Nagari Garabak Data di Kecamatan Tigo Lurah dikenal sebagai nagari “viral” karena belum memiliki jalan aspal, tetapi tetap mempertahankan tradisi Balimau sebagai identitas budaya lokal.
Tokoh masyarakat setempat, H. Mansur Wahid yang akrab disapa BMW (Buya Mansur Wahid), mengatakan Balimau di Garabak Data memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan praktik yang umum dilakukan masyarakat lain.
“Balimau di Garabak Data beda dari yang biasanya dilakukan orang lain, dan ini jadi ciri khas budaya kami,” kata Buya Mansur Wahid.
Ia menjelaskan, Balimau dilaksanakan satu atau dua hari sebelum Ramadhan tanpa acara besar atau kepanitiaan resmi seperti mandi bersama di sungai yang lazim ditemui di sejumlah daerah lain di Sumatera Barat.
Warga yang biasa mandi di sungai tetap pergi mandi pada sore hari, lalu saat kembali ke rumah mereka disapa pemilik rumah dan ditawari air limau untuk diusapkan ke badan.
Di tepian sungai, terdapat aturan pemisahan tempat mandi antara laki-laki dan perempuan.
Sungai yang sering digunakan warga untuk aktivitas sehari-hari adalah Batang Simanag-manang, yang menjadi bagian dari aliran sungai menuju Batang Hari.
Air limau disiapkan dalam wadah kecil seperti baskom, kemudian ditaburi irisan daun pandan, jeruk nipis, dan kadang bunga agar lebih wangi.
“Karena ada irisan limau, maka disebut air limau,” ujar BMW.
Menurutnya, penggunaan limau bukan ritual mistis atau melanggar syariah, melainkan kebiasaan turun-temurun karena pada masa lalu masyarakat belum mengenal sabun dan parfum.
Limau digunakan untuk membersihkan keringat dan minyak yang menimbulkan bau tidak sedap, sementara daun pandan memberi aroma wangi yang berpadu dengan limau.
Setiap rumah menyiapkan air limau dan meletakkannya di depan pagar atau halaman, lalu biasanya wanita tua di rumah tersebut yang berjaga dan menyapa warga yang pulang dari sungai untuk menggunakan air limau itu.
Pemilik rumah merasa bangga jika banyak orang menggunakan air limau yang mereka siapkan, dan tradisi ini terbuka untuk semua usia serta kalangan.
Setelah menggunakan air limau, warga saling meminta maaf dan berbincang tentang silaturahmi sebagai bagian dari persiapan menyambut Ramadhan.
Wali Nagari Garabak Data, Pardinal, menyebut Balimau sebagai budaya lokal yang masih dijaga, bahkan warga yang merantau ke kota di Sumatera Barat, terutama pemuda yang kuliah, kerap pulang kampung untuk mengikuti tradisi tersebut dan berkumpul bersama keluarga.(*)
Editor : Hendra Efison