Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Mengenal Lebih Dekat Perkumpulan Keluarga Muhammadan, Menjaga Tradisi India di Tengah Masyarakat Minang di Kota Padang

Shyntia Aprizani • Minggu, 13 April 2025 | 12:14 WIB

Tradisi Serak Gulo berasal dari Kota Madras, India Selatan. Tradisi ini terus dijaga oleh PKM agar tidak hilang ditelan waktu.
Tradisi Serak Gulo berasal dari Kota Madras, India Selatan. Tradisi ini terus dijaga oleh PKM agar tidak hilang ditelan waktu.
PADEK.JAWAPOS.COM–Di tengah gemuruh lalu lintas dan hiruk-pikuk Kota Padang, berdiri teguh sebuah komunitas yang tak banyak dikenal, namun kaya akan warisan budaya: Perkumpulan Keluarga Muhammadan atau disingkat PKM.

Komunitas ini terdiri dari warga keturunan India yang telah menetap selama beberapa generasi di ibu kota Provinsi Sumatera Barat.

Meski telah lama hidup berdampingan dengan masyarakat Minang, identitas dan akar budaya India masih begitu kental terasa dalam kehidupan sehari-hari para anggota PKM.

Dengan wajah khas Asia Selatan dan tradisi yang tetap dijaga, mereka menjadi contoh nyata harmoni dalam keberagaman.

“PKM bukan sekadar kumpul keluarga biasa. Kami aktif dalam banyak kegiatan, dan yang paling terasa adalah semangat kebersamaan dan gotong royong,” ujar Fauzan, salah satu anggota PKM.

Kekompakan komunitas ini tak hanya tampak dalam keseharian, tetapi juga dalam kegiatan olahraga seperti turnamen Barkat Cup 2023 yang berlangsung meriah di G Sport Center, Padang.

Ajang futsal tahunan ini bukan semata ajang adu keterampilan, melainkan juga momen untuk mempererat ikatan antargenerasi dalam komunitas.

Tak hanya di lapangan olahraga, PKM juga dikenal dengan pelestarian tradisi budaya yang telah turun-temurun.

Salah satu warisan budaya yang menjadi ikon mereka adalah Serak Gulo, sebuah ritual tahunan yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.

Dalam perayaan Serak Gulo, anggota komunitas melemparkan permen dan gula dari atap masjid kepada warga yang berkumpul di bawah.

Tradisi ini bukan sekadar hiburan, melainkan wujud syukur atas rezeki yang diterima selama setahun penuh.

Gula-gula yang ditebar melambangkan keberkahan yang dibagikan kepada sesama, sebagai simbol bahwa kebahagiaan menjadi lebih berarti saat dibagi.

Diyakini, tradisi ini berasal dari Kota Madras, India Selatan, dan dibawa oleh seorang wali bernama Sahud Hamid. Dari generasi ke generasi, tradisi ini menyebar ke berbagai wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dan tetap terjaga dengan khidmat di Padang oleh keturunan beliau.

Kendati berasal dari India, anggota PKM telah melebur dalam kehidupan masyarakat Minang. Mereka hidup berdampingan secara damai, menjaga nilai-nilai budaya tanpa kehilangan jati diri.

Cinta mereka pada Kota Padang tak terbantahkan—mereka bukan lagi sekadar pendatang, melainkan bagian tak terpisahkan dari denyut nadi kota ini.

Tak berhenti di budaya dan olahraga, PKM juga aktif dalam kegiatan sosial, pendidikan, hingga keagamaan. Hubungan baik mereka dengan warga sekitar menjadi bukti bahwa merawat identitas budaya bukan berarti membangun tembok, melainkan jembatan yang memperkaya kehidupan bersama.

Komunitas Perkumpulan Keluarga Muhammadan menjadi potret hidup keberagaman yang harmonis—bahwa tradisi leluhur bisa tetap terjaga tanpa mengucilkan diri dari lingkungan sekitar. Sebuah pelajaran diam-diam dari Kota Padang tentang bagaimana budaya bisa menyatu, berdampingan, dan menguatkan.(shy)

Editor : Hendra Efison
#Perkumpulan Keluarga Muhammadan #Mengenal Lebih Dekat #Menjaga Tradisi India di Tengah Masyarakat