Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Jembatan Anduriang Akan Dibangun Kembali, Ribuan Warga Padangpariaman Masih Andalkan Rakit Batang Anai

Aris Prima Gunawan • Rabu, 17 Juni 2026 | 08:45 WIB
Warga hingga kini masih mengandalkan rakit sederhana yang terbuat dari tong oli bekas untuk menyeberangi Batanganai. (DOK PEMKAB PADANGPARIAMAN)
Warga hingga kini masih mengandalkan rakit sederhana yang terbuat dari tong oli bekas untuk menyeberangi Batanganai. (DOK PEMKAB PADANGPARIAMAN)

PADEK.JAWAPOS.COM -- Pasca ambruknya Jembatan Anduriang akibat bencana hid­rometeorologi yang disertai banjir bandang (galodo), ribuan warga hingga kini masih mengandalkan rakit sederhana yang terbuat dari tong oli bekas untuk menyeberangi Batanganai. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius pemerintah karena dinilai membahayakan keselamatan masyarakat yang setiap hari me­lintasi sungai untuk beraktivitas.

Selain menjadi penghu­bu­ng antarwilayah, jalur tersebut juga merupakan akses penting bagi warga yang bekerja di sektor pertanian, perkebunan, perdagangan, hingga pelajar yang harus berangkat ke seko­lah. Putusnya jembatan membuat mobilitas masyarakat terganggu dan memaksa warga mencari alternatif penyebera­ngan yang jauh dari standar ke­amanan.

Pemerintah daerah menilai penggunaan rakit darurat tidak bisa dibiarkan berlangsung dalam waktu lama. Oleh karena itu, setelah pekerjaan normalisasi sungai selesai dilakukan, pemerintah akan segera menyiapkan akses darurat yang lebih aman bagi masyarakat.

“Pada prinsipnya, Bapak Bupati meminta agar rakit ini tidak ada lagi. Karena secara keselamatan sangat berisiko, baik bagi petugas maupun masya­rakat yang menggunakannya,” tegas Kepala Dinas PUPR Pa­da­ngpariaman El Abdes, kemarin.

Menurutnya, keselamatan warga harus menjadi prioritas utama. Ia tidak ingin adanya korban akibat penggunaan sarana penyeberangan yang tidak memenuhi standar keamanan. “Jangan sampai kembali terjadi insiden warga hanyut saat me­lintas. Ini yang menjadi perhatian utama pemerintah dae­rah,” ujarnya.

El Abdes menegaskan bahwa keberadaan akses darurat nantinya diharapkan dapat mengurangi risiko yang selama ini dihadapi masyarakat saat menyeberangi Batang Anai. “Kami ingin masyarakat memiliki akses yang lebih aman untuk beraktivitas. Karena itu, setelah normalisasi selesai, akses darurat akan segera disiapkan agar penggunaan rakit bisa dihentikan,” katanya.

Robohnya Jembatan An­duriang tidak hanya berdampak pada sektor transportasi, tetapi juga memberikan pukulan terhadap aktivitas ekonomi ma­syarakat. Banyak warga yang menggantungkan penghidupan dari hasil pertanian dan perkebunan mengalami kesulitan dalam mendistribusikan hasil produksi akibat terputusnya jalur penghubung. “Jembatan ini memiliki peran penting bagi ma­sya­rakat. Bukan hanya untuk mo­bili­tas harian, tetapi juga untuk mendukung kegiatan ekonomi warga,” ujar El Abdes.

Kembali Dibangun Permanen

Sementara itu, pemerintah me­mastikan pembangunan kem­bali Jembatan Anduriang secara permanen akan direa­lisasikan melalui Balai Pelaksa­naan Jalan Nasional (BPJN). Jembatan yang ambruk akibat bencana galodo tersebut akan di­ba­ngun dengan spesifikasi yang lebih kuat dan modern g­u­na menjamin kelancaran ko­nek­tivitas masyarakat dalam jangka panjang. “Setelah normalisasi sungai selesai, Jembatan An­duriang akan dibangun kembali secara permanen oleh BPJN,” kata El Abdes, kemarin.

Ia menjelaskan, pembangunan jembatan tersebut merupakan tindak lanjut dari arahan pemerintah pusat serta komitmen yang telah disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten Padangpariaman.

“Sesuai arahan Wakil Menteri PUPR dan komitmen yang telah disampaikan kepada Bupati Padangpariaman, pembangunan jembatan ini akan mulai dijalankan tahun ini,” ujarnya.

Berdasarkan perencanaan yang telah disusun, Jembatan Anduriang akan memiliki panjang total 140 meter yang terdiri dari dua bentang masing-masing sepanjang 70 meter. Jembatan itu juga dirancang dengan lebar 6 meter dan dilengkapi trotoar di kedua sisi masing-masing selebar 0,5 meter. “Jembatan ini akan menggunakan struktur rangka baja tipe B70 dengan pondasi bore pile berdiameter 800 milimeter,” ungkapnya.

Untuk mendukung pembangunan tersebut, pemerintah mengalokasikan anggaran sekitar Rp45,2 miliar yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). “Pembangunan jembatan ini akan didukung anggaran sekitar Rp45,2 miliar yang berasal dari APBN,” tutur El Abdes.

Jembatan Anduriang me­rupakan infrastruktur vital yang menghubungkan dua kawasan penting di Kecamatan 2x11 Kayutanam, yakni Nagari Ka­yu­tanam dan Nagari Anduriang. Kehadiran kembali jembatan tersebut diharapkan mampu memulihkan aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat yang sempat terganggu akibat bencana.

“Dengan selesainya pembangunan nanti, akses ma­syarakat yang selama ini terga­nggu diharapkan kembali normal, aman, dan dapat mendukung aktivitas perekonomian warga,” katanya.

Seiring berjalannya proses normalisasi sungai dan kepastian pembangunan jembatan permanen, masyarakat kini menaruh harapan besar agar akses transportasi yang sempat terputus selama berbulan-bulan dapat segera kembali berfungsi secara optimal. (apg)

Editor : Adriyanto Syafril
#Jembatan Anduriang #infrastruktur Sumbar #jembatan putus #Batang Anai #bencana galodo sumbar