Alih-alih bertanggung jawab atas tindakan mereka, individu seperti ini lebih memilih memainkan peran korban untuk menghindari konsekuensi.
Psikolog telah mempelajari perilaku ini dan mengidentifikasi pola tertentu yang sering mereka tunjukkan.
Berikut adalah 7 perilaku yang biasa ditampilkan oleh orang yang bertindak seperti korban meskipun sebenarnya bersalah seperti yang dikutip dari laman Personal Branding Blog pada Jumat (17/1/2025).
1. Mengalihkan Kesalahan ke Orang Lain
Orang yang berperan sebagai korban jarang mengakui kesalahannya. Mereka selalu memiliki pihak lain untuk disalahkan, entah itu teman, keluarga, atau bahkan situasi di luar kendali mereka.
Misalnya, jika mereka gagal memenuhi tenggat waktu, mereka akan menyalahkan lingkungan kerja yang "tidak mendukung."
2. Membesar-besarkan Penderitaan
Mereka sering menggambarkan masalah kecil sebagai krisis besar. Kritik ringan bisa berubah menjadi narasi tentang ketidakadilan atau "perlakuan buruk" yang mereka alami.
Hal ini bertujuan untuk mendapatkan simpati dan mengalihkan perhatian dari kesalahan yang sebenarnya.
3. Menggunakan Manipulasi Emosional
Pemain peran korban pandai memanfaatkan rasa bersalah orang lain. Saat kamu mencoba mengonfrontasi mereka, mereka mungkin balik menyalahkanmu karena dianggap tidak pengertian atau terlalu keras. Dengan cara ini, mereka menghindari kritik sambil mendapatkan empati.
4. Mengontrol Narasi
Mereka sering mengatur cerita agar terlihat sebagai pihak yang menderita atau dianiaya. Dalam narasi mereka, orang lain selalu salah, dan mereka hanya "korban keadaan."
5. Menghindari Akuntabilitas
Mengambil tanggung jawab adalah hal yang jarang mereka lakukan. Mereka lebih suka memberikan alasan atau menunda-nunda dengan harapan masalah akan terlupakan.
6. Mencari Validasi dari Orang Lain
Mereka sering mengelilingi diri dengan orang-orang yang mau membenarkan perilaku mereka. Validasi ini memberi mereka rasa nyaman sementara, tetapi tidak membantu memperbaiki masalah yang mendasar.
7. Mengulangi Pola yang Sama
Meski sering menghadapi konflik, mereka jarang belajar dari pengalaman. Pola menyalahkan, memanipulasi, dan menghindari tanggung jawab terus berulang, membuat hubungan mereka dengan orang lain semakin rusak.
Berhadapan dengan orang seperti ini bisa melelahkan secara emosional. Penting untuk diingat bahwa perubahan hanya bisa terjadi jika mereka mau mengakui dan memperbaiki perilakunya.
Dalam situasi ini, fokuslah pada kesejahteraanmu sendiri dan jangan ragu untuk menetapkan batasan yang sehat. (*)
Editor : Hendra Efison