Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

IHSG Berpeluang Menguat Terbatas

j
Penulis: jpg❯
Layar pergerakan IHSG di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (14/5/2025).
Layar pergerakan IHSG di Gedung Bursa Efek Indonesia. (DOK PADEK)

Advertisement

PADEK.JAWAPOS.COM -- Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih dibayangi sentimen global pada pekan ini. Meski berpeluang menguat secara terbatas, tekanan dari arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS), saham-saham teknologi berbasis AI (AI), hingga ketidakpastian geopolitik diperkirakan membuat pasar bergerak dalam fase konsolidasi.

Praktisi pasar modal Hans Kwee memperkirakan IHSG bergerak pada area support 5.677-5.830 dan resistance 6.056-6.226.

Menurut Hans, perhatian pelaku pasar masih tertuju pada saham-saham produsen chip AI di Wall Street. Valuasi yang sudah tinggi membuat sektor teknologi rentan terkoreksi apabila laporan keuangan emiten tidak mampu memenuhi ekspektasi investor. “Tekanan pada sektor teknologi juga memengaruhi pergerakan saham di bursa Eropa maupun Asia,” ujarnya, kemarin (28/6).

Advertisement

Dari sisi makroekonomi, pasar juga mencermati kenaikan Indeks Harga Belanja Konsumsi Pribadi (PCE) AS yang mencapai 4,1 persen pada Mei. Inflasi yang masih tinggi, terutama dipicu kenaikan harga energi, dinilai membuka peluang Bank Sentral AS (Federal Reserve) kembali menaikkan suku bunga pada September mendatang.

“Pandangan pelaku pasar saat ini lebih mengarah pada potensi kelebihan pasokan minyak dalam waktu dekat. Ada peluang banjir pasokan sehingga harga minyak berpotensi tetap tertekan,” katanya.

Dari dalam negeri, nilai tukar rupiah juga diperkirakan masih menghadapi tekanan. Selain terdampak penguatan dolar AS, inflasi domestik diperkirakan meningkat setelah penyesuaian harga BBM nonsubsidi. Sementara itu, cadangan devisa yang menyusut akibat intervensi Bank Indonesia turut menjadi faktor yang membebani rupiah.

Advertisement

Di tengah berbagai sentimen negatif tersebut, masih terdapat katalis positif bagi pasar domestik. Salah satunya keputusan MSCI yang tetap menempatkan Indonesia dalam kelompok Emerging Market, meski disertai sejumlah catatan.

Investor juga menantikan hasil penilaian Sovereign Credit Rating dari S&P Global yang dijadwalkan diumumkan pekan ini. “Hasil pemeringkatan tersebut berpotensi menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan domestik,” ucapya.

Sementara itu, perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang 22-26 Juni 2026 ditutup di zona merah. Sekretaris Perusahaan BEI Kautsar Primadi Nurahmad menyampaikan, IHSG terkoreksi 4,55 persen menjadi 5.896,13, dari posisi 6.177,14 pada pekan sebelumnya.

Sejalan dengan pelemahan indeks, kapitalisasi pasar BEI turun 4,51 persen menjadi Rp 10.302 triliun, dibandingkan Rp 10.788 triliun pada pekan sebelumnya. “Rata-rata frekuensi transaksi harian juga turun 22,95 persen menjadi 1,73 juta kali transaksi,” ucapnya.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Padang EkspresIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Sentimen Positif, IHSG Diprediksi Menguat

Sentimen Positif, IHSG Diprediksi Menguat

Tekanan dari pasar global masih menjadi bayang-bayang bagi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)

IHSG Berpeluang Lanjut Menguat, Ditopang Nilai Tukar Rupiah dan Arus Dana Asing

IHSG Berpeluang Lanjut Menguat, Ditopang Nilai Tukar Rupiah dan Arus Dana Asing

Penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih berlanjut pada pekan ini meski pergerakannya cenderung terbatas. Kombinasi penguatan

Pasar Bursa Respons Negatif Badan Ekspor

Pasar Bursa Respons Negatif Badan Ekspor

Pasar saham domestik makin tertekan setelah pemerintah mengumumkan pembentukan badan ekspor.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer