PADEK.JAWAPOS.COM -- Pasca ambruknya Jembatan Anduriang akibat bencana hidrometeorologi yang disertai banjir bandang (galodo), ribuan warga hingga kini masih mengandalkan rakit sederhana yang terbuat dari tong oli bekas untuk menyeberangi Batanganai. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius pemerintah karena dinilai membahayakan keselamatan masyarakat yang setiap hari melintasi sungai untuk beraktivitas.
Selain menjadi penghubung antarwilayah, jalur tersebut juga merupakan akses penting bagi warga yang bekerja di sektor pertanian, perkebunan, perdagangan, hingga pelajar yang harus berangkat ke sekolah. Putusnya jembatan membuat mobilitas masyarakat terganggu dan memaksa warga mencari alternatif penyeberangan yang jauh dari standar keamanan.
Pemerintah daerah menilai penggunaan rakit darurat tidak bisa dibiarkan berlangsung dalam waktu lama. Oleh karena itu, setelah pekerjaan normalisasi sungai selesai dilakukan, pemerintah akan segera menyiapkan akses darurat yang lebih aman bagi masyarakat.
“Pada prinsipnya, Bapak Bupati meminta agar rakit ini tidak ada lagi. Karena secara keselamatan sangat berisiko, baik bagi petugas maupun masyarakat yang menggunakannya,” tegas Kepala Dinas PUPR Padangpariaman El Abdes, kemarin.
Menurutnya, keselamatan warga harus menjadi prioritas utama. Ia tidak ingin adanya korban akibat penggunaan sarana penyeberangan yang tidak memenuhi standar keamanan. “Jangan sampai kembali terjadi insiden warga hanyut saat melintas. Ini yang menjadi perhatian utama pemerintah daerah,” ujarnya.
El Abdes menegaskan bahwa keberadaan akses darurat nantinya diharapkan dapat mengurangi risiko yang selama ini dihadapi masyarakat saat menyeberangi Batang Anai. “Kami ingin masyarakat memiliki akses yang lebih aman untuk beraktivitas. Karena itu, setelah normalisasi selesai, akses darurat akan segera disiapkan agar penggunaan rakit bisa dihentikan,” katanya.
Robohnya Jembatan Anduriang tidak hanya berdampak pada sektor transportasi, tetapi juga memberikan pukulan terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. Banyak warga yang menggantungkan penghidupan dari hasil pertanian dan perkebunan mengalami kesulitan dalam mendistribusikan hasil produksi akibat terputusnya jalur penghubung. “Jembatan ini memiliki peran penting bagi masyarakat. Bukan hanya untuk mobilitas harian, tetapi juga untuk mendukung kegiatan ekonomi warga,” ujar El Abdes.
Kembali Dibangun Permanen
Sementara itu, pemerintah memastikan pembangunan kembali Jembatan Anduriang secara permanen akan direalisasikan melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN). Jembatan yang ambruk akibat bencana galodo tersebut akan dibangun dengan spesifikasi yang lebih kuat dan modern guna menjamin kelancaran konektivitas masyarakat dalam jangka panjang. “Setelah normalisasi sungai selesai, Jembatan Anduriang akan dibangun kembali secara permanen oleh BPJN,” kata El Abdes, kemarin.
Ia menjelaskan, pembangunan jembatan tersebut merupakan tindak lanjut dari arahan pemerintah pusat serta komitmen yang telah disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten Padangpariaman.
“Sesuai arahan Wakil Menteri PUPR dan komitmen yang telah disampaikan kepada Bupati Padangpariaman, pembangunan jembatan ini akan mulai dijalankan tahun ini,” ujarnya.
Berdasarkan perencanaan yang telah disusun, Jembatan Anduriang akan memiliki panjang total 140 meter yang terdiri dari dua bentang masing-masing sepanjang 70 meter. Jembatan itu juga dirancang dengan lebar 6 meter dan dilengkapi trotoar di kedua sisi masing-masing selebar 0,5 meter. “Jembatan ini akan menggunakan struktur rangka baja tipe B70 dengan pondasi bore pile berdiameter 800 milimeter,” ungkapnya.
Untuk mendukung pembangunan tersebut, pemerintah mengalokasikan anggaran sekitar Rp45,2 miliar yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). “Pembangunan jembatan ini akan didukung anggaran sekitar Rp45,2 miliar yang berasal dari APBN,” tutur El Abdes.
Jembatan Anduriang merupakan infrastruktur vital yang menghubungkan dua kawasan penting di Kecamatan 2x11 Kayutanam, yakni Nagari Kayutanam dan Nagari Anduriang. Kehadiran kembali jembatan tersebut diharapkan mampu memulihkan aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat yang sempat terganggu akibat bencana.
“Dengan selesainya pembangunan nanti, akses masyarakat yang selama ini terganggu diharapkan kembali normal, aman, dan dapat mendukung aktivitas perekonomian warga,” katanya.
Seiring berjalannya proses normalisasi sungai dan kepastian pembangunan jembatan permanen, masyarakat kini menaruh harapan besar agar akses transportasi yang sempat terputus selama berbulan-bulan dapat segera kembali berfungsi secara optimal. (apg)
Editor : Adriyanto Syafril