Selain karir politik, Irsyad juga dikenal sebagai da’i yang berprestasi. Ia sering mengisi ceramah dan kajian ke seluruh wilayah Sumbar dengan menyebarkan nilai-nilai agama dan moral kepada masyarakat.
Melalui keterangan di ruangan kerjanya kepada Padang Ekspres beberapa waktu lalu, ia mengungkapkan bahwa ia lahir dari pasangan H Syafar Buan dan Hj Darnis Abdullah yang sejak kecil, keluarganya selalu menanamkan nilai agama dan moral.
Sehingga sosok Irsyad kecil, sudah bisa mencuri perhatian karena sejak SD di SD Negeri 1 Koto Nan Ampek hingga ke Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) di Koto Baru dirinya tak lepas dari juara 1 dan juara umum di sekolah.
Setelah menamatkan pendidikan menengahnya, Irsyad melanjutkan perjalanan akademisnya ke Jakarta, di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) hingga ia berhasil mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi di Kuwait.
Di negeri yang kaya akan tradisi akademis ini, Irsyad berhasil meraih gelar dengan predikat Summa Cum Laude, sebuah prestasi langka yang mencerminkan kerja keras dan komitmennya terhadap ilmu, dengan IPK 3,82.
Kesuksesan di Kuwait membuka jalan bagi Irsyad untuk melanjutkan pendidikan S2 di Cairo University. Di Kairo, ia kembali membuktikan kemampuannya, lulus dengan predikat Cum Laude pada tahun 2003. Prestasi-prestasi ini bukan hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga membanggakan orang tua dan masyarakat yang menyaksikan perjalanan hidupnya.
Kini, sebagai Anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat dan kader Partai Keadilan Sejahtera, Irsyad Syafar tidak hanya meneruskan tradisi pendidikan yang telah ditanamkan oleh keluarganya, tetapi juga berkontribusi secara nyata untuk masyarakat. Ia mengintegrasikan ilmu yang didapatnya dengan pengalaman di dunia politik, serta menjadi salah satu pendiri sekolah Ar Risalah yang saat ini masih berdiri kokoh di Kota Padang.
Pada tahun 2003, ia kembali ke tanah air dengan tekad bulat untuk memajukan Sumatera Barat. Keputusan ini bukanlah hal yang mudah, namun semangatnya untuk berkontribusi bagi daerahnya mengalahkan segala keraguan. Setibanya di Indonesia, ia langsung terlibat dalam dunia politik dengan ditunjuk sebagai pengurus di Dewan Pimpinan Wilayah Partai Keadilan Sejahtera (DPW PKS). Meski mendapat tawaran untuk maju sebagai calon, ia memilih menolak demi fokus pada pendirian Sekolah Ar Risalah yang sedang dirintis.
Pada tahun 2005, perjalanan kariernya semakin menanjak saat ia ditunjuk sebagai Ketua Dewan Syura Wilayah PKS di Limapuluh Kota. Dalam peran ini, ia bertanggung jawab untuk memonitor kinerja anggota dan memastikan kepatuhan terhadap aturan yang ada.
Ia mengingat kembali pengalaman yang menggugah saat harus mencopot seorang anggota dewan di Agam karena pelanggaran yang jelas. Tindakan tersebut menunjukkan komitmennya untuk menjaga integritas dan disiplin dalam organisasi.
Meskipun ditawari kembali untuk maju sebagai calon pada tahun 2009, ia tetap menolak, merasa bahwa tanggung jawabnya di sekolah masih belum sepenuhnya selesai. Namun, pada tahun 2014, situasi berubah ketika kursi perwakilan PKS di Payakumbuh kosong setelah Muslim M Yatim memilih pindah. Dalam keadaan yang mendesak, ia akhirnya maju sebagai calon, meskipun awalnya enggan.
Baca Juga: Ahmad Riza Patria, Wamendes PDT Keturunan Banjar-Minang: Momen Tepat agar Jorong Diakui sebagai Desa
Kemenangan yang diraihnya di luar dugaan. Berkat keterlibatannya dalam masyarakat melalui ceramah-ceramah di masjid, ia berhasil meraih kepercayaan warga Payakumbuh. Dalam pemilihan pertama, ia memperoleh sekitar 8.000 suara, yang meningkat menjadi 18.000 suara di periode kedua. Di periode ketiga, ia mencetak rekor dengan suara tertinggi di lima kecamatan, menandakan dukungan yang terus berkembang dari masyarakat.
Perjalanan hidupnya adalah cerminan dari dedikasi dan komitmen untuk melayani. Dengan setiap langkah, ia tak hanya berusaha memajukan daerahnya, tetapi juga membangun hubungan yang kuat dengan komunitas. Melalui kerja keras dan ketekunannya, ia telah menciptakan jejak yang tidak hanya menginspirasi, tetapi juga membawa perubahan nyata bagi Sumatera Barat.
Sumatera Barat dianugerahi kelebihan alam yang melimpah, namun di sisi lain, daerah ini kurang didukung oleh keberadaan perusahaan besar. Sebanyak 60 persen masyarakat Sumbar adalah petani, sehingga fokus utama pembangunan harus ditujukan pada sektor pertanian dan peternakan. Dengan sumber daya yang ada, pengembangan pertanian menjadi krusial, apalagi mengingat kondisi petani di Sumbar yang umumnya bergantung pada irigasi tadah hujan.
Dalam setiap reses, ia aktif turun ke lapangan untuk menyerap aspirasi masyarakat. Salah satu upaya yang dilakukan adalah memperlancar saluran irigasi guna membantu petani. Selain itu, ia berharap pemerintah dapat mencetak sawah-sawah baru untuk meningkatkan hasil pertanian. Namun, tantangan lain yang dihadapi adalah sektor pendidikan, di mana banyak generasi muda memilih untuk melanjutkan studi ke Jawa dan enggan kembali ke kampung halaman untuk berkontribusi membangun daerah.
Kondisi ini menunjukkan bahwa peluang kerja di Sumbar masih terbatas, sehingga banyak yang merasa tidak ada harapan untuk berkarier di daerah mereka. Dengan hanya satu pelabuhan untuk mengakses perdagangan laut yang luas, potensi ekonomi Sumbar belum sepenuhnya tergali. Ia berharap pemerintah dan semua pemangku kepentingan bersinergi untuk membangun wilayah ini, serta mengajak masyarakat yang menempuh pendidikan di luar untuk kembali dan berkontribusi dalam pembangunan Sumatera Barat yang tercinta. (shy)
Editor : Hendra Efison