Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Smart Farming IoT dan Pakan Maggot Tingkatkan Produktivitas Perikanan Dharmasraya

Tandri Eka Putra • Jumat, 12 September 2025 | 12:09 WIB
Tim PKM di Sakato Farm, Juli 2025.
Tim PKM di Sakato Farm, Juli 2025.

PADEK.JAWAPOS.COM-Penerapan teknologi dalam budidaya perikanan kini menjadi strategi penting untuk meningkatkan efisiensi produksi sekaligus memperkuat ketahanan pangan.

Hal inilah yang mendasari tim dosen Universitas Dharmas Indonesia, Heri Sudibyo, M.Kom., dan Fauzi Tri Yuniko, M.Kom., bersama Eko Joko Guntoro, S.Pt., M.P. dari Universitas Muaro Bungo, melaksanakan program pendampingan di Pokdakan Sakato Farm, Nagari Sialang Gaung, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat.

“Integrasi teknologi produksi dengan digitalisasi manajemen terbukti mampu meningkatkan daya saing budidaya perikanan rakyat.

Ke depan, kami berharap model ini dapat direplikasi di kelompok pembudidaya lain di Sumatera Barat,” ujar Heri Sudibyo, ketua tim pengabdian, kepada redaksi melalui Siaran pers, Kamis 11 September 2025.

Heri Sudibyo menyebutkan pogram ini terlaksana berkat hibah Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) dalam skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat tahun 2025.

Kegiatan dilaksanakan pada bulan Juli 2025, meliputi sosialisasi, pelatihan teknis, pemasangan alat, pendampingan, hingga evaluasi.

Penerapan teknologi Smart Farming berbasis Internet of Things (IoT), kata Heri untuk pemantauan kualitas air, serta pemanfaatan pakan alternatif bernutrisi tinggi dari maggot Black Soldier Fly (BSF), menghasilkan dampak signifikan.

Data pendampingan mencatat efisiensi penggunaan pakan meningkat hingga 25%, tingkat kematian ikan menurun 30%, serta produktivitas dan nilai jual hasil panen meningkat.

"Selain itu, sistem pemantauan kualitas air berbasis IoT menjaga kestabilan lingkungan kolam," sebutnya. Dari aspek manajemen, pencatatan digital dan pemasaran online memperluas akses pasar.

Efeknya, biaya operasional kelompok berkurang 15–25% dan usaha lebih mandiri dengan penerapan prinsip zero waste melalui pemanfaatan limbah organik.

Program ini juga menghasilkan luaran konkret berupa sistem IoT sederhana, formulasi pakan mandiri, platform pemasaran digital, serta modul pelatihan.

Menurut data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) 2025, kontribusi subsektor perikanan budidaya terhadap PDB nasional mencapai Rp141,26 triliun, sehingga inovasi teknologi semacam ini penting untuk memperkuat daya saing.

Azriko, perwakilan Pokdakan Sakato Farm, menyampaikan apresiasi.

“Kami merasa sangat terbantu dengan adanya program ini. Dulu kami masih banyak mengalami kerugian karena pakan boros dan kualitas air sulit terjaga. Sekarang dengan teknologi IoT dan pakan maggot, usaha kami lebih efisien, ikan lebih sehat, dan pemasaran juga mulai meluas lewat platform digital. Harapan kami, pendampingan seperti ini bisa terus berlanjut agar kelompok kami semakin mandiri,” ungkapnya.

Sebagai tindak lanjut, program akan diperluas melalui pendampingan berkelanjutan, penguatan kelembagaan kelompok, serta fasilitasi akses permodalan.

"Harapan kami, Sakato Farm menjadi pionir dalam penerapan Smart Farming berbasis IoT dan pakan alternatif ramah lingkungan di tingkat lokal, sekaligus model nasional perikanan berkelanjutan," tutup Heri Sudibyo (*)

Editor : Tandri Eka Putra
#Heri Sudibyo #Universitas Dharmas Indonesia #Universitas Muaro Bungo #Smart Farming IoT #Produktivitas Perikanan