Bupati Pessel Hendrajoni menyampaikan balimau paga merupakan warisan budaya yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Pessel, termasuk juga di Nagari Painan. Tradisi tersebut tidak sekadar membersihkan makam, tetapi menjadi simbol pembersihan diri lahir dan batin menjelang Ramadan.
Menurut Hendrajoni, masyarakat melalui balimau paga menghormati leluhur dengan doa dan gotong royong membersihkan area makam. Masyarakat juga mempererat silaturahmi serta menanamkan nilai adat kepada generasi muda.
Ia menjelaskan, tradisi tersebut memiliki tiga makna utama. Pertama, masyarakat menunjukkan penghormatan kepada leluhur. Kedua, masyarakat memperkuat persatuan dan kebersamaan tanpa memandang perbedaan. Ketiga, masyarakat mempersiapkan diri menyambut Ramadan dengan hati yang bersih dan penuh ketaqwaan.
”Membersihkan pagar melambangkan upaya membersihkan hati dari dosa dan kesalahan,” ujar Hendrajoni.
Ia menambahkan, Pemkab Pessel akan akan terus mendukung pelestarian budaya lokal sebagai bagian dari pembangunan daerah. Sebab ia meyakini kemajuan daerah dapat berjalan seiring dengan penguatan nilai adat dan agama. Dari itu, ia berharap masyarakat Nagari Painan dapat menyambut Ramadhan dengan kesiapan spiritual yang lebih baik.
”Saya menyampaikan apresiasi kepada panitia dan seluruh masyarakat yang telah menyukseskan tradisi balimau paga ini,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua LKAAM Pesisir Selatan, Syafrizal Ucok, Datuak Nan Butuah, menilai balimau paga sebagai bentuk nyata sinergi antara adat dan agama dalam kehidupan masyarakat Minangkabau.
Ia menegaskan, adat tidak bertentangan dengan ajaran Islam, melainkan menjadi sarana memperkuat nilai spiritual menjelang bulan suci. Menurut Syafrizal, kegiatan tersebut mengajarkan generasi muda untuk mengenal sejarah dan menghargai perjuangan leluhur.
Ia menyebut, pelestarian tradisi harus dilakukan secara konsisten agar nilai Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah tetap terjaga dalam kehidupan bermasyarakat.
Ia juga mengajak ninik mamak dan tokoh masyarakat untuk terus membimbing anak kemenakan agar aktif dalam kegiatan adat.
”Perlu diketahui, keterlibatan generasi muda menjadi kunci keberlanjutan tradisi di tengah arus modernisasi,” katanya. (*)
Editor : Eri Mardinal