“Seolah-olah teknologi digital itu segalanya. Padahal dalam banyak kajian kami menemukan teknologi digital tidak bisa dilepaskan dari local wisdom, budaya, dan agama. Kalau ketiga hal itu tidak dikombinasikan, masyarakat bisa tercerabut dari nilai-nilai yang sebenarnya,” tegasnya.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




