PADEK.JAWAPOS.COM – International Student Research Forum ke-2 (ISRF-2) tahun 2026 mempertemukan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dalam dan luar negeri untuk mempresentasikan hasil riset serta bertukar gagasan mengenai teknologi, lingkungan, dan etika di tengah perkembangan dunia digital.
Forum yang mengusung tema “Cultivating Intellect, Preserving Nature, and Upholding Ethics in a Tech-Driven World” ini berlangsung sejak 23 April hingga puncak kegiatan pada 4 Juni 2026 di Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi.
Peserta berasal dari sejumlah perguruan tinggi, di antaranya UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, UIN Imam Bonjol Padang, STIKes Indonesia, Universiti Islam Selangor Malaysia, dan Universitas Münster Jerman.
Artikel ilmiah yang masuk terlebih dahulu melalui proses penilaian oleh dewan panelis. Mereka bertugas menelaah metodologi penelitian, analisis, serta kontribusi ilmiah dari setiap karya yang dipresentasikan.
Pada kluster Ilmu Pendidikan, dua akademisi dari Departemen Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Padang (FIP UNP) dipercaya menjadi panelis utama, yakni Dr. Nur Azmi Alwi dan Yesni Yenti, M.Pd. Keduanya juga bertugas di Program Studi Luar Kampus Utama Departemen PGSD Sawahlunto.
Dr. Nur Azmi Alwi menilai antusiasme mahasiswa dalam melakukan penelitian cukup tinggi. Namun, menurutnya, tantangan yang dihadapi peneliti muda saat ini adalah menjaga kualitas analisis dan kejujuran ilmiah di tengah melimpahnya informasi digital.
"Kami melihat antusiasme riset yang luar biasa dari para ilmuwan muda ini. Namun, tantangan terbesar mereka saat ini adalah bagaimana menjaga kedalaman analisis dan kejujuran ilmiah di tengah banjir informasi digital. Forum seperti ISRF-2 ini sangat krusial untuk melatih daya kritis, memastikan metodologi yang digunakan kokoh, serta membimbing mereka agar tidak terjebak pada kesimpulan yang instan atau bias," ujarnya.
Sementara itu, Yesni Yenti menilai para peserta menghadirkan berbagai gagasan yang relevan dengan kebutuhan pendidikan saat ini.
"Ide-ide yang disajikan para presenter sangat segar dan kontekstual. Mereka tidak hanya terjebak pada teori konvensional, tetapi berani mengintegrasikan pemanfaatan teknologi digital dengan pendekatan humanis dan nilai-nilai lokal untuk menyelesaikan problem di ruang kelas. Ini menunjukkan bahwa generasi peneliti muda kita memiliki kepekaan yang tinggi terhadap kebutuhan lanskap pendidikan masa depan," katanya.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, Dr. Edi Rosman, menjelaskan forum tersebut dirancang untuk mempertemukan perspektif lokal dan global dalam pengembangan riset mahasiswa.
Pada puncak kegiatan, forum juga menghadirkan Frans Dokman, peneliti senior dari Nijmegen Institute for Mission Studies di Radboud University, Belanda. Ia membagikan materi terkait formula penting dalam menghadapi bias riset global.
Kegiatan ditutup dengan pemberian penghargaan kategori Best Paper dan Best Presenter kepada peserta yang terpilih. Penghargaan tersebut menjadi bagian dari rangkaian penutup forum setelah seluruh peserta mengikuti proses presentasi dan penilaian karya ilmiah.(*)
Editor : Heri Sugiarto