Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Nasrul, Pedagang Satu Tangan di Padang yang Tak Pernah Menyerah pada Hidup

Fadli Zikri • Rabu, 5 November 2025 | 20:55 WIB

Nasrul, pedagang disabilitas di Padang, tetap berjuang setiap hari dengan satu tangan demi keluarganya, membuktikan semangat tak kenal batas. (Foto: Fadli Zikri/Padeks)
Nasrul, pedagang disabilitas di Padang, tetap berjuang setiap hari dengan satu tangan demi keluarganya, membuktikan semangat tak kenal batas. (Foto: Fadli Zikri/Padeks)
PADEK.JAWAPOS.COM—Di kawasan Rajo Corner GOR Haji Agus Salim, Kota Padang, tampak seorang pria sibuk menata dagangannya di atas mobil pikap tua.

Ia adalah Nasrul (43), pedagang kaki lima penyandang disabilitas yang tak pernah membiarkan keterbatasan menghalangi langkahnya.

Setiap pagi, Nasrul menyiapkan lapak jualannya dengan penuh semangat.

Dengan tangan kirinya, ia merapikan bungkus makanan ringan, menyiapkan botol minuman, dan menghitung uang pelanggan tanpa sedikit pun terlihat canggung.

“Kalau saya tidak kerja, siapa lagi yang akan menafkahi anak istri saya? Anak pertama saya sudah SMA, jadi harus tetap semangat,” ujarnya, Rabu (5/11/2025).

Nasrul lahir dengan kondisi tangan kanan yang cacat sejak kecil. Namun semangatnya untuk mandiri sudah tumbuh sejak lama.

Sepuluh tahun terakhir, ia menekuni usaha berjualan jajanan ringan dan minuman di pinggir jalan.

Tempatnya kini adalah lokasi ketiga setelah dua tempat sebelumnya tak lagi bisa dipakai.

“Kadang orang memandang sebelah mata. Tapi saya bisa kok mengendarai mobil dan motor. Hanya tangan kanan yang tidak berfungsi, tapi yang kiri ini masih kuat,” katanya tersenyum.

Ia berjualan dari pagi hingga malam. Penghasilannya tidak selalu stabil, rata-rata Rp200 ribu per hari, tapi ia mengaku cukup bersyukur.

“Yang penting kebutuhan rumah tangga tercukupi. Saya tidak kaya, tapi anak-anak bisa sekolah,” ujarnya.

Di rumah, ia tinggal bersama istri dan tiga anak. Istrinya turut membantu dengan berjualan es teh hijau di sekitar area GOR.

Baca Juga: Latihan Evakuasi Ajarkan Siswa Padang Selamatkan Diri Tanpa Tunggu Orang Tua

“Kalau mengandalkan jualan saya saja tentu tidak cukup. Tapi kami jalani saja dengan sabar, yang penting halal,” katanya lagi.

Bagi Nasrul, panas terik atau hujan deras bukan alasan untuk berhenti. Saat hujan turun, ia menutup lapaknya dengan plastik seadanya.

“Kalau saya tutup, pelanggan kecewa. Mereka sudah biasa beli di sini,” katanya sambil tertawa kecil.

Adha (22), salah satu pelanggan setia, mengatakan, “Setiap sore saya jogging di sini. Biasanya saya beli air mineral di lapak Pak Nasrul sebelum pulang. Orangnya ramah dan jujur.”

Meski hidupnya sederhana, Nasrul menyimpan cita-cita besar: memiliki tempat berjualan tetap dan layak.

“Mobil ini sudah tua, banyak bagian yang karatan. Saya ingin punya tempat lebih nyaman supaya bisa terus berdagang,” ungkapnya.

Selain berdagang, ia sering memberi nasihat pada anak muda di sekitar tempat jualannya.

“Kalau saya yang cuma punya satu tangan bisa kerja, kalian yang lengkap harusnya bisa lebih semangat. Hidup itu bukan soal kekurangan, tapi soal kemauan,” katanya mantap.

Bagi Nasrul, keterbatasan bukan penghalang, melainkan tantangan untuk terus mencoba.

“Yang penting berani dulu. Kalau tidak berani, ya akan terus jadi orang lemah,” ujarnya penuh keyakinan.

Kini, sosok Nasrul dikenal bukan karena kekurangannya, tetapi karena keteguhan dan kemandiriannya. Ia menjadi pengingat bahwa dalam hidup, kesungguhan dan rasa syukur jauh lebih kuat dari sekadar kesempurnaan fisik.

“Harapan saya cuma satu, ingin melihat anak-anak saya sukses, bisa sekolah tinggi sampai kuliah,” katanya menutup percakapan dengan senyum penuh harapan.(CR6)

Editor : Hendra Efison
#kisah inspiratif Padang #perjuangan hidup penyandang disabilitas #pedagang disabilitas Padang #Nasrul GOR Agus Salim