Wali Nagari Sambungo, Kecamatan Silaut, Rasimin mengatakan kepada Padang Ekspres kemarin (28/9), budidaya nanas sebagaimana dilakukan oleh Bhabinkamtibmas di nagari itu merupakan salah satu upaya yang sangat tepat dan patut menjadi contoh oleh masyarakat.
“Sebab potensi lahan gambut untuk ditanami kelapa sawit oleh masyarakat di nagari ini sangat besar. Selama ini hanya dibiarkan begitu saja oleh pemilik. Karena setelah dilakukan uji coba oleh Bhabinkamtibmas sangat memiliki nilai tambah secara ekonomi, maka sangat patut untuk dicontoh,” katanya.
Dia juga mengatakan, ke depan pihaknya akan melakukan kerja sama dengan Bhabinkamtibmas untuk melakukan budidaya nanas di nagari itu. “Kerja sama ini kita rencanakan, karena nagari memiliki lahan kas nagari seluas 8 hektare. Pada lahan ini kita akan melakukan pengembangannya bersama Badan Usaha Milik (BUM) Nagari,” ujarnya.
Camat Siluat, Samwil mengatakan, pihaknya memang terus memberikan dorongan kepada semua wali nagari di kecamatan itu untuk selalu berkoordinasi dengan Bhabinkamtibmas, dalam memanfaatkan potensi nagari agar memiliki nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.
“Upaya ini ternyata telah diperlihatkan dan dibuktikan oleh Bhabinkamtibmas Nagari Sambungo, Bripka Rizki Abdul Hakim, melalui pengembangan budidaya nanas pada perkebunan kelapa sawit secara sela seluas 2 hektare,” katanya.
Dia mengatakan, potensi pengembangan budidaya nanas itu memang sangat besar di Nagari Sambungo tersebut. “Sekarang tinggal lagi keinginan dan kemauan masyarakat. Sebab untuk belajar bagaimana cara membudidayakan nanas itu, Bhabinkamtibmas Nagari Sambungo, Bripka Rizki Abdul Hakim, setelah saya hubungi siap sedia untuk mengajarkannya,” kata Samwil lagi.
Bhabinkamtibmas Nagari Sambungo, Bripka Rizki Abdul Hakim mengatakan, jenis nanas yang dibudidayakan pada lahan gambut perkebunan kelapa sawit itu adalah jenis batu.
“Pada lahan seluas 1 hektare perkebunan kelapa sawit ini, bisa kita tanam sebanyak 5000 batang nanas, dengan modal Rp 9 juta. Ini tentu sangat menguntungkan, sebab setelah dipanen, harga 1 kilogramnya terjual Rp 3 ribu hingga Rp 5 ribu,” jelasnya.
Ditambahkannya, jika rata-rata 1 batang menghasilkan buah 2 kilogram saja, maka panen yang didapatkan bisa mencapai 10 ton. “Jika dikalikan dengan harga terendah Rp 3 ribu per kilogram, maka untuk satu kali panen dalam rentang waktu lima bulan kita akan mendapatkan hasil panen Rp 30 juta, dikurang modal Rp 9 juta, maka keuntungannya Rp 21 juta. Makanya saya mengajak petani sawit di nagari ini untuk mau melakukan budidaya nanas ini,” ungkapnya.
Untuk saat ini pasar nanas yang sudah dipanen baru sebatas lokal. “Untuk saat ini kita baru bisa menjangkau pasar lokal. Sebab hasil panen kita masih terbatas. Jika masyarakat mau melakukan budidayanya nanti, maka kita akan berupaya pula menjangkau pasar luar daerah. Sebab permintaan konsumen untuk jenis buahan ini cukup bagus di pasaran,” ujarnya. (yon) Editor : Novitri Selvia