Ajang ini merupakan bagian dari rangkaian Sawahlunto International Music Festival (SIMFes) yang berlangsung hingga 8 November.
Prestasi tersebut diraih oleh Rizka Afriyuni, desainer muda asal Pariaman, lewat karya berjudul “Desain Less But Enough” (Kurang Tapi Cukup).
Karya ini menampilkan motif Kelapa, simbol keseimbangan dan kemandirian masyarakat pesisir, yang dipadukan dengan desain minimalis elegan.
Busana tersebut merupakan kolaborasi antara Batik Sampan Pesona Minang dan Melan Craft, dua pelaku ekonomi kreatif asal Pariaman yang menggabungkan tekstil tradisional dengan tas etnik berbahan lokal.
Filosofi Sederhana, Nilai Budaya Mendalam
Desain “Less But Enough” mencerminkan filosofi hidup masyarakat Pariaman—kesederhanaan yang tidak mengurangi nilai estetika dan makna budaya.
Dalam konteks tren global mode berkelanjutan (sustainable fashion), desain ini menonjol karena menekankan pada produksi etis, motif alami, dan pemanfaatan bahan ramah lingkungan.
“Batik ini bukan hanya karya visual, tapi juga refleksi karakter masyarakat pesisir yang tangguh, bersahaja, dan menghargai alam,” ujar Ny. Dina Mulyadi, Wakil Ketua Umum I Dekranasda Kota Pariaman, yang hadir mewakili Ketua Dekranasda.
Dina menambahkan bahwa pencapaian ini merupakan bukti bahwa pelaku kriya muda di Pariaman mampu bersaing dengan kota-kota besar di Sumatera Barat.
“Kami bangga karya anak Pariaman kembali mendapat pengakuan. Ini menjadi motivasi bagi generasi kreatif lokal untuk terus berinovasi,” katanya.
Batik Sumbar di Panggung Nasional dan Global
Ketua Dekranasda Kota Sawahlunto, Ny. Yori Riyanda, turut memberikan apresiasi kepada perwakilan Pariaman.
Ia menilai karya Rizka menunjukkan kualitas batik Sumbar yang semakin kompetitif di tingkat nasional dan bahkan memiliki potensi ekspor.
“Selamat kepada Dekranasda Kota Pariaman atas prestasi luar biasa ini. Karya ini membuktikan bahwa batik Sumatera Barat tidak kalah dengan daerah lain dan siap bersaing di pasar internasional,” ujar Yori.
Menurut data Kementerian Perindustrian, nilai ekspor batik nasional pada 2024 mencapai lebih dari US$ 63 juta, dengan pertumbuhan signifikan di segmen fashion etnik modern.
Tren ini membuka peluang besar bagi batik daerah, termasuk Pariaman, untuk memperluas jaringan ke pasar global.
Dari Lomba ke Ekosistem Kreatif Daerah
Selain meraih juara, partisipasi Dekranasda Pariaman di Festival Batik Sumbar 2025 juga menjadi ajang promosi produk lokal.
Usai peragaan busana, Ny. Yori Riyanda berkesempatan mengunjungi stand Dekranasda Pariaman yang menampilkan ragam produk unggulan—mulai dari batik pesisir, anyaman pandan, hingga aksesori berbahan kulit kerang dan bambu.
Pemerintah daerah menilai kegiatan ini sebagai sarana penting dalam memperkuat ekosistem ekonomi kreatif berbasis budaya.
Ke depan, Dekranasda Pariaman berencana memperluas kolaborasi lintas daerah untuk mengembangkan motif-motif baru dan memperkenalkan identitas batik pesisir sebagai ciri khas Sumatera Barat.
“Keberhasilan ini bukan akhir, melainkan awal dari gerakan kreatif yang lebih luas. Kami ingin batik Pariaman menjadi simbol budaya sekaligus sumber kesejahteraan,” ujar Dina Mulyadi.
Inovasi Lokal untuk Panggung Global
Kemenangan Rizka Afriyuni di Festival Batik Sumbar 2025 memperkuat posisi Pariaman sebagai salah satu pusat kreativitas tekstil di Sumatera Barat.
Dengan kolaborasi antara desainer muda, pelaku UMKM, dan Dekranasda, batik pesisir kini tak hanya dilihat sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai bagian dari industri mode berkelanjutan Indonesia.
Melalui pendekatan desain minimalis dan filosofi lokal, “Less But Enough” menjadi representasi gagasan baru dalam dunia batik: bahwa kesederhanaan bisa menjadi kemewahan baru.(*)
Editor : Hendra Efison