Kondisi tersebut disampaikan pendiri Balabo, Nico Septria (35), di tengah minimnya wadah berkesenian bagi pelaku seni lokal.
Balabo berdiri sejak 2015 dan menjadi ruang berkumpul serta berproses bagi pegiat musik dan seni di Solok Selatan.
Nico menyebut komunitas ini dibangun sebagai upaya menjaga keberlanjutan ekspresi seni dan identitas budaya daerah.
Menurut Nico, keberadaan seniman memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan daya tarik kultural suatu wilayah.
Namun, ia menilai saat ini pelaku seni masih menghadapi keterbatasan fasilitas untuk berkegiatan.
“Daerah membutuhkan pelaku seni yang aktif. Namun, ruang untuk berkarya masih sangat terbatas,” ujar Nico.
Balabo berfokus pada kegiatan edukasi seni yang menyasar generasi muda, khususnya kalangan milenial dan Gen Z.
Komunitas ini berupaya menyediakan ruang ekspresi agar potensi seni lokal dapat berkembang dan dikenal lebih luas.
Dalam aktivitasnya, Balabo rutin menggelar diskusi internal serta kegiatan berbasis masyarakat.
Diskusi karya dilakukan untuk membahas nilai seni agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Meski telah berjalan hampir sembilan tahun, Nico mengungkapkan operasional komunitas masih bergantung pada iuran mandiri anggota.
Baca Juga: PLN UID Sumbar Kirim 41 Personel Percepat Pemulihan Listrik di Aceh
Hingga kini, Balabo belum mendapatkan dukungan fasilitas maupun pendanaan tetap.
Keterbatasan tersebut diakui menjadi tantangan utama dalam menjaga keberlangsungan komunitas.
Meski demikian, Balabo sempat menghasilkan dua karya kolaborasi bertema Solok Selatan yang digarap oleh pelaku seni lokal.
Nico berharap ke depan tersedia dukungan berupa penyediaan ruang berkegiatan atau skema pendanaan bagi komunitas seni.
Menurutnya, hal tersebut diperlukan agar aktivitas kreatif di daerah tetap berjalan dan berkelanjutan.(CR2)
Editor : Hendra Efison