Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Pameran Silotigo Hadirkan Isu Banjir Sumatera Barat Lewat KRNT #10 di Padangpariaman

Aris Prima Gunawan • Jumat, 6 Februari 2026 | 10:37 WIB

Pameran Silotigo di KRNT #10 Padangpariaman mengangkat isu banjir Sumatera Barat melalui seni visual berbasis residensi dan partisipasi warga.
Pameran Silotigo di KRNT #10 Padangpariaman mengangkat isu banjir Sumatera Barat melalui seni visual berbasis residensi dan partisipasi warga.
PADEK.JAWAPOS.COM—Pameran kolektif Silotigo menjadi agenda utama Program Ke Rumah Nan Tumpah (KRNT) #10 yang digelar di Ruang Temu Nan Tumpah, Korong Kasai, Kabupaten Padangpariaman, pada 7–14 Februari 2026.

Program ini diselenggarakan oleh Komunitas Seni Nan Tumpah dengan puncak acara berupa pameran bertajuk “Rukun Paksa/Berakit-rakit ke Hulu, Tinggal di Genangan”, yang menandai presentasi tunggal perdana Silotigo.

Pameran tersebut mengangkat realitas banjir yang kerap terjadi di Sumatera Barat dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat, dibaca melalui pendekatan seni visual berbasis pengalaman lapangan.

Residensi Seniman dan Proses Partisipatif

Sejak 2017, KRNT rutin dilaksanakan sebagai ruang dialog antara seniman dan masyarakat. Pada edisi ke-10, program ini menempatkan seni sebagai medium untuk membaca pengalaman sosial warga di wilayah rawan banjir.

Silotigo, yang beranggotakan Imam Teguh Sy, Olimsyaf Putra Asmara, dan Boy Nistil, menjalani residensi selama satu bulan di sekretariat Nan Tumpah.

Selama residensi, para seniman berinteraksi langsung dengan warga, mengumpulkan limbah di sekitar lokasi, dan memproduksi karya menggunakan material sisa sebagai medium utama.

Kurator pameran, Mahatma Muhammad, menyatakan tema pameran lahir dari kondisi ekologis Sumatera Barat.

“Banjir yang merendam kawasan ini tidak hanya menghanyutkan benda, tetapi juga mencatat dampak alih fungsi lahan dan tata ruang,” ujar Mahatma, Kamis (5/2).

Rangkaian Kegiatan dan Dukungan Warga

Boy Nistil menjelaskan penggunaan limbah bertujuan memberi nilai baru pada material yang sebelumnya dianggap tidak berguna, sekaligus merekam jejak konsumsi manusia.

Selama tujuh hari pameran, Silotigo juga menggelar live painting di halaman Ruang Temu Nan Tumpah serta memproduksi sampul visual lagu “Kelana” sebagai bagian dari KRNT #10.

Baca Juga: Fadly Amran Tegaskan Transparansi Pengadaan Barang dan Realisasikan Kampung Nelayan di Padang

Kegiatan ini mendapat dukungan warga setempat. Ketua RT 4 Korong Kasai, Anton, menyampaikan bahwa kegiatan seni tersebut diterima baik oleh masyarakat.

Selain pameran Silotigo, KRNT #10 juga menampilkan Zona (Ny)Aman Seni hasil program Kelana Akhir Pekan yang melibatkan 56 anak dalam kelas seni selama satu semester.

Karya peserta dipamerkan dan dipentaskan, termasuk peluncuran buku fiksi siswa. Sejumlah komunitas turut terlibat, di antaranya Bandar Kertas Buram, Sanggar Museum Parang Sintuak, dan Komunitas Laguna Nusantara.

Rangkaian kegiatan mencakup tur pameran, pelatihan kriya berbahan limbah, peluncuran lagu, serta pemutaran film sebagai bagian dari agenda KRNT #10. (apg)

Editor : Hendra Efison
#KRNT 10 #seni lingkungan #pameran Silotigo #banjir Sumatera Barat