Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Banjir Sumpurkudus Diduga Akibat Pembalakan Liar

Yulicef Anthony • Senin, 18 November 2024 | 12:30 WIB
PEMBENAHAN: Sejumlah warga Nagari Silantai, Sumpurkudus bahu-membahu membersihkan material berupa potongan kayu-kayu besar yang menutupi puluhan hektare area pesawahan, kemarin.(YULICEF ANTHONY/PADEK)
PEMBENAHAN: Sejumlah warga Nagari Silantai, Sumpurkudus bahu-membahu membersihkan material berupa potongan kayu-kayu besar yang menutupi puluhan hektare area pesawahan, kemarin.(YULICEF ANTHONY/PADEK)

PADEK.JAWAPOS.COM-Banjir bandang yang menghantam enam nagari di Kecamatan Sumpurkudus, Sijunjung, awal pekan lalu, diduga akibat adanya pembalakan liar di kawasan hutan di wilayah itu.

Dugaan ini dilatarbelakangi oleh banyaknya kayu gelondongan berbagai ukuran yang hanyut dibawa galodo ke permukiman warga.

“Kawasan Sumpurkudus selama ini termasuk salah satu daerah strategis penghasil kayu olahan di Kabupaten Sijunjung, dan kayunya ditenggarai diambil dari hutan setempat. Namun dari hasil penjajakan yang pernah dilakukan baru-baru ini, sejumlah pengusaha kayu di kawasan ini mengaku memiliki izin usaha sehingga mereka leluasa membawa kayu olahan ke luar daerah,” kata Ketua LSM KPK Tipikor perwakilan Sijunjung Wahyu Damsi, Minggu (17/11).

Pekan lalu, aku Wahyu, Tim LSM KPK Tipikor sempat menjumpai sebuah truk pengangkut kayu terparkir dan sedang memindahkan muatan ke mobil lainnya di pinggir utama Moaro-Silokek, Jorong Subarangombak, Nagari Muaro.

Ketika ditanya asal kayu olahan tersebut, sopir truk mengaku berasal dari Nagari Manganti, Kecamatan Sumpurkudus.

“Dari laporan masyarakat Sumpurkudus, di sana ada beroperasi sejumlah saumil dan kayu yang diolah berasal dari hutan setempat,” ujar Wahyu.

Di sisi lain, Camat Sumpurkudus Feri Yurnalis mengaku, soal munculnya banjir bandang yang disebut-sebut dipicu oleh kerusakan hutan, pihaknya belum bisa berkomentar karena sejauh ini belum ada pihak/lembaga terkait memberi keterangan tentang hal itu. Namun kalau bersifat dugaan-dugaan, menurutnya sah-sah saja.

“Setahu saya aktivitas utama masyarakat di kawasan Sumpurkudus selama ini adalah bertani menggarap sawah, bahkan tercatat sebagai lumbung pangan Kabupaten Sijunjung. Sebagian lagi juga ada pemanfaatan hasil hutan dari hutan adat, hutan ulayat,” tegasnya.

Ia menambahkan, pihaknya bersama tim terpadu BPBD, Damkar, Polri, TNI, masih fokus melakukan aksi bersih-bersih dan pemulihan keadaan.

Diikuti menyuplai bantuan logistik, bahan makanan, pakaian, air bersih, dan lain sebagainya bersifat mendesak di wilayah terdampak. Terakhir juga masuk bantuan beras sebanyak 2,8 ton dari Pemprov Sumbar.

Terkait adanya indikasi pembalakan hutan di kawasan Sumpurkudus hingga ditenggarai menjadi pemicu datangnya banjir bandang awal pekan lalu, Polres Sijunjung masih melakukan penelusuran, penjajakan, dan menghimpun keterangan dari para warga.

Kapolres Sijunjung AKBP Andre Anas melalui Kasat Reskrim AKP M. Yasin menegaskan, bila benar ada pelaku pembalakan hutan secara illegal, akan ditindak tegas.

“Kita masih menjajaki apakah kayu-kayu yang diolah sebagian masyarakat berasal dari hutan adat, hutan nagari, atau hutan lindung. Kalau ada terbukti dari hutan lindung, kami akan tangkap mereka,” kata M. Yasin.

Polres Sijunjung, lanjutnya, tidak ada kompromi dengan pelaku illegal loging di Sijunjung, termasuk pengangkutan kayu tanpa dokumen yang sah.

Terakhir, satu truk bermuatan kayu olahan diamankan Satreskrim Polres Sijunjung di jalan umum Jorong Tanahbato, Nagari Muaro, Kecamatan Sijunjung pada 22 Agustus lalu.

Saat diberhentikan, pengemudi kendaraan tidak bisa menunjukan surat/dokumen kepemilikan atas kayu yang dibawanya tersebut. Hingga kemudian sopir beserta kendaraannya ditangkap dan dibawa ke Polres Sijunjung.

“Dari kasus ini, diamankan seorang pelaku berinisial RAC, 39, warga Kenagarian Taluak, Kecamatan Lintau Buo, Tanahdatar. Pokoknya tidak ada kompromi dengan illegal loging, setiap ada laporan masuk langsung disikapi,” tegasnya.

Lebih jauh, Padang Ekspres juga berupaya menelusuri dugaan ilegal logging ini ke warga di lokasi bencana. Hanya saja, tidak ada masyarakat mau berkomentar atas dugaan itu.

Mereka menganggap semua yang terjadi adalah sebuah musibah. Termasuk para tokoh masyarakat, pemangku adat, perangkat nagari, enggan mengomentari soal dugaan penebangan kayu hutan tanpa izin di wilayah tersebut.

Diberitakan Padang Ekspres sebelumnya, banjir bandang menghantam sebanyak enam nagari di Kecamatan Sumpurkudus pada Senin (11/11) lalu.

Wilayah terdampak Nagari Manganti, Sumpurkudus, Sumpurkudus Selatan, Sisawah, Unggan, Silantai, dengan kondisi terparah adalah Nagari Unggan dan Silantai.

Dilaporkan satu unit rumah beserta isinya milik warga di Nagari Silantai hilang dibawa arus banjir. Memasuki hari keenam pascabencana, Minggu (17/11), masyarakat masih fokus bersih-bersih rumah, pekarangan, dan lingkungan.

Seiring itu kecemasan tinggi menghantui warga akan datangnya banjir susulan mengingat intensitas hujan masih tinggi. Sabtu (16/11) malam debit air sungai kembali membesar dan meluber akibat turunnya hujan lebat berkepanjangan.

Atas fenomena ini situasi dianggap belum sepenuhnya aman. Terutama waktu malam hari hingga menjelang masuknya waktu subuh menjadi waktu-waktu krusial. (atn)

Editor : Novitri Selvia
#Nagari Manganti #Nagari Muaro #pembalakan liar #Sumpurkudus #kayu gelondongan #banjir bandang #polres sijunjung