PADEK.JAWAPOS.COM -- Pengukuhan tujuh guru besar baru di Universitas Andalas (Unand), Sabtu (27/6), tak sekadar menambah daftar profesor kampus itu. Salah satu gagasan yang mencuri perhatian justru datang dari Prof Helmizar yang mengangkat dadih, panganan tradisional Minangkabau, sebagai salah satu solusi ilmiah untuk menekan angka stunting di Indonesia.
Dalam orasi ilmiahnya saat dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat, Prof Helmizar memaparkan hasil riset yang menunjukkan suplementasi dadih selama kehamilan, terutama bila dikombinasikan dengan zink, mampu memperbaiki status gizi ibu, meningkatkan mikronutrien, memperkuat sistem imun ibu dan bayi, serta menurunkan risiko defisiensi zink pada ibu hamil.
Penelitian lanjutan hingga anak berusia dua tahun juga memperlihatkan prevalensi stunting, kurang gizi, dan kurus cenderung lebih rendah pada kelompok yang ibunya mendapat intervensi dadih dan zink dibanding kelompok kontrol.
Tak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik, penelitian tersebut menemukan sebagian besar anak memiliki perkembangan kognitif, bahasa, dan motorik dalam kategori normal hingga superior berdasarkan pengukuran Bayley Scale III.
Menurut Helmizar, keberhasilan menciptakan generasi Indonesia Emas 2045 tidak cukup hanya mengandalkan intervensi gizi. Periode 1.000 hari pertama kehidupan harus diperkuat dengan pola asuh yang tepat. Ia menilai kearifan lokal Minangkabau melalui tradisi manjujai juga terbukti mendukung perkembangan kognitif, bahasa, dan sosial emosional anak. “Dadih merupakan fermentasi susu kerbau tradisional yang kaya protein, asam amino esensial, mineral, serta mengandung bakteri asam laktat yang berfungsi sebagai probiotik,” ujarnya.
Gagasan tersebut menjadi salah satu warna dalam pengukuhan tujuh guru besar Unand yang digelar di Gedung Convention Hall Kampus Limau Manis. Selain Prof. Helmizar, profesor yang dikukuhkan ialah Prof Silvia Rosa, Prof Ike Revita, Prof Rima Semiarty, Prof Azrimaidaliza, Prof Masyhuri Hamidi dan Prof Mas Mera.
Dengan penambahan tujuh profesor tersebut, Unand kini memiliki 230 guru besar yang tersebar di 15 fakultas. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam menjadi penyumbang profesor terbanyak dengan 41 orang, disusul Fakultas Teknik sebanyak 34 orang, serta Fakultas Pertanian dan Fakultas Peternakan masing-masing 29 orang.
Rektor Unand, Efa Yonnedi PhD menegaskan jabatan guru besar bukanlah garis akhir karier akademik, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk memimpin pengembangan ilmu pengetahuan, memperkuat riset, serta menghasilkan inovasi yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Ia mendorong para profesor meningkatkan publikasi ilmiah bereputasi, memperluas kolaborasi nasional dan internasional, serta mempercepat hilirisasi hasil penelitian agar mampu menjawab tantangan di bidang kesehatan, pangan, energi, lingkungan, teknologi, ekonomi, hingga kebijakan publik. Bagi Unand, bertambahnya guru besar bukan sekadar capaian angka, tetapi penguatan modal intelektual agar kampus mampu menghadirkan riset yang berdampak langsung bagi pembangunan daerah, nasional, dan pencapaian target pembangunan berkelanjutan (SDGs). (r)
Editor : Adriyanto Syafril