Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pasar Bursa Respons Negatif Badan Ekspor

A
Penulis: Adriyanto Syafril❯
Pekerja berjalan di dekat layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (21/5). (DHEMAS REVIYANT/ANTARA FOTO)
Pekerja berjalan di dekat layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (21/5). (DHEMAS REVIYANT/ANTARA FOTO)

Advertisement

PADEK.JAWAPOS.COM - Pasar saham domestik makin tertekan setelah pemerintah mengumumkan pembentukan badan ekspor. Bahkan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hampir di bawah level 6.000. Pada akhir perdagangan kemarin (21/5), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 3,54 persen dibanding sehari sebelumnya atau berada di level 6.094,94. Investor dinilai masih menunggu kepastian terkait dampak kebijakan tersebut terhadap dunia usaha dan pasar keuangan.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, pelemahan IHSG lebih dipicu kekhawatiran sementara akibat ketidakpastian implementasi kebijakan. “Mungkin mereka belum tahu dampak sebenarnya seperti apa. Kalau ada ketidakpastian biasanya takut jual dulu. Tapi kalau nanti mengerti dampaknya, harganya akan naik,” ucapnya.

Dia meyakini keuntungan perusahaan, terutama emiten yang memiliki afiliasi luar negeri, nantinya akan tercermin lebih jelas dalam laporan keuangan. “Harusnya ini akan meningkatkan valuasi perusahaan-perusahaan yang sudah listing di bursa. Pelan-pelan akan naik secara signifikan,” tambahnya.

Advertisement

Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia Pandu Sjahrir menambahhkan, pasar masih mencari kepastian terhadap arah kebijakan baru tersebut. “Mereka perlu mencari certainty juga, ingin tahu hasilnya,” katanya.

Sementara itu, Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) dalam waktu dekat bakal menggelar diskusi untuk meminta masukan emiten yang terdampak atas rencana pemerintah memperketat tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam (SDA). Direktur Eksekutif Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) Gilman Pradana menerangkan, hingga saat ini emiten terkait belum menyampaikan pandangannya.

Dengan begitu, AEI belum mengetahui secara rinci risiko yang dapat ditimbulkan dari pembentukan anak usaha baru Danantara ini. “Biasanya nanti kami akan ada survei juga ke mereka untuk coba melihat persepsi mereka atau masukan-masukan yang juga bisa kami bantu advokasikan. Tapi sejauh ini memang, karena baru kemarin [diresmikan], jadi belum ada apa-apa,” katanya kepada wartawan di Gedung Bursa Efek Indonesia

Advertisement

BI Rate Solusi Jangka Pendek

Di sisi lain, kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI) dinilai menjadi langkah penting untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global yang semakin kuat. Kebijakan menaikkan BI-rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen dianggap cukup efektif menahan gejolak rupiah dalam jangka pendek, meski berpotensi menekan sektor riil domestik.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman mengatakan, langkah agresif BI diperlukan setelah rupiah sempat bergerak di kisaran Rp17.600 hingga Rp17.700 per dolar AS.

Menurut dia, kebijakan suku bunga yang lebih tinggi diambil untuk menjaga kepercayaan pasar sekaligus mencegah tekanan terhadap rupiah berkembang menjadi risiko sistemik yang lebih besar. “Dalam jangka pendek cukup efektif menjaga stabilitas rupiah. Tetapi tekanan eksternal masih besar karena dolar AS menguat, harga minyak tinggi, dan arus modal global keluar dari emerging markets,” katanya.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Padang EkspresIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Sentimen Positif, IHSG Diprediksi Menguat

Sentimen Positif, IHSG Diprediksi Menguat

Tekanan dari pasar global masih menjadi bayang-bayang bagi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)

IHSG Berpeluang Menguat Terbatas

IHSG Berpeluang Menguat Terbatas

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih dibayangi sentimen global pada pekan ini.

IHSG Berpeluang Lanjut Menguat, Ditopang Nilai Tukar Rupiah dan Arus Dana Asing

IHSG Berpeluang Lanjut Menguat, Ditopang Nilai Tukar Rupiah dan Arus Dana Asing

Penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih berlanjut pada pekan ini meski pergerakannya cenderung terbatas. Kombinasi penguatan

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer