Kegiatan ini dipimpin oleh Dr. Yessy Markolinda, S.Si., M.Repro., bersama Dr. Mery Ramadani, S.KM., M.KM., Randy Novirsa, S.KM., M.KM., Ph.D., serta melibatkan mahasiswa Mardhiah Cahyani Budi Pujangga dan Nahda Fitry Ayendra.
Pengabdian masyarakat tersebut menjadi wujud pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi untuk merespons meningkatnya isu kesehatan mental di lingkungan kampus, khususnya di kalangan mahasiswa FKM Unand.
Kegiatan ini berangkat dari hasil penelitian yang sebelumnya dilakukan melalui penyebaran kuesioner berbasis Google Form kepada 234 mahasiswa dengan menggunakan instrumen stres akademik, self-efficacy, faktor sosial, dan dukungan pembimbing akademik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa stres akademik dialami oleh mahasiswa di berbagai tingkat, tidak hanya pada mahasiswa tingkat akhir. Mayoritas mahasiswa berada pada kategori stres sedang.
Kendati demikian, sebagian besar mahasiswa memiliki dukungan sosial dan kondisi sosioekonomi yang baik sehingga membantu mereka mengelola tekanan akademik.
Penelitian juga menemukan bahwa self-efficacy mahasiswa dominan berada pada kategori sedang. Sementara itu, dukungan dari dosen pembimbing akademik relatif rendah pada mahasiswa angkatan 2023 dan 2024, sehingga memerlukan perhatian lebih dari pihak fakultas.
Sebagai tindak lanjut dari temuan tersebut, tim pengabdian menyelenggarakan Webinar “Kesehatan Mental Mahasiswa dan Pentingnya Fasilitas Bimbingan Konseling di Fakultas”.
Kegiatan tersebut telah dilaksanakan pada Senin (24/11/2025) lalu melalui platform Zoom dan menghadirkan narasumber Psikolog Ibu Amatul Firdausa Nasa, M.Psi., Psikolog.
Dalam penyampaian materi, narasumber menegaskan bahwa gangguan kesehatan mental memiliki dampak luas terhadap kondisi fisik, emosional, sosial, hingga performa akademik mahasiswa.
Ketidakseimbangan hormon akibat stres berkepanjangan dapat menurunkan imunitas tubuh, memicu psikosomatis, serta mengganggu hubungan sosial antarindividu.
Dampak lanjutan berupa penurunan konsentrasi, motivasi, dan prestasi belajar menjadi tantangan serius yang harus dihadapi mahasiswa.
Webinar juga mendorong mahasiswa untuk membangun pola kerja yang realistis dan melakukan perubahan kecil secara konsisten guna meningkatkan kesejahteraan mental.
Melalui kebiasaan positif tersebut, mahasiswa diharapkan mampu memperoleh stabilitas emosi, meningkatkan self-efficacy, serta memperbaiki capaian akademik.
Kegiatan ditutup dengan pesan penguatan dari narasumber bahwa mahasiswa tidak perlu menjadi sempurna dalam segala hal. Yang diperlukan adalah langkah-langkah kecil namun berkelanjutan untuk mencapai kualitas hidup dan kesehatan mental yang lebih baik. (*)
Editor : Adetio Purtama