Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Momen Langka Purnama Bulan Merah, Ini Fakta dan Mitosnya

M Algredi • Rabu, 12 Maret 2025 | 14:28 WIB

Ilustrasi purnama bulan merah   (foto:pinterest/marietta)
Ilustrasi purnama bulan merah (foto:pinterest/marietta)
PADEK.JAWAPOS.COM—Purnama bulan merah, atau yang dikenal sebagai Blood Moon, akan terjadi pada 13-14 Maret 2025. Fenomena ini bertepatan dengan gerhana bulan total, di mana bulan akan tampak berwarna merah selama sekitar 65 menit. Bayangan bumi sepenuhnya menutupi bulan.

Gerhana bulan total ini akan berlangsung selama sekitar satu jam, dengan fase totalitas yang memberikan warna merah pada bulan.

Blood Moon pada 14 Maret 2025 dapat dilihat di Amerika Utara, Amerika Selatan, Eropa, Afrika, dan sebagian wilayah Oseania. Sayangnya, fenomena ini tidak dapat disaksikan dari Indonesia.

Blood Moon yang terjadi di bulan Maret juga disebut Worm Moon berdasarkan tradisi penduduk asli Amerika dan Eropa.

Purnama bulan merah, atau yang sering disebut Blood Moon, memiliki berbagai mitos dan kepercayaan di berbagai budaya di seluruh dunia. Fenomena ini, dengan warnanya yang mencolok dan tidak biasa, sering kali dikaitkan dengan cerita mistis, kepercayaan spiritual, atau tanda-tanda perubahan besar.

Berikut beberapa mitos dan kepercayaan menarik dari berbagai budaya.

Dalam banyak budaya kuno, Blood Moon dianggap sebagai pertanda buruk atau malapetaka. Warna merahnya sering dihubungkan dengan perang, kematian, atau bencana alam.

Dalam tradisi Norse, gerhana bulan merah dipercaya sebagai hasil dari serigala mitologis bernama “Hati” yang mencoba menelan bulan.

Suku Maya dan Aztek percaya bahwa Blood Moon adalah hasil dari pertempuran antara para dewa. Mereka menganggap bahwa roh jahat atau iblis sedang berusaha menyerang bulan, sehingga manusia harus berteriak dan membuat suara keras untuk menakut-nakuti roh jahat tersebut.

Dalam beberapa tradisi spiritual, Blood Moon dianggap sebagai waktu energi tinggi, di mana manusia perlu melakukan introspeksi dan penyelarasan spiritual. Para praktisi percaya bahwa Blood Moon membawa peluang untuk "melepaskan masa lalu" dan memulai babak baru.

Banyak budaya melakukan ritual selama Blood Moon, seperti meditasi, doa, atau bahkan sembahyang kepada penguasa alam.

Fakta tentang Purnama Bulan Merah (Blood Moon)

Blood Moon terjadi selama gerhana bulan total, saat Matahari, Bumi, dan Bulan sejajar sempurna. Dalam posisi ini, Bulan masuk ke dalam bayangan gelap Bumi (umbra), yang menyebabkan warna merah atau oranye pada permukaannya.

Warna merah disebabkan oleh hamburan Rayleigh di atmosfer bumi, di mana cahaya biru dan hijau diserap, sementara cahaya merah diteruskan ke bulan.

Fenomena ini dapat dilihat dengan mata telanjang dan menjadi salah satu momen paling dinanti dalam astronomi. Keindahannya begitu universal hingga menarik perhatian para ilmuwan, pecinta astronomi, dan masyarakat umum.

Dampak Purnama Bulan Merah

Seperti purnama lainnya, Blood Moon memengaruhi pasang-surut laut. Fenomena ini dapat menyebabkan pasang tertinggi, yang disebut pasang perigean atau "super pasang". Satwa liar, seperti burung dan serangga, sering mengalami perubahan perilaku selama purnama karena perubahan cahaya malam.

Beberapa orang mengklaim bahwa Blood Moon memengaruhi suasana hati atau pola tidur, meskipun tidak ada bukti ilmiah yang mendukung hal tersebut. Dalam beberapa tradisi spiritual, Blood Moon dianggap sebagai waktu yang penuh energi, sehingga digunakan untuk meditasi atau ritual.

Purnama bulan merah tidak hanya memukau secara visual, tetapi juga memiliki dampak ilmiah, kultural, dan spiritual yang mendalam di berbagai penjuru dunia.

Gerhana bulan total berikutnya akan terjadi pada 7-8 September 2025, tetapi akan terlihat terutama di seluruh Afrika, Eropa, Asia, dan Australia. Pengamat astronomi di Amerika harus menunggu hingga 3 Maret 2026 untuk gerhana bulan total berikutnya.

Blood Moon hanyalah fenomena optik yang terjadi akibat gerhana bulan total. Namun, keindahan dan misterinya tetap membuat banyak orang memandangnya dengan penuh rasa kagum dan rasa hormat terhadap alam semesta.(*)

Editor : Hendra Efison
#Bulan purnama #blood moon #gerhana bulan total #Momen Langka Purnama Bulan