PADEK.JAWAPOS.COM — Suara pahat yang dulu nyaris tak pernah berhenti kini perlahan menghilang dari sebuah bengkel kecil di kawasan Tansi, Kelurahan Tanahlapang, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat.
Di tempat itu, Esmanto (61) tetap bertahan, meski kini lebih sering menunggu pembeli dibanding menyelesaikan pesanan.
Bengkel miliknya bernama “Cendra Lestari” masih berdiri, dengan debu halus batubara yang setia menempel di sudut ruangan.
Namun, aktivitas di dalamnya tak lagi seramai dulu. Tumpukan pesanan dan tenggat waktu kini hanya tinggal kenangan.
“Sekarang jauh berbeda. Dulu, waktu tambang Ombilin masih beroperasi, orderan datang terus. Sekarang sepi,” ujar Esmanto lirih.
Esmanto merupakan generasi ketiga keturunan kuli kontrak tambang pada masa Hindia Belanda.
Sejak 1998, ia menekuni kerajinan batubara secara otodidak, mengolah bongkahan hitam menjadi berbagai karya seperti miniatur alat berat, rumah gadang, hingga patung hewan.
Perubahan besar terjadi setelah aktivitas tambang berhenti. Jika dulu bahan baku bisa diperoleh secara cuma-cuma dari area tambang, kini ia harus membeli batubara seharga Rp170 ribu per karung dengan berat sekitar 30 hingga 40 kilogram. Di sisi lain, permintaan pasar justru terus menurun.
Untuk bertahan, Esmanto mulai menyesuaikan produksi dengan membuat papan nama yang masih memiliki pasar, meski tidak rutin.
Baca Juga: Dana Rehabilitasi Lahan Pertanian Solok Segera Cair, 68 Hektare Sawah Terdampak Banjir Bandang
Produk tersebut dijual dengan harga mulai dari Rp200 ribu hingga Rp2 juta, sementara pesanan khusus dapat mencapai Rp4 juta.
Meski demikian, ia tetap memilih bertahan sebagai perajin batubara. Bagi Esmanto, pekerjaan ini bukan sekadar sumber penghasilan, tetapi juga bagian dari identitas dan warisan sejarah panjang kota tambang Sawahlunto.
Padahal, ia memiliki keterampilan lain seperti membuat perabot dan peralatan dapur dari baja pelat tipis. Namun, kecintaannya terhadap kerajinan batubara membuatnya tetap bertahan di tengah kondisi yang kian sulit.
Kondisi serupa juga dialami perajin lain seperti Supri, Ulik, Sindai, dan Santrik. Mereka merupakan bagian dari ekosistem ekonomi lokal yang selama ini bergantung pada aktivitas tambang Ombilin.
Baca Juga: Kota Padang Jadi Percontohan Digitalisasi Bansos
Kini, ketika denyut tambang berhenti, roda ekonomi para perajin ikut melambat.
“Bukan saya saja. Kami semua merasakan,” kata Esmanto.
Di tengah pahatan yang belum selesai, tersimpan harapan sederhana agar ada perhatian bagi para perajin yang masih bertahan.
Mereka berharap warisan budaya dari kejayaan tambang Ombilin tidak hilang, meski kini dijaga dalam kesunyian.(*)
Editor : Hendra Efison