Budiono telah berjualan sejak 1992 dengan rute di kawasan Alai Parak Kopi, Kecamatan Padang Utara.
Setiap hari Budiono mengayuh sepeda dengan gerobak es menyusuri permukiman, sekolah, dan kampus.
Ia menyebut pendapatannya tidak menentu, berkisar sekitar Rp300 ribu per hari ketika kondisi cuaca mendukung.
Kepada Padang Ekspres, Minggu (7/12/2025), Budiono mengatakan hasil berjualan es tong-tong menjadi tumpuan hidupnya bersama istri yang membantu dengan menjual jamu.
Penghasilan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan pendidikan dua anaknya.
Motivasi untuk menyekolahkan anak muncul ketika ia berjualan di dekat prosesi wisuda sebuah kampus di Padang.
Seorang pembeli menceritakan bahwa keberhasilan pendidikan dapat diraih dengan kemauan dan semangat, yang kemudian menguatkan tekad Budiono.
Anak sulungnya, Yuni Sarah, diterima di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya pada program studi S1 Arsitektur.
Setiap bulan Budiono mengirimkan biaya kuliah dari hasil berjualan es dan jamu.
Setelah lulus strata satu, Yuni melanjutkan pendidikan magister Arsitektur di Universitas Atma Jaya.
Budiono menyatakan kebanggaannya saat menyaksikan prosesi wisuda putrinya yang meraih gelar S2.
Baca Juga: Korban Meninggal Banjir dan Longsor Sumbar Bertambah Jadi 228 Orang, 199 Telah Teridentifikasi
“Alhamdulillah, saya bisa mengkuliahkan anak saya dengan biaya sendiri,” ujarnya. Usai menamatkan pendidikan, anaknya kini bekerja di Jakarta.
Budiono menyebut perjuangannya belum selesai dan tetap berjualan es tong-tong keliling di Padang. Gerobaknya tetap menjadi sumber penghasilan utama keluarganya.(CR6)
Editor : Hendra Efison