Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Mahasiswa Peternakan Unand Kembangkan Produksi Silase: Inovasi Pakan Ternak untuk Ketahanan Pangan di Musim Kemarau

Mengki Kurniawan • Sabtu, 1 November 2025 | 12:28 WIB

Mahasiswa Peternakan Unand mempraktikkan teknik pembuatan silase di Edufarm, Fakultas Peternakan. (Foto: Mengki Kurniawan/Padeks)
Mahasiswa Peternakan Unand mempraktikkan teknik pembuatan silase di Edufarm, Fakultas Peternakan. (Foto: Mengki Kurniawan/Padeks)
PADEK.JAWAPOS.COM—Musim kemarau selalu menjadi ujian berat bagi peternak di Indonesia. Produksi hijauan pakan menurun drastis, sedangkan kebutuhan konsumsi ternak tetap tinggi.

Dalam kondisi seperti ini, banyak peternak terpaksa membeli pakan tambahan dengan harga mahal atau mengurangi populasi ternaknya.

Namun, mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Andalas (Unand) menunjukkan bahwa solusi efektif bisa datang dari inovasi sederhana namun berbasis sains: silase, pakan fermentasi yang diawetkan untuk menjamin ketersediaan pakan sepanjang tahun.

Di bawah bimbingan Dr Riesi Sriagtula, mahasiswa Unand memproduksi silase sebagai bagian dari kegiatan praktik lapangan. Upaya ini bukan hanya latihan akademik, melainkan langkah nyata dalam mendukung ketahanan pakan nasional—isu yang semakin penting di tengah perubahan iklim dan fluktuasi harga pakan global.

Fermentasi Cerdas untuk Ternak Sehat

Silase merupakan pakan berkadar air tinggi yang diawetkan melalui fermentasi anaerob, yakni tanpa oksigen.

Bahan bakunya berupa hijauan bernutrisi tinggi seperti rumput gajah atau limbah pertanian, yang kemudian dicacah, dicampur dengan molase, dipadatkan, dan disimpan dalam wadah kedap udara.

Fermentasi alami ini menghasilkan asam laktat dari aktivitas bakteri, yang menurunkan tingkat pH pakan hingga 3,2–4,8.

Dalam kondisi tersebut, mikroorganisme perusak tidak dapat berkembang, sehingga pakan dapat bertahan 1–2 tahun tanpa kehilangan nilai gizi.

“Silase adalah kunci untuk menjamin ternak mendapat pakan berkualitas sepanjang tahun, terutama agar bobot ternak tidak menurun ketika stok hijauan segar minim,” jelas Dr. Riesi Sriagtula, Jumat (31/10/2025).

Tantangan Produksi dan Solusi Lapangan

Meski prosesnya terdengar sederhana, pembuatan silase memerlukan ketelitian tinggi. Ukuran potongan hijauan harus seragam agar fermentasi berjalan sempurna.

“Kendalanya biasanya karena tidak adanya chopper (mesin pencacah). Kalau mencacah manual, butuh waktu lama dan hasilnya tidak seragam,” tutur Dr. Riesi.

Keterbatasan alat ini tidak menyurutkan semangat mahasiswa. Dengan sistem kerja kelompok, mereka mencacah hijauan secara manual, lalu memastikan pemadatan sempurna agar udara tidak terperangkap dalam drum penyimpanan.

“Kami sadar risiko fermentasi gagal kalau potongannya tidak seragam. Tapi dengan kerja sama tim dan pemadatan maksimal, kami optimis hasilnya bagus,” kata Adi Nazif Putra (23), salah seorang mahasiswa peserta praktik.

Proses pemeraman silase membutuhkan waktu 6–8 minggu hingga siap digunakan. Setelah matang, pakan tersebut memiliki aroma asam yang wangi, warna hijau alami, dan tekstur lembap—tanda fermentasi berhasil.

Dari Kampus ke Peternak: Transfer Ilmu untuk Ketahanan Pakan

Inisiatif mahasiswa Unand ini menjadi bukti nyata bagaimana pendidikan vokasional dan riset terapan dapat memberi dampak langsung pada masyarakat.

Di tengah ancaman krisis pakan akibat perubahan iklim global, keahlian membuat silase menjadi bekal penting bagi calon peternak muda.

Dr. Riesi berharap keterampilan ini tidak berhenti di kampus. “Ilmu dan praktik pembuatan silase harus ditularkan kepada masyarakat peternak di Sumatera Barat. Dengan stok pakan seperti ini, mereka tidak perlu cemas menghadapi musim kemarau,” ujarnya.

Menurut data FAO (2024), lebih dari 60% biaya produksi peternakan di negara berkembang berasal dari pakan. Dengan menerapkan teknologi silase, efisiensi biaya dapat meningkat hingga 30–40%, sementara produktivitas ternak tetap stabil.

Tren global juga menunjukkan bahwa negara-negara seperti Brasil, India, dan Kenya mulai mengadopsi teknologi fermentasi pakan skala kecil berbasis komunitas—strategi yang kini juga mulai digalakkan di Indonesia melalui inisiatif kampus dan pelatihan peternak.

Menjaga Keberlanjutan dari Padang ke Dunia

Apa yang dilakukan mahasiswa Unand sejalan dengan misi besar ketahanan pangan nasional: memastikan suplai protein hewani tetap stabil meski iklim tak menentu. Dari perbukitan Limau Manis, inovasi kecil ini memberi harapan besar.

Silase bukan hanya soal pakan, tetapi tentang keberlanjutan dan kemandirian peternak lokal. Di tangan generasi muda, ilmu pengetahuan diubah menjadi praktik nyata yang menjawab tantangan global—dari Padang untuk Indonesia, bahkan dunia.(cr3)

Editor : Hendra Efison
#ketahanan pangan peternakan #pakan ternak fermentasi #silase Unand #inovasi mahasiswa