Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

TBS Bertahan Rp 3.300 Sekilo di Sijunjung

Yulicef Anthony • Rabu, 8 Januari 2025 | 12:00 WIB

STABIL: Harga TBS kelapa sawit terus menguat sejak lima bulan terakhir dan saat ini bertahan di level Rp 3.300 per kilogram di Sijunjung.(YULICEF ANTHONY/PADEK)
STABIL: Harga TBS kelapa sawit terus menguat sejak lima bulan terakhir dan saat ini bertahan di level Rp 3.300 per kilogram di Sijunjung.(YULICEF ANTHONY/PADEK)

PADEK.JAWAPOS.COM-Harga tandan buah segar kelapa sawit (TBS) bertahan di level Rp 3.300 per kilogram di Kabupaten Sijunjung. Kondisi ini membuat masyarakat bernapas lega dan kian bersemangat mengelola lahan perkebunan sawit mereka.

Pantauan Padang Ekspres di kawasan Kamangbaru, masyarakat mengaku optimis atas menguatnya harga TBS sejak lima bulan terakhir. Masyarakat kian proaktif melakukan pengelolaan lahan perkebunan garapan mereka.  

Apalagi tanaman kelapa sawit saat ini cukup menjadi primadona bagi masyarakat bagian selatan Sijunjung tersebut. Selain tanaman getah karet yang merupakan komoditi perkebunan alternatif secara turun-temurun. 

Demikian juga di kawasan Tanjunggadang, IV Nagari hingga nagari-nagari di Kecamatan Sijunjung. Pembukaan area perkebunan kelapa sawit terus digalakkan masyarakat karena dinilai strategis untuk jaminan masa depan. 

Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Kabupaten Sijunjung Bagus mengungkapkan, pihaknya terus melakukan pengawasan terhadap harga kelapa sawit supaya berlaku sesuai standar.

Saat ini harga jual TBS di pabrik mencapai Rp 3.300, sementara di tingkat pedagang (tauke) bertengger di kisaran Rp 3.000-3.100 per kilogram.

“Alhamdulilah sekarang sudah agak bergairah, yakni di kisaran Rp 3.000-3.300 per kilogram. Semoga harga tersebut terus bertahan, jika perlu dapat bergerak naik,” ujarnya. 

Disebutkan Bagus, standar harga kelapa sawit berlaku secara nasional, sehingga pihak perusahaan (pabrik pengolahan CPO) tidak semestinya memberlakukan harga secara sepihak.

Sebab itu Asosiasi Petani Kelapa Sawit Sijunjung akan terus mengawal standar harga di tingkat daerah. 

“Biaya pengolahan tanaman sawit itu cukup mahal, mulai dari biaya pupuk, pemeliharaan hingga ongkos panen dan transportasi mengeluarkan biaya besar. Maka itu harga jualnya harus berlaku secara wajar, jangan asal patok saja demi meraup untung besar oleh pihak perusahaan,” tegasnya. 

Sementara, Rinto April, 43, seorang petani kelapa sawit di Nagari Kamang, Kecamatan Kamangbaru, mengaku lega atas bertahannya harga TBS di Sijunjung. Atas fenomena ini Rinto bersama para petani lainnya bersemangat mengelola lahan perkebunan garapan mereka.  

Hasil panen per hektare tiap 20 hari sekali setidaknya mencapai 600 kilogram dengan penghasilan kotor Rp 2 juta. Dikurangi biaya garapan hingga upah panen separuhnya, dapat penghasilan bersih sekitar Rp1,6 juta. Semakin luas lahan garapan maka akan semakin besar pula hasil penen yang didapat.

“Dalam situasi ekonomi sulit seperti sekarang, hasil panen kelapa sawit sangat membantu perekonomian masyarakat,” tukasnya.
Ia berharap pemerintah daerah ikut proaktif mengawal harga TBS di Sijunjung supaya pihak pengusaha tidak seenaknya mematok harga sawit pada petani. (atn)

Editor : Novitri Selvia
#Kamangbaru #Asosiasi Petani Kelapa Sawit Sijunjung #TBS Kelapa Sawit