PADEK.JAWAPOS.COM-Harga cabai merah di Kabupaten Pesisir Selatan mengalami kenaikan signifikan sejak pekan terakhir. Komoditas yang sebelumnya bertahan di bawah Rp 30 ribu per kilogram selama beberapa bulan, kini melonjak hingga Rp 80 ribu per kilogram.
Gusnandar 40, pedagang cabai di Pasar Sago, Kecamatan IV Jurai Pessel, mengatakan kenaikan harga cabai terjadi secara bertahap dalam sepekan terakhir. “Harga diprediksi masih akan terus naik,” ujarnya kepada Padang Ekspres, kemarin.
Menurut Gusnandar, lonjakan harga tidak hanya disebabkan karena akan masuknya Ramadhan, tetapi lebih dipengaruhi terbatasnya produksi.
“Rata-rata cabai petani lokal di daerah ini sudah memasuki masa tua dan sudah mengalami penurunan produksi. Kalaupun petani sudah kembali mulai menanam, paling panennya empat bulan ke depan. Kondisi ini lah yang membuat harga naik, di samping juga terbatasnya pasokan dari luar daerah, seperti cabai asal Kerinci Jambi, dan cabai Jawa,” jelasnya.
Ahmad 48, pedagang lainnya di Pasar Inpres Painan mengakui saat ini pasokan cabai dari luar daerah terbatas. “Sebagai pedagang pengecer, kami hanya mendapat sedikit karena harus berbagi dengan pedagang lain,” ungkapnya.
Sebagai pedagang eceran, biasanya dia juga membeli cabai dari petani lokal di samping cabai dari luar daerah. “Saat ini kami di kisaran Rp 60 ribu hingga Rp 70 ribu per kilogram, tergantung cara kita menawar. Biasanya kalau sudah terbayang ada untungnya, kita akan beli,” akunya.
Zul Apriyandi, 51, petani cabai di Nagari Painan Timur mengatakan saat ini tanaman cabainya sudah mengalami penurunan masa produksi.
“Panen terakhir Senin lalu hanya menghasilkan 15 kilogram. Namun, melihat kondisi dahan yang masih bagus, ada kemungkinan bisa memasuki masa panen kedua,” tuturnya.
Sayuran Melejit
Di Pariaman, harga sayuran mengalami kenaikan sejak tiga hari terakhir. Sayuran yang umumnya dipasok dari Alahanpanjang Kabupaten Solok dan Kota Padangpanjang mengalami kenaikan dari Rp 5.000 hingga Rp 8.000 per kilogram.
Begitu juga komoditi lain seperti tomat yang biasanya stabil Rp 8.000 naik menjadi Rp 12 ribu. Begitu juga wortel naik dari Rp 8 ribu menjadi Rp 12 ribu.
Kenaikan harga cukup tinggi terjadi pada buncis yang sebelumnya stabil Rp 10 ribu saat ini naik menjadi Rp 15 ribu. Bawang merah Rp 30 ribu per kilogram ikut naik Rp 40 ribu per kilogram.
“Iya, tiga hari terakhir harga sayuran naik terus. Faktor cuaca sepertinya. Karena hari terus hujan, banyak petani yang tidak bisa panen sehingga pasokan kurang,” ujar Armen, 48, pedagang sayur di Pasar Pariaman, kemarin.
Untuk harga cabai merah keriting, saat ini harganya fluktuatif. Ia menyebut Selasa (21/1) harga cabai Rp 60 ribu per kilogram, saat ini Rabu (22/1) turun menjadi Rp 52 ribu per kilogram.
Untuk jenis sembako lainnya seperti beras, minyak goreng dan gula relatif stabil. Harga beras premium masih stabil Rp 17 ribu per kilogram, beras kampung Rp 15 ribu per kilogram.
Gula pasir kualitas super Rp 18 ribu perkilogram, gula kualitas standar Rp 17 ribu per kilogram. Untuk minyak goreng juga tetap Rp 19 ribu per kilogram.
“Untuk pasokan sembako relatif aman. Biasanya akan terus naik secara bertahap hingga Ramadhan nanti,” tuturnya.
Sementara itu, Nora, salah seorang warga yang tengah berbelanja di pasar menyebut kenaikan harga sayuran membuatnya cukup kewalahan.
Hal ini karena sayuran seperti wortel dan sayur sawi merupakan salah satu jenis sayuran pelengkap yang ia jual di warung makan ampera miliknya. Sayur bening sawi campur wortel juga merupakan salah satu jenis sayuran yang disukai konsumen.
Keluhkan Harga Ikan
Masyarakat di wilayah Sipora Utara masih mengeluhkan tidak adanya pengaturan harga ikan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Jalan Raya Tuapejat KM 2, Sipora Utara.
Di samping selisih harga jual ikan yang jauh berbeda dibandingkan kecamatan lainnya, juga cenderung naik secara drastis saat musim cuaca kurang kondusif.
Vina, 35, salah seorang warga di Sipora Utara menilai perbandingan harga jual ikan di Sipora Utara dengan kecamatan lainnya di Mentawai sangat jauh berbeda, seperti di Siberut dan Sikakap.
Sementara, biaya operasional melaut juga tidak lagi besar, karena kondisi harga BBM sudah stabil atau merata.
“Sangat ironis, di Sikakap saja kita masih bisa beli ikan Rp 15 ribu untuk dua kali makan. Kalau di Tuapejat, hanya bisa satu kali makan dengan harga yang mencapai Rp 35 ribu untuk sekali makan,” katanya.
Bahkan, harga jual ikan di Mentawai jauh lebih tinggi dibandingkan dengan daerah daratan di Sumbar.
“Kalau kita perhatikan, konsumsi masyarakat akan ikan di Mentawai lebih sedikit dibandingkan ayam potong. Sebab, harga ayam potong cenderung lebih stabil dibandingkan harga ikan. Bahkan, ketika kita komplen kepada pengepul di lapak TPI, mereka dengan mudah berkata kalau yang murah, silahkan tangkap ikan sendiri,” katanya.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Kepulauan Mentawai, Zakirman saat dikonfirmasi wartawan, Rabu, (22/1) belum menanggapi mengenai kondisi harga ikan yang lebih mahal di pusat ibukota kabupaten dibandingkan kecamatan lainnya di Kepulauan Mentawai. (yon/nia/rif)
Editor : Novitri Selvia