Pedagang sayur di Pasar Raya Solok, Siti Aminah, menyebut harga cabai merah naik dari Rp30.000 menjadi Rp50.000 per kilogram dalam sebulan.
“Ini karena cuaca buruk di daerah penghasil dan kenaikan harga bahan bakar,” ujarnya.
Harga beras premium juga naik 10–15%, dari Rp14.000 menjadi Rp16.000 per kilogram.
Kenaikan dipengaruhi panen yang kurang optimal akibat perubahan iklim serta gangguan rantai pasok.
Data BPS Sumbar mencatat indeks harga konsumen (IHK) kelompok bahan makanan naik 4,2% pada September 2025 dibandingkan bulan sebelumnya.
Minyak goreng curah ikut naik 20% menjadi Rp20.000 per liter, seiring fluktuasi harga minyak sawit dunia dan kebijakan ekspor.
Warga Solok, Hendri, mengatakan kenaikan harga pangan menekan rumah tangga berpendapatan rendah.
“Dulu belanja harian cukup Rp100.000, sekarang butuh Rp150.000. Ini sangat berat,” ujarnya.
Dinas Perdagangan Kota Solok mengimbau pedagang menjaga stabilitas harga dan stok, namun belum ada kebijakan intervensi besar seperti subsidi tambahan.
Ahli ekonomi Universitas Andalas, Prof. Elfindri, menilai kenaikan harga pangan di Solok merupakan bagian dari tren global.
“Solusi jangka panjang perlu fokus pada diversifikasi produksi lokal dan penguatan rantai pasok,” katanya.
Pasar Raya Solok sebagai pusat perdagangan utama melayani ribuan pembeli setiap hari.
Pemerintah Kota Solok menyatakan pemantauan harga dilakukan secara berkala untuk menjaga stabilitas dan memastikan ketersediaan bahan pokok di awal tahun.(cr8)
Editor : Hendra Efison