Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Tanam Cabai Rawit Untungkan Petani

Novitri Selvia • Senin, 29 Agustus 2022 | 11:55 WIB
MENGUNTUNGKAN: Lahan pertanian cabai rawit milik petani di Sangir. Meski harga cabai rawit naik-turun, namun masih menguntungkan petani.(ARDI/PADEK)
MENGUNTUNGKAN: Lahan pertanian cabai rawit milik petani di Sangir. Meski harga cabai rawit naik-turun, namun masih menguntungkan petani.(ARDI/PADEK)
Cabai rawit sudah menjadi pilihan utama masyarakat dalam menggenjot perekonomian keluarga. Di samping perawatan mudah, juga tidak banyak mengeluarkan biaya untuk bercocok tanam.

“Kalau cabai rawit hijau sekilo Rp 35 ribu, dan yang warna putihnya Rp 24 ribu per kilogram. Biasanya capai Rp 75 ribu sekilo. Walau turun tetap untungkan kami sebagai petani, kata Munsiba petani cabai di Sangir, Minggu (28/8).

Dia menyebut harga cabai rawit sejak sebulan terakhir beravariasi. Diakuinya memang terjadi fluaktif atau naik turun harga sejak beberapa bulan terakhir. Juli lalu, cabai rawit petani sempat tembus Rp 75 per kilogram.

Dengan harga tersebut membuat para petani bergairah karena jerih payah bercocok tanam. “Dari Rp 75 ribu sekilo turun jadi Rp 60 ribu, sekarang Rp 35 ribu,” paparnya.

Harga tersebut sebanding dengan mahalnya pupuk untuk kebutuhan bertanam cabai tersebut. Dia mengatakan, ada perbedaan harga sebesar Rp 11 ribu antara rawit warna hijau dengan rawit warna putih.

Kecenderungan rawit hijau rentan mengalami keriting daun, sering layu dan mati. Tapi cabai rawit warna putih masih sedikit tangguh dengan penyakit yang menulari daun atau layu.

“Kalau cabai rawit warna putih hanya dihargai Rp 24 ribu oleh pedagang, namun penyakit hanya dalam bentuk daunnya keriting. Tidak seperti buahnya yang hijau,” bebernya.

Kamra, petani di Lubukgadang Timur menyebut, penyakit lainnya yang menyerang cabai rawit yakni penyakit gorengan, ini sangat sulit diatasi dengan jenis pestisida apapun. Kalau terkena dampak penyakit layu, maka harus segera dicabut dan dibuang agar tidak menular ketanaman lainnya.

“Kalau penyakit layu, umumnya dialami rawit para petani daerah. Mengatasinya, ya dicabut,” ujarnya.

Sebelumnya ia sempat menjual Rp 65 ribu per kilogram dengan hasil panen sekitar 300 kilogram lebih. Sekarang dibeli pedagang Rp 35 ribu sekilo. Walaupun sudah turun tetap masih untungkan petani.

“Kalau di atas Rp 25 ribu sekilo, petani masih untung menanam rawit. Kalau cabai keriting, biaya perawatannya tinggi. Makanya petani banyak bercocok tanam rawit,” paparnya. (tno) Editor : Novitri Selvia
#Lubukgadang Timur #cabai rawit