PADEK.JAWAPOS.COM—Sabtu 31 Agustus 2024, Fakultas Pertanian Universitas Andalas (Faperta Unand) menggelar Wisuda IV tahun 2024 di Balai Sidang Jurnalis Kamil, yang diikuti 219 sarjana, magister, dan doktor. Terdiri atas 198 orang program S1, 19 orang program Magister S2, dan 2 orang program Doktor S3.
Dekan Fakultas Pertanian Unand Dr Ir Indra Dwipa MS menyampaikan, inflasi tidak hanya terjadi pada mata uang, tetapi saat ini ada juga Inflasi yang begitu masif yang terjadi di perguruan tinggi, yaitu inflasi nilai Indeks prestasi mahasiswa atau IPK mahasiswa.
“Dalam beberapa tahun terakhir, ada suatu fenomena menarik yang terjadi pada perguruan tinggi, yaitu mahasiswa mendapatkan IP dan IPK yang begitu tinggi, sehingga nilai tinggi bagi mahasiswa bukan lagi menjadi barang mewah,” ungkap Indra Dwipa.
Fenomena inflasi nilai ini tidak hanya terjadi di satu kampus saja, tetapi hampir di seluruh kampus di Indonesia. Anton Hendranata, Chief Economist PT BRI dan sebagai Dirut BRI Research Institute pernah membuat suatu tulisan yang berjudul Inflasi Nilai di Perguruan Tinggi.
Anton terusik akan fenomena ini. Saat ini, IPK mahasiswa 3,0 sudah bertebaran dan banyak pelamar kerja lulusan S1 yang IPK-nya di atas 3,5, yang artinya lulus dari perguruan tinggi dengan status Cumlaude atau Dengan Pujian.
“Peristiwa ini sangat bertolak belakang dengan alumni S-1 tahun 1980-an, generasi kami di mana untuk mendapatkan IPK 2,75 harus berdarah-darah karena ketatnya pemberian nilai dari dosen. Jika ada mahasiswa yang cumlaude, itu dianggap sebagai dari dunia lain,” ujar Dekan Faperta Unand.
Fenomena ini tentu juga menjadi catatan bagi perusahaan karena dengan IPK yang tinggi ini, perusahan juga akan menganggap IPK tinggi tidak menjamin kualitas personal lulusan tersebut sesuai yang perusahaan inginkan.
Ada suatu pernyataan menarik dari salah satu petinggi perusahaan perkebunan besar di Sumatera. Dia menyatakan yang dibutuhkan dari lulusan oleh perusahaannya yang pertama adalah attitude, yaitu bagaimana bersikap, baru kemudian diikuti oleh keterampilan dan pengetahuan, sehingga IPK bukan menjadi tolak ukur utama dalam mendapatkan pekerjaan di perusahaan mereka.
Seperti biasa, setiap wisuda perguruan tinggi selalu dibanjiri orangtua mahasiswa yang datang dari berbagai belahan Indonesia. Riswandi (50) juga terlihat datang bersama istrinya, Ena dan putra mereka, Raditya. Mereka merupakan keluarga Nadia Eka Putri, salah seorang dari 219 lulusan Faperta Unand tahun ini.
“Salah satu keinginan besar kita sebagai orangtua adalah bisa mengantarkan cita-cita anak-anak kita sesuai keinginannya. Nadia dari dulu tertarik dengan biologi, dan Alhamdulillah tahun 2019 lalu ia lulus di Prodi Agroteknologi, Departemen Agronomi, Faperta Unand,” ungkap Riswandi, saat ditemui di kampus Limau Manih.
Riswandi mengaku bersama istri dan anak bungsunya datang dari Kota Depok, Jawa Barat, dan mendarat di Kota Padang, Jumat pagi. “Alhamdulillah, anak kami Nadia lulus dengan prediket Sangat Memuaskan. Semoga ke depannya ia bisa melanjutkan kehidupannya dan masa depan dengan lebih baik,” ungkap Riswandi, alumni ‘92 SMAN 4 Padang itu. (hsn)
Editor : Hendra Efison