Setiawan (37), seorang warga Padang, mengaku menjadi tulang punggung keluarga besar. Penghasilannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga inti, orang tua yang tidak lagi bekerja, serta biaya pendidikan dua adiknya yang masih sekolah dan kuliah.
Ia menyebut kondisi tersebut dijalani sebagai bentuk tanggung jawab keluarga, meski berdampak pada tekanan fisik dan mental.
“Saya tidak menyesal berada di posisi ini. Menafkahi anak dan merawat orang tua adalah tanggung jawab saya sebagai kepala keluarga,” ujarnya.
Namun, ia mengakui tekanan finansial kerap muncul karena kebutuhan keluarga besar yang datang berulang kali, sehingga menyulitkan upaya menabung untuk masa depan.
“Kondisi ini sering memberatkan secara mental dan finansial. Ada kalanya rasa lelah itu muncul karena tuntutan yang tidak pernah berhenti,” katanya.
Pengalaman tersebut mendorongnya menaruh perhatian serius pada perencanaan keluarga sejak dini, khususnya dalam mempersiapkan kebutuhan anak.
“Perencanaan saat memutuskan memiliki anak sangat penting. Semua kebutuhan harus diperhitungkan agar tidak menjadi beban di kemudian hari,” jelasnya.
Ia juga mulai memprioritaskan investasi dana pensiun sebagai langkah memutus rantai generasi sandwich di masa depan.
“Saya ingin menyiapkan dana hari tua agar tidak membebani anak-anak saya nanti. Mereka harus bisa fokus mengejar cita-citanya,” tuturnya.
Fenomena generasi sandwich dinilai semakin relevan di kawasan perkotaan, seiring meningkatnya biaya hidup dan kebutuhan lintas generasi dalam satu keluarga. (cr3)
Editor : Hendra Efison